Berdoa dengan Asmaul Husna

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Anggota Komisi Informasi dan Komunikasi

Pada zaman Rasulullah, seorang muslim pernah berdoa kepada Allah dalam shalatnya dengan lafal, ‘Yaa Rahman, Yaa Rahiim’ (Wahai Zat Yang Maha Pemurah, Wahai Zat Yang Maha Penyayang). Ketika seorang musyrik Mekah mendengarnya, ia berkomentar, ‘Bukankah Muhammad dan para sahabatnya menyangka bahwa mereka menyembah tuhan yang satu, lantas kenapa orang ini memohon kepada dua tuhan?” Karena peristiwa tersebut, akhirnya Allah menurunkan ayat “Hanya milik Allah asmaul husna, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (QS. Al-A’raaf: 180)

Allah Esa, Memiliki Banyak Nama

Allah, Tuhan kita adalah satu, tidak ada sekutu baginya. Namun selain nama-Nya, Allah yang merupakan nama yang paling agung. Dia juga mempunyai nama-nama indah lainnya yang disebut dengan asmaul husna. Disebut dengan penyebutan asmaul husna, karena memang indah ketika didengar dan indah ketika diresapi dalam hati. Tidak ada nama seindah nama yang dimilikinya.

Seluruh ulama sepakat terhadap larangan menamai Allah kecuali dengan nama-nama yang telah disebutkan dalam firman-Nya maupun melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad saw., tanpa boleh menambahi dan menguranginya.  Bahkan Imam Nawawi menyebutkan bahwa nama-nama Allah itu bersifat tauqify, tidak boleh ditetapkan kecuali berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Bahkan Allah sudah menyatakan kepada Nabi Muhammad saw lalu disampaikan kepada para sahabat sehingga menjadi sebuah hadis, “Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama yang barang siapa meng-ihsha-nya akan masuk surga.” (HR. Bukhari).

Meski Rasulullah saw menyebutkan bahwa jumlah asmaul husna adalah 99, namun jumlah tersebut bukanlah pembatasan. Secara pasti tidak ada yang mengetahui jumlahnya secara pasti kecuali Allah. Hadis di atas hanya sekedar memberitahukan bahwa siapa yang meng-ihsha-nya akan masuk surga. Ihsha bukan sekedar menghafal, tapi juga dimaksudkan dengan memahami makna yang terkandung pada nama tersebut dan mengamalkannya.

Mengamalkan Asmaul Husna

Di antara bentuk pengamalan asmaul husna adalah dengan menyebut nama-nama Allah yang tersebut ketika berdoa. Sebab Rasulullah saw pernah berdoa dengan cara tersebut, “Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang mahluk-Mu, atau Engkau simpan dalam ilmu ghaib-Mu…” (HR. Ahmad)

Demikianlah, ketika kita miskin kita seru Allah dengan menyebut nama-Nya: “Yaa ghaniyyu (Wahai Dzat yang Maha Kaya), Yaa mu’thi (Wahai Dzat yang Maha Memberi), Ya Jawwad (Wahai Dzat Yang Maha Pemurah). Ketika kita khilaf dan menyesali dosa yang telah kita perbuat, maka kita menyeru Allah dengan sebutan: “Ya Tawwab (Wahai Dzat Yang Maha Pemberi Taubat), Ya Sittir (Wahai Dzat Yang Maha Menutupi). Ketika kita mengharapkan rahmat dan kasih sayang Allah, maka kita berdoa dengan memanggil nama Allah yang terkait dengan sifat rahman dan rahim-Nya. Sedangkan ketika meminta misalnya, maka kita berdoa dengan memanggil nama-Nya yang terkait dengan kekuatan dan kedahsyatan-Nya. Dan demikian seterusnya sehingga kita bisa meminta sesuai dengan konteksnya.

Pada zaman Nabi Muhammad saw, ada seorang sahabat dari kalangan Anshar yang berprofesi sebagai pedagang. Ia seorang ahli ibadah dan wara’. Suatu hari ketika mengadakan perjalanan, ia dihadang oleh seorang perampok. Perompok tersebut bukan menginginkan hartanya saja, tapi juga jiwanya. Lalu pedang itu berkata, ‘Jika memang demikian yang engkau kehendaki, izinkan aku untuk shalat empat rakaat.’ Setelah mendapatkan izin, pedagang tersebut pun berwudhu’ kemudian melaksanakan shalat empat rakaat. Dalam sujud terakhirnya, ia berdoa kepada Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang indah dan perkasa, ‘Wahai Dzat Yang Menguasai Arsy Yang Mulia, Yang melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya… lalu ditutupnya doa tersebut dengan menyebut, Ya Mughits aghitsniy.. (Wahai Dzat Yang Memberikan pertolongan, tolonglah aku). Diulanginya ucapan tersebut hingga tiga kali. Selesai ia mengerjakan shalat, tiba-tiba ada seorang yang menunggang kuda menuju ke arah perampok tadi kemudian menikam dan membunuhnya. Ternyata, seseorang tersebut adalah malaikat yang diutus oleh Allah untuk menolong hamba-hamba-Nya yang sedang ditimpa kesulitan.

Demikianlah, ternyata begitu agung nilai yang terkandung dalam Asmaul husna. Begitu besar hikmah yang dapat kita petik dengan memahami maknanya. Berapa banyak manfaat yang kita dapat di dunia dan di akhirat dengan menghapal dan mengamalkannya. Namun sayang banyak juga yang menyalahgunakan nama Allah. Misalnya saja, ingin kaya lalu disebutlah nama Allah Ya Quddus (Yang Maha Suci) pada sebuah roti yang dibaca seribu kali setiap hari Jumat, lalu berkayakinan bahwa Allah akan mengkayakannya.

Masih banyak penyalahgunaan nama Allah yang dilakukan banyak orang. Mereka menggunakan nama Allah, tapi maksud dan tujuannya bukan berdoa yang sesuai dengan maksud nama-nama Allah tersebut. Sehingga yang terjadi bukannya dapat pahala, malah menambah dosa. Meski yang diinginkan tersampaikan, tapi berdoa dengan menyebut nama-nama Allah yang baik (asmaul husna)yang tak sesuai dengan ajaran agama, bisa menyebabkannya berdosa kepada Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *