Hal-Hal Kecil Yang Sering Dilupakan

Dr. Muhammad Syukri Albani Nasution, MA

Sekretaris Umum MUI Kota Medan

Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling sempurna di antara makhluk lainnya. Manusia diciptakan Allah Akal yang bisa dijadikan alat untuk memikirkan mana yang baik dan yang tidak baik. Yang  pantas dan tidak pantas. Dan manusia mampu memilih jalan yang terbaik untuk hidupnya. Sebab itu pulalah bagi manusia akan dikenakan ganjaran, baik syurga maupun neraka.

Kesempurnnaan manusia tidak selamanya menjadi nilai baik bagi kehidupannya. Itulah mengapa manusia senantiasa disuruh bertafakkur atas apa yang sudah dilakukannya, dan berjanji agar kedepannya tidak mengulangi serta mengisi hidupnya dengan perbuatan baik. Alquran  menegaskan dengan sebutan “Taubatannasuhah”. Bagi manusia yang bertaqwa senantiasa dibukakan Allah pintu penyesalan dan pertaubatan. Dan itu menjadi jalan terakhir manusia untuk mendapatkan kebenarannya.

Ada sebuah dialog antara seorang guru dan santri yang bisa menjadi i’tibar bagi umat Islam yang ingin agar hidupnya lebih baik lagi. Dijelaskannya ada enam pertanyaan yang mudah tapi sulit menjawabnya dan cenderung kita lupakan.

Pertama, apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?, lalu santri menjawab, orang tua, sahabat dan kerabat. Salah jawab guru tersebut. Yang dekat dengan kita di dunia ini adalah kematian. Sebab kematian pasti adanya bagi semua manusia dan kapanpun bisa terjadi.

Itulah mengapa dalam tasawuf ada istilah yang dikenal dengan dzikir kematian. Maksudnya, bagi manusia, melihat kematian, bertakziah adalah nasehat diri yang sangat ampuh untuk menyadarkan diri bahwa ada saatnya hidup ini berhenti dan usailah segalanya. Kematian adalah nasehat yang paling ampuh bagi setiap manusia. Kealpaan kita mengingat mati, menyebabkan kita sering terjerumus dalam dosa. Dan orang yang selalu menyandarkan kematian sebagai teguran bagi hidupnya tidak akan pernah memberikan peluang kepada dirinya berlaku dosa dan tercela di sisi Allah Swt.

Kedua, lanjut guru tersebut, apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini. Santri menjawab, Negara Cina, bulan dan matahari. Salah jawab ustadz tersebut. Yang paling jauh dari diri kita saat ini adalah masa lalu. Siapapun kita, bagaimanapun kita dan betapa hebatnya kita, tetap kita tak akan pernah kembali ke masa lalu. Sebab itulah mengapa kita harus memastikan hari ini dan akan datang menjadi hari yang terbaik kita.

Masa lalu hanya akan menghadirkan kenangan, apakah yang baik atau buruk, yang menimbulkan penyesalan atau senyuman. Namun, betapa hebatnya masa lalu, tetap tidak ada seseorangpun yang bisa kembali ke masa lalu. Untuk itulah mengapa ketika berkaitan dengan masa lalu, kita seharusnya menyesali jika itu berkaitan dengan dosa, dan mempertahankan jika itu berkaitan dengan kebaikan. Sebab masa lalu yang baik, seharusnya menjadi pembelajaran yang hebat bagi semua orang.

Ketiga, apa yang paling besar di dunia ini Tanya guru tersebut melanjutkan, lalu siswa menjawab, gunung, bumi dan matahari. Bukan, jawab guru tersebut, yang paling besar di dunia ini adalah nafsu. Banyak manusia menjadi celaka karena menuruti hawa nafsu. Segala cara di halalkan demi demi mendapatkan hawa nafsu.

Sebab itulah mengapa disebutkan bahwa manusia yang paling berhasil dalam hidupnya adalah mahasiswa yang bisa mengelola hawa nafsunya, bukan menahannya, tapi menempatkan keinginan nafsu pada tempatnya. Nafsu bukanlah musuh manusia, namun manusia yang mengedepakan keinginan nafsu belaka akan tertindas dengan kearifan dan kebaikan yang seharusnya dia lakukan. Maka, permasalahan besar manusia bukanlah pertentangan orang, tapi permasalahan besar manusia adalah hawa nafsunya . itulah mengapa Rasul mengatakan setelah pulang dari perang Badar, “ kita sudah pulang dari perang kecil dan menuju perang yang besar yaitu perang melawan hawa nafsu”.

Keempat, lanjut guru tersebut. Apa yang paling berat di dunia ini, lalu santrinya menjawab baja, besi, dan gajah. Lalu ustadz menjawab, yang paling berat bagi manusia adalah berjanji. Sebab janji adalah hal yang mudah di ucapkan tapi sulit dilakukan.

Banyak orang yang putus kerabat karena janji, dan terjadinya disharmoni antar golongan dan kelompok juga karena janji, sebab janji melibatkan kepercayaan (trust). Dan jika kepercayaan diingkari, maka tak ada satu pekerjaanpun yang akan bermakna. Inilah mengapa janji adalah hal yang paling berat dilkukan. Untuk itu, berjanjilah jika merasa mampu dengan melibatkan kekuasaan Allah sebagai sang maha penentu. Dan berusahalah tanpa berjanji jika diragukan janji tersebut sulit dilaksanakan.

Kelima, apa yang paling ringan di dunia ini, lalu santri menjawab, kapas, angin, dan debu. Lalu guru menjawab, yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan ibadah. Ibadah seharusnya menjadi sarana kedekatan manusia terhadap Tuhannya yang sangat tulus dan ikhlas tanpa ada keberatan dalam melaksanakannya. Jika seorang hamba sudah merasa ibadah adalah sesuatu yang memberatkan, maka akan sangat ringanlah untuk meninggalkan ibadah. Oleh karenanya, bagi seseorang yang sudah terbiasa meninggalkan ibadah, maka pelatihannya adalah berusaha menyadari bahwa ibadah yang dilakukan dengan kekhusyukan akan melahirkan kenikmatan dan kedekatan kepada Allah Swt.

Keenam, apakah yang paling tajam di dunia ini, lalu siswa menjawab dengan serentak pisau. Guru pun menjawab lagi, yang paling tajam di dunia ini adalah lidah. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya memfitnah dan menyakiti hati, melukai perasaan orang. Dan luka yang disebabkan lidah akan sangat sulit terobati jika belum ada ketulusan meminta maaf dan memaafkan.

Lalu, guru pun menutup pertanyaannya dengan sebuah kesimpulan, bahwa keenam hal inilah yang sebenarnya sangat mudah bagi kita namun sangat sulit menerapkan dan memanfaatkannya dengan baik. Itulah mengapa dijelaskan, manusia yang sempurna adalah manusia yang mengambil hikmah dari setiap hal yang ia dengarkan. Semoga kita menjadi orang-orang yang beruntung. Amin

Satu tanggapan untuk “Hal-Hal Kecil Yang Sering Dilupakan

  • Januari 13, 2017 pada 3:23 am
    Permalink

    Sungguh mencerahkan dan memukau dg gaya bahasa nyaris tanpa cela. Menggugah dan mengingatkan dg cerdas, bangga rasanya pd Yang Mulia Sekretaris kita ini, tahniah,semoga lbh produktif. Amin3 ya Rob

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *