Kekuatan Global Banyak Melemahkan Dunia Islam

MUZAKARAH: KapoldasuIrjen Rycko Amelza Dahniel  (dua dari kiri), Ketua MUI Medan Prof HM Hatta dan praktisi hukum Sumut Dr Abdul Hakim Siagian SH MHum, dalam muzakarah digelar MUI Kota Medan, Jumat (30/12).

Kepala Kepolisian Daerah Suma­tera Utara (Kapolda) Sumut, Irjen Rycko Amelza Dahniel menyatakan, ke­kuatan global yang saat ini terjadi banyak me­maksakan program globa­li­sasi ke dunia Islam yang tujuannya se­makin menekan dan melemahkan dunia Islam. Meski jumlah peme­luk yang cukup besar, tapi tidak dibarengi dengan peran yang sig­nifikan dalam menentukan arah pera­daban dunia.

“Ini merupakan tantangan ter­besar umat Islam dalam mewu­judkan  rahmatan lil alamin (rahmat sekalian alam). Dalam konteks kenegaraan, problema­tika umat Islam masih belum mam­pu mewarnai peradaban dan pembangunan. Apalagi umat Islam masih terkotak-kotak, bang­ga ­dengan  golongannya, berpikir sektoral dan bahkan saling me­nghujat sesama umat Islam sen­diri,” ujarnya dalam.

Muzakarah Akbar Akhir Ta­hun yang diselenggarakan Majelis Ulama Indo­nesia (MUI) Medan, Jumat (30/12) siang, di Kantor MUI Jalan Amaliun Medan. Acara juga meng­hadirkan narasumber Ke­tua Umum MUI Medan, Prof M Hatta dan   praktisi hukum Sumut Dr Abdul Hakim Siagian SH MHum.

Dijelaskannya, meski penga­ruh globalisasi sangat besar dise­tiap negara di muka bumi ini, na­mun tantangan terbesar dunia Islam yakni dari dalam Islam sen­diri (internal). Sebab menga­tasai tantangan internal lebih krusial karena seseorang atau kelompok orang akan kalah bukan karena musuh kuat tetapi kalah karena mereka lemah.

Permasalahan umat saat ini, lanjut Rycko, tidak pernah kunjung habis. Pribadi-pribadi muslim itu bak­ buih yang mengambang, tidak jelas arah dan tujuan serta cende­rung mengikuti arus zaman. Fakta yang terjadi membuat kondisi umat semakin terhimpit yakni kelemahan-kelemahan pada indi­vidu muslimnya. Mulai dari per­masalahan aqidah, keimanan, sosial dan kejuan ilmu penge­ta­huan dan teknologi hingga masalah pegerakan dan pengor­ga­nisasian yang trus menerus diserang.

“Muslim di Indonesia hanya­lah muslim keturunan dan tidak me­mahami esensi dari menjadi muslim itu sendiri, sehingga wa­jar jika nantinya banyak ditemu­kan orang-orang yang mengaku muslim tetapi memiliki konsep akidah yang salah,” ucapnya.

Ia juga menilai sistem kuri­ku­lum pendidikan Islam harus mengalami perubahan paradig­ma. Selain itu, tantangan ekster­nal dalam mewu­jud­kam Islam rahmatan lil alamin adalah eko­nomi, pengaruh barat, dan paham merusak seperti teroris­me, radikalisme, dan ektrimis­me.

“Salah satu contoh kita harus mengubah cara pikir tekstual normatif menjadi cara pikir kontekstual dalam memahami ajaran Islam. Untuk itu, diperlu­kan ikhtiar ekstra keras umat Islam dalam menghadapi tan­ta­ngan tersebut,” imbuhnya.

Lemahnya iman

Prof M  Hatta, menga­takan, proble­matika umat Islam terbesar saat ini yakni masih lemahnya iman, lemahnya jari­ngan dakwah antarumat Islam serta potensi keislamanan pada parlemen.

“Memang posisi ulama masih mendapatkan tempat tertinggi di tengah-tengah masyarakat, namun ada kelemahan di berba­gai potensi seperti ada posisi ta­war menawar dalam membuat undang-undang syariah, karena disebabkan lemahnya potensi keislaman pada parlemen. Pada­hal dinyatakan Rasulullah SAW  bahwa Islam mampu membawa peradaban yang tinggi,” ucap­nya.

Untuk ancaman umat Islam secara internal yakni peradaban pada kelom­pok yang muncul pada kekuatan Islam yang anti kemapaman, dan merusak Islam dari dalam dengan berbagai ide yang tidak sesuai nilai Islam.

“Sedangkan ancaman ekster­nal yakni lemahnya teknologi dan ilmu sehingga didominasi asing, contohnya di Palestina. Dominasi ini yang kita khawatir­kan dan merupakan ancaman yang hatus dipa­hami umat Islam,” katanya.

Abdul Hakim Siagian, me­nya­­takan,  dibukanya Masya­ra­kat Ekonomi Asian (MEA) ditambah lagi kemajuan tekno­logi membuat posisi Islam baik lokal, dan secara  global  berubah yakni untuk posisi menengah ke bawah, bodoh dan miskin (dekat dengan kekafiran dan kekufuran) dan posisi menengah ke atas yakni takut mati dan takut miskin. “Itu hambatan internal, seda­ng ham­batan eksternal keben­cian orang non muslim terhadap Islam,” jelasnya.

Untuk itu peran MUI strategis meski banyak yang bersuara minta MUI  dibubarkan. Padahal MUI berfungsi sebagai pewaris tugas-tugas para Nabi, sebagai pemberi fatwa, pembimbing dan pelayan umat serta sebagai pene­gak amar ma’ruf dan nahi mun­kar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *