Hukum Mendoakan Keampunan Bagi Non Muslim

HUKUM MENDOAKAN KEAMPUNAN BAGI NON MUSLIM

Dr. H. Ahmad Zuhri, Lc. MA

Ketua Komisi Fatwa MUI Kota Medan

 

Pertanyaan :

Apa hukumnya mendoakan orang tua, atau keluarga yang beragama non muslim baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat? Wassalam.

Jawab:

Perlu ditentukan batasan doa yang dimaksud, apakah doa kesehatan, keselamatan, dan atau mendapat hidayah. Doa untuk yang dimaksud seperti ini dibolehkan dan bahkan dianjurkan dalam Islam. Nabi pernah mendoakan kaumnya“ Yang Tuhan beri hidayahlah kaumku, karena mereka tidak mengetahui (kebenaran). Akan tetatapi doa untuk keampunan hukumnya adalah haram. Berbakti kepada kedua orang tua merupakan satu amaliah yang diwajibkan oleh Allah swt. Hal ini didasarkan pada sejumlah ayat yang menyandingkan penyebutan nama kedua orang tua dengan penyebutan nama Allah swt., seperti disebutkan dalam firman Allah swt.:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapak mu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Israa` [17]: 23).

Bahkan, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua termasuk amaliah yang paling dicintai Allah swt. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra., dia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: ‘Apakah amal yang paling dicintai Allah?’ Rasulullah menjawab: ‘Shalat pada waktunya.’ ‘Lalu apalagi?’, .Beliau menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua….’ Doa untuk kedua orangtua yang merupakan upaya untuk berbakti kepada keduanya itu tidak hanya harus dilakukan saat mereka masih hidup, tetapi juga ketika mereka sudah meninggal dunia, seperti disabdakan oleh Baginda Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits yang berbunyi:

Seorang lelaki dari Bani Salamah mendatangi nabi, kemudian dia bertanya: ‘Wahai Rasulullah, masih adakah (kewajiban) berbakti kepada ibu-bapak ku setelah kedua nya meninggal?’ Rasulullah menjawab: ‘Ya, (masih ada), (yaitu) menshalatkan keduanya, memohonkan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji mereka berdua setelah keduanya (wafat), menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) yang tidak akan tersambung kecuali melalui keduanya, dan menghormati teman keduanya.’” (HR. Abu Dawud, 4/336 (5142). Tapi perlu diketahui bahwa hal itu boleh dilakukan bila kedua orang tua kita beragama Islam. Tetapi bila ternyata keduanya (atau salah satunya) tidak beragama Islam, maka hukumnya haram. Firman Alah:

Tiadalah sepatut nya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam. (QS. At-Taubah 9: 113)

Memang doa seperti itu pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Dalam surat Maryam ayat 47, disebutkan bahwa beliau pernah memohon kanampunan untuk ayahnya yang masih kafir, namun permohonan ampunan itu tidak lain hanyalah karena suatu janji yang beliau ikrarkan kepada sang ayah dengan harapan agar sang ayah mau meninggalkan penyembahan terhadap berhala. Ketika jelas bahwa sang ayah tetap pada kekafirannya, Nabi Ibrahim pun meninggalkan perbuatan tersebut. Hal ini seperti dijelaskan dalam firman Allah swt.:

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknyai tu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang hamba yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah [9]: 114).

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, jelaslah bahwa memohonkan ampunan untuk orangtua yang non-muslim hukumnya haram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *