Menyegerakan Membagi Warisan

H. Ali Murthado, M. Hum

(Ketua Komisi Informasi & Komunikasi)

 

Pertanyaan:

Bolehkan membagi warisan ayah selagi ibu masih ada dan sebaliknya?

 

Jawab :

Syarat membagi warisan

Untuk terjadinya sebuah pewarisan harta, maka harus terpenuhi Rukun- rukun waris. Bila salah satu dari rukun- rukun tersebut tidak terpenuhi, maka tidak terjadi pewarisan. Menurut  hukum Islam, rukun mewarisi ada 3 yaitu :

 

–          Muwarrits (Pewaris)

–          Warits (Ahli waris)

–          Mauruts (harta waris)

 

Dalam hukum Islam, muwarrits (pewaris) adalah orang yang telah meninggal dunia dengan meninggalkan harta warisan untuk di bagi-bagikan pengalihannya kepada para ahli waris. Sementara Kompilasi Hukum Islam (KHI) menjelaskan Muwarrits (pewaris) adalah orang yang pada saat meninggalnya atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan putusan pengadilan beragama Islam meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan. (pasal 171 huruf b ) pada Pasal 171 b KHI :   ”Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya beragama Islam atau yang dinyatakan meninggal berdasarkan keputusan pengadilan, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan ”.

 

Berdasarkan hal ini, maka dibolehkan membagi warisan ayah pada saat ibu masih hidup. Bahkan dengan adanya kesaksian ibu di mana ibu lebih mengetahui mana harta ayah dan mana harta ibu dan harta bersama pembagian warisan akan lebih jelas. Karena dalam pembagian harta ayah, ibu yang merupakan istri ayah juga akan mendapat pembagian harta warisan tersebut. Begitu juga sebaliknya jika yang meninggal dunia adalah ibu dan ibu punya harta warisan maka seharusnya harta milik ibu tersebut dibagi supaya tidak ada masalah di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *