Manhaj Dakwah “Sebuah Kajian Metodologi”

Prof. Dr. H. Mohd Hatta

Ketua Umum MUI Kota Medan

Islam adalah agama dakwah. Oleh karenanya kegiatan dakwah tidak pernah boleh berhenti dilakukan. Namun dakwah selain harus membuat orang taat kepada Tuhan dan syari’atNya, juga harus mendatangkan kedamaian sebagaimana makna generic Islam tersebut (Salam=aman, sentosa).

Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kenyataan bahwa tata cara memberikan sesuatu lebih penting dari sesuatu yang diberikan itu sendiri. Semangkok teh pahit dan sepotong ubi goreng yang disajikan dengan cara sopan, ramah dan tanpa sikap yang dibuat-buat, akan lebih terasa enak disantap ketimbang seporsi makanan lezat, mewah dan mahal harganya, tetapi disajikan dengan cara kurang simpati, tidak sopan dan menyakitkan hati orang yang menerimanya.

Gambaran di atas membersitkan ungkapan bahwa tata cara atau metode lebih penting dari materi, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan Al-Thariqahah ahammu min al-Maddahh. Ungkapan ini sangat relevan dengan kegiatan dakwah. Betapapun sempurnanya materi, lengkapnya bahan dan aktualnya isu-isu yang disajikan, tetapi bila disampaikan dengan cara yang sembrono, tidak sistematis dan serampangan, akan menimbulkan kesan yang tidak menggembirakan. Tetapi sebaliknya, walaupun materi kurang sempurna, bahan sederhana dan isu-isu yang disampaikan kurang aktual, namun disajikan dengan cara yang menarik dan menggugah, makan akan menimbulkan kesan yang menggembirakan.

Sebagai diketahui aktivis dakwah pada awalnya hanyalah merupakan tugas sederhana yakni kewajiban untuk menyampaikan apa yang diterima dari Rasulullah Saw, walaupun hanya satu ayat. Hal ini dapat dipahami sebagaimana yang ditegaskan oleh hadis Rasulullah Saw: “Ballighu ‘anni walau ayat”. Inilah yang membuat kegiatan atau aktivitas dakwah boleh dan harus dilakukan oleh siapa saja yang mempunyai rasa keterpanggilan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Itu sebabnya aktivitas dakwah memang harus berangkat dari kesadaran pribadi yang dilakukan oleh orang per orang dengan kemampuan minimal dari siapa saja yang dapat melakukan dakwah tersebut.

Kegiatan itulah yang digeluti oleh para da’i dan da’iyah secara tradisional secara lisan, dalam bentuk ceramah dan pengajian. Para juru dakwah ini berpindah dari satu majlis ke majlis lain, dari satu mimbar ke mimbar lain. Bila dipanggil untuk berdakwah, yang terbersit dalam benak adalah ceramah agama. Maka dakwah muncul dengan makna sempit dan terbatas, yakni hanya ceramah melalui mimbar.

Tak pelak lagi perkembangan masyarakat yang semakin meningkat, tuntunan yang sudah semakin beragam, membuat dakwah tidak  bisa lagi dilakukan secara tradisional. Dakwah sekarang sudah berkembang menjadi satu profesi, yang menuntut skill, planning dan manajemen yang handal. Untuk itu diperlukan sekelompok orang yang secara terus-menerus mengkaji, meneliti dan meningkatkan aktivitas dakwah secara profesional tersebut.

Hal inilah yang ditegaskan oleh Allah Swt dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ؕ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

(Dan hendaklah ada diantara kamu, satu golongan yang mengajak (manusia) kepada kebaikan, dan menyuruh mereka melakukan yang baik dan mencegah mereka dari perbuatan munkar dan mereka itulah orang-orang yang berhasil).

Memahami esensi dari makna dakwah itu sendiri, kegiatan dakwah sering dipahami sebagai upaya untuk memberikan solusi Islam terhadap berbagai masalah dalam kehidupan. Masalah kehidupan tersebut mencakup seluruh aspek, seperti aspek ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik, sains, teknologi, dsb.

Untuk itu dakwah haruslah dikemas dengan cara dan metode yang tepat dan pas. Dakwah harus tampil secara aktual, faktual dan kontekstual. Aktual dalam arti memecahkan masalah yang kekinian dan hangan di tengah masyarakat. Faktual dalam arti konkret dan nyata, serta kontekstual dalam arti relevan dan menyangkut problema yang sedang dihadapi oleh masyarakat.

Oleh sebab itu, memilih cara dan metode yang tepat, agar dakwah menjadi aktual, faktual dan kontekstual, menjadi bahagian strategis dari kegiatan dakwah itu sendiri. Tanpa ketepatan metode keakuratan cara, kegiatan dakwah akan terjerumus ke dalam upaya “arang habis besi binasa”. Aktivitas dakwah akan berputar dalam pemecahan problema tanpa solusi dan tidak jelas ujung pangkal penyelesaiannya.

Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kenyataan bahwa tata cara memberikan sesuatu lebih penting dari sesuatu yang diberikan itu sendiri, Semangkok teh pahit dan sepotong ubi goreng yang disajikan dengan cara sopan, ramah dan tanpa sikap yang dibuat-buat akan lebih terasa enak disantap ketimbang seporsi makanan lezat, mewah dan mahal harganya, tetapi disajikan dengan cara kurang simpati, tidak sopan dan menyakitkan hati orang yang menerimanya.

Gambaran di atas membersitkan ungkapan bahwa tata cara atau metode lebih penting dari materi, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan Al-Thariqahahammu min al-Maddahh. Ungkapan ini sangat relevan dengan kegiatan dakwah. Betapapun sempurnanya materi, lengkapnya bahan dan aktualnya isu-isu yang disajikan, tetapi bila disampaikan dengan cara yang sembrono, tidak sistematis dan serampangan, akan menimbulkan kesan yang tidak menggembirakan. Tetapi sebaliknya, walaupun materi kurang sempurna, bahan sederhana dan isu-isu yang disampaikan kurang aktual, namun disajikan dengan cara yang menarik dan menggugah, maka akan menimbulkan kesan yang menggembirakan.

Kata metode terambil dari bahasa Yunani, yakni methodos yang mengandung arti cara atau jalan. Di dalam bahasa inggris kata itu mengandung makna: a way of doing anything.. Regularity and orderliness in action (jalan untuk melakukan sesuatu.. aturan dan ketentuan dalam berbuat). Di dalam bahasa Arab kata metode disebut thariqat dan manhaj, yang juga mengandung arti “cara yang teratur dan berpikir baik-baik untuk maksud (dalam ilmu pengetahuan, dsb); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan”.

Sebagai upaya dalam memberikan solusi Islam terhadap berbagai masalah kehidupan, dakwah dijelaskan dengan berbagai macam definisi. Syekh Al-Bahiy al-Khuli mendefinisikan dakwah dengan “upaya memindahkan situasi manusia kepada situasi yang baik”. Pemindahan situasi ini mengandung makna yang sangat luas, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sebagai disebut di atas. Pemindahan dari situasi kebohohan kepada situasi keilmuan, dari situasi kemiskinan kepada situasi kehidupan yang layak, dari situasi keterbelakangan kepada situasi kemajuan. Dakwah merambah upaya bagaimana menciptakan kehidupan sejahtera, aman dan damai dengan mengembangkan kreativitas individu dan masyarakat. Dengan kata lain dakwah pada hakikatnya adalah proses pemberdayaan.

 

Sementara itu Syekh Ali Mahfudz memberikan definisi tentang dakwah:

حثَّ النَّاسِ عَلَى الْخَيْرِ وَالْهَدْيِ وَاْلاَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ لِيَفُوْزُوْا بِسَعَادَةِ الْعَا جِلِ وَاْلاَجِلِ

(Mengajak manusia kepada kebaikan dan petunjuk, dan menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat munkar untuk mencapai kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat).

Dari ungkapan di atas dapatlah dipahami bahwa dakwah pada hakikatnya adalah segala aktivitas dan kegiatan yang mengajak orang untuk berubah dari satu situasi yang mengandung nilai kehidupan yang bukan Islami kepada nilai kehidupan yang Islami. Aktivitas dan kegiatan tersebut dilakukan dengan mengajak, mendorong, menyeru, tanpa tekanan, paksaan, dan provokasi, dan bukan pula dengan bujukan dan rayuan pemberian sembako, dsb.

Sejalan dengan pengertian dakwah di atas maka metode atau cara yang dilakukan dalam mengajak tersebut haruslah sesuai pula denga materi dan tujuan ke mana ajakan tersebut di ajukan. Pemakaian metode atau cara yang benar merupakan sebahagia dari keberhasilan dari dakwah itu sendiri, sebaliknya, bila metode dan cara yang dipergunakan dalam meyampaikan sesuatu tidak sesuai dan tidak pas, akan mengakibatkan hal yang tidak diharapkan.

Literatur Ilmu Dakwah dalam membicarakan metode dakwah, selalu merujuk firman Allah Swt. Dalam Al-Qur’an surah An-Nahl ayat 125:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ؕ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

(Serulah manusia ke jalan Tuhanmu, dengan cara hikmah, pelajaran yang baik dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk).

Ayat ini menjelaskan, sekurang-kurangnya ada tiga cara atau metode dalam dakwah, yakni metode hikmah, metode mau’izhah dan metode mujadalah. Ketiga metode dapat dipergunakan sesuai dengan objek yang dihadapi oleh seorang da’i atau da’iyah di medan dakwahnya.

Metode bi-al-Hikmah mengandung pengertian yang luas. Kata al-hikmah sendiri di dalam Al-Qur’an dalam berbagai bentuk derivasinya ditemukan sebanyak 208 kali. Secara harfiah kata tersebut mengandung makna kebijaksanaan. Bila dilihat dari sudut pemakaiannya, kata tersebut mengandung arti yang bermacam-macam, seperti:

  1. Kenabian (Nubuwwah).
  2. Pengetahuan tentang Al-Qur’an.
  3. Kebijaksanaan pembicaraan dan perbuatan.
  4. Pengetahuan tentang hakikat kebenaran dan perwujudannya dalam kehidupan.
  5. Ilmu yang bermanfaat, ilmu amaliyah dan aktivitas yang membawa kepada kemaslahatan ummat.
  6. Meletakkan suatu urusan pada tempatnya yang benar.
  7. Mengatahui kebenaran dan beramal dengan kebenaran tersebut, pengetahuan yang lurus dalam pembicaraan dan amal.
  8. Kondisi psikologis seperti ketundukan, kepasrahan dan takut kepada Allah.
  9. Sunnah Nabi.
  10. Posisi wara terhadap agama Allah.
  11. Sikap adil sehingga pemikiran dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Syekh Muhammad Abduh memberikan definisi hikmah tersebut sbb:

فَالْحِكْمَةُ هِيَ الْعِلْمُ الصَّحِيْحُ الْصَّحِيْحُ الْمُحَرِكُ لِلاْ رَادَةِ اِلَى الْعَمَلِ النَّا فِعِ

(Hikmah adalah ilmu yang sahih (benar dan sehat) yang menggerakkan kemauan untuk melakukan suatu perbuatan yang bermanfaat/berguna).

Ketika menyimpulkan pemaknaan terhadap hikmah ini Moh.Natsir mengatakan bahwa hikmah lebih dari semata-mata ilmu. Ia adalah ilmu yang sehat, yang mudah dicernakan, ilmu yang berpadu dengan rasa perisa, sehingga menjadi daya penggerak untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, berguna. Kalau dibawa ke bidang dakwah: untuk melakukan sesuatu tindakan yang berguna dan efektif.

Dalam kegiatan dakwah metode hikmah muncul dalam berbagai bentuk, yakni: a). Mengenal Strata Mad’u; b). Kapan harus bicara kapan harus diam; c). Mencari titik temu; d). Toleran tanpa kehilangan sibghah; e). Memilih kata yang tepat; f). Cara berpisah; g). Uswatun Hasanah dan h). Lisanul hal.

Metode Mau’izhah Hasanah mengandung arti cara memberi pengajaran yang baik. Kata mau’izhah sendiri dalam Al-Qur’an dalam segala bentuknya terulang sebanyak 25 kali. Bila diperhatikan pemaksnaan mau’izhah hasanah dalam ayat-ayat Al-Qur’an, maka tekanan tertuju kepada peringatan yang baik dan dapat menyentuh hati sanubari seseorang, sehingga pada akhirnya audiens terdorong untuk berbuat baik. Metode ini terdiri dari berbagai bentuk, yakni: a. Nasihat; b.Tabsyir wa Tanzir dan c.Wasiyat.

Metode Mujadalah mengandung arti pembicaraan yang dialogis. Mujadalah bukanlah pembicaraan yang monolog atau monoton. Di dalam Al-Qur’an kata mujadalah dalam berbagai bentuknya ditemukan dalam 29 kali. Istilah tersebut mengandung arti pembicaraan atau diskusi yang dilandasi pada argumen yang berbeda dengan mempergunakan dalil yang utuh. Di dalam pembicaraan dialogis terbersit semangat tidak ada yang lebih dominan antara yang satu dengan yang lain. Dalam kerangka dakwah akan dituntut semangat menyodorkan kebenaran dan panggilan Islam dalam suasana kesetaraan. Metode ini muncul dalam bentuk: a). As’lilah wa ajwihah (Tanya Jawab) dan b). Al-Hiwar (diskusi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *