Shalat Sunnat Birrul Walidain

Shalat Sunnat Birrul Walidain

(Shalat Berbuat Baik Kepada Orang Tua)

Dr. H. Hasan Matsum, M.Ag

Wakil Ketua Umum MUI Kota Medan

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Pengurus MUI Kota Medan yang kami hormati, dalam sebuah diskusi bersama beberapa orang teman di kampus kami menemukan masalah tentang shalat birrul walidain (shalat berbuat baik kepada kedua orang tua). Menurut salah seorang teman kami dia pernah belajar dan mengerjakan shalat tersebut, namun yang menjadi pertanyaan hingga sekarang kami tidak menemukan dalil baik Alqur’an maupun hadis yang menjadi dasar shalat birrul walidain tersebut. Apakah memang ada dalil untuk ibadah tersebut ?. Atas jawabannya kami ucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum,

Khairuddin cs di Pangkalan Susu

 

Jawaban:

Shalat adalah ibadah mahdoh yang tidak boleh dikerjakan kecuali berdasarkan dalil. Hal ini sesuai dengan hadis Rasul saw. “barangsiapa melakukan sesuatu (ibadah) yang baru yang tidak ada contoh/dasarnya dari kami, maka ibadah tersebut tertolak”.(H.R.Bukhari dan Muslim). Demikian pula menurut kaidah fiqh, “hukum asal pada ibadah adalah dilarang, hingga ada dalil yang memerintah/membenarkannya”.

Sepanjang ilmu yang kami ketahui, tidak ada dalil yang menunjukkan tentang disyariatkannya shalat sunnat birrul walidain, sekalipun birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) termasuk perintah wajib dalam agama Islam. Bahkan Allah dan Rasul-Nya meletakkan posisi berbuat baik kepada kedua orang tua dalam urutan kedua setelah ketaatan kepada Allah SWT. Allah SWT. berfirman, “dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (QS. Al-Isra’ : 23). Rasulullah juga bersabda: “Rasulullah saw. ditanya, amal apakah yang paling dicintai Allah ?, Rasul berkata, “shalat pada waktunya”, kemudian apalagi ?, Rasul berkata, “berbuat baik kepada kedua orang tua”, kemudian apalagi ?, Rasul berkata, “jihad fi sabilillah”. (H.R.Bukhari).

Memang ada hadis yang bersumber dari Abi Usaid Malik bin Rabi’ah diriwayatkan oleh Abu Daud, yang memerintahkan kita untuk shalat bagi kedua orang tua. Secara tekstual hadis tersebut berbunyi, “Wahai Rasulullah, adakah kebaikan yang dapat saya lakukan untuk kedua orang tua saya setelah keduanya meninggal dunia?’ Beliau menjawab, ‘Ya, shalat untuk keduanya, memintakan ampun untuk keduanya, menunaikan janji keduanya, menyambung tali persaudaraan keduanya dan memuliakan handai taulan kedua orang tua.

Menurut Syekh Syarf al-Haq Abadi Abu Abdirrahman dalam kitab Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, makna “shalat” dalam hadis di atas adalah mendoakan keduanya, termasuk di antaranya adalah shalat jenazah. Makna ini sejalan dengan bunyi ayat Alqur’an surat at-Taubah ayat 103, yaitu ”ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan shalatlah (berdo’alah) untuk mereka. Sesungguhnya shalat (do’a) kamu itu memberikan ketenteraman jiwa bagi mereka.”

Dari uraian ringkas di atas dapat disimpulkan bahwa shalat sunnat birrul walidain itu tidak memiliki dalil baik dari Alqur’an demikian pula al-hadis, oleh karenanya tidak boleh dikerjakan. Niat untuk berbuat baik semata tidak dapat dijadikan dasar untuk mendirikan shalat tersebut, sebagaimana Rasulullah Saw. pernah melarang sahabatnya untuk beribadah terus menerus dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, yang satu mengatakan saya akan berpuasa sepanjang tahun,  yang lain mengatakan akan shalat malam selama-lamanya, dan yang satu lagi mengatakan tidak akan menikah (karena menikah akan menyibukkan ia dengan urusan dunia). Rasulullah Saw. mengatakan, “saya berpuasa dan berbuka (dalam arti adakalanya tidak berpuasa sunnah), saya shalat malam dan juga tidur, dan saya menikah, barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku. (H.R.Al-Bukhari). Demikian jawaban yang dapat kami berikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *