Memanfaatkan Kulit Bangkai

Drs. Kiyai Muhyiddin Masykur

 

Tanya:

Assalamu’alaikum,
Pengurus MUI Kota Medan yang dimuliakan Allah, Bolehkah ummat Islam memanfaatkan kulit bangkai untuk dijadikan ikat pinggang, dompet dan sebagainya yang sering kali terikut di celana saat sholat, padahal berasal dari najis?

 

Jawab:

Terminologi bangkai adalah hewan yang mati tanpa melalui proses penyembelihan yang sah berdasarkan syari’at. Mayoritas ulama’ mengharamkan semua bentuk pemanfaatan bangkai. Tidak terbatas dengan mengkonsumsinya tetapi juga menggunakan untuk hal – hal lain, termasuk menjual belikannya kecuali ada dalil syara’ yang membolehkannya (Rowa’iul Bayan I/160 – 164). Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah bangkai hewan yang memiliki darah dan bukan hewan air. Maka ikan dan belalang apabila mati tidak termasuk bangkai karena tetap suci menurut ijma’ ulama’ (Ensiklopedia Ijma’: 58)

Adapun yang dibolehkan berdasarkan dalil syari’at islam dalam kasus ini adalah memanfaatkan kulit bangkai. Para ulama’ mujtahid berbeda pendapat, dari kalangan madzhab Syafi’i dan Hanafi berpendapat boleh memanfaatkan kulit bangkai jika telah melalui proses penyama’an (membersihkan kotoran dan najis yang menempel dengan cara yang telah lazim dikenal dalam fiqih islam). Berdasarkan hadits, “apabila kulit bangkai telah disama’ maka menjadi suci” (HR. Muslim)

Dalam masalah ini, yang dimaksudkan adalah selain bangkai babi, anjing, dan keturunannya, sebagaimana Al Bajuri menjelaskan: “kulit bangkai itu semuanya bisa disucikan dengan disama’, baik dari bangkai hewan yang halal dimakan atau lainnya kecuali bangkai anjing, babi dan keturunannya” (Al Bajuri I/74) Dalam hadits lain Rasul saw bersabda: “Yang diharamkan itu hanya memakannya” (HR. Jama’ah kecuali Ibnu Majah)

Sedangkan dari kalangan madzhab Maliki terdapat dua riwayat yang membolehkan dan riwayat yang tidak membolehkan. Dengan demikian kulit bangkai adalah najis haram dimakan dan dimanfaatkan. Akan tetapi, jika telah disama’ ia menjadi suci dan boleh dimanfaatkan seperti untuk ikat pinggang, dompet dan sebagainya. namun demikian tidak boleh dimakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *