Tips Agar Terhidar Dari Makanan Yang Tidak Halal

Dr. H. Muhammad Basri, MA

Sekretaris LPPOM MUI Kota Medan

 

Manusia adalah makhluk yang terbaik yang Allah Swt ciptakan (fi ahsani taqwim), manusia juga merupakan makhluk yang berfikir (al-hayawanin natiqah) yang membedakannya dengan makhluk lainnya.

Setiap manusia pasti membutuhkan makanan untuk hidup. Berbagai sumber makanan dapat berasal dari hewan dan tumbuhan. Manusia memerlukan semua unsur tumbuhan dan binatang untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Seperti yang kita ketahui tubuh manusia terdiri dari sel-sel yang perlu perawatan dan asupan nutrisi. Mengkonsumsi makanan halal dan sehat  menjadi satu cara untuk membuat sel tubuh tetap aktif yang menjadikan seseorang dapat beraktifitas dalam bungkusan ridha Allah.

Salah satu upaya yang dilakukan dalam menggapai ridha Allah adalah dengan mengkonsumsi makanan dan  minuman hanya yang halal. Menghindari makan yang haram dan mengandung racun (tidak tayib) adalah suatu kemestian.  Namun nasih banyak orang belum mengerti mengenai bagaimana menghindari mengkonsumsi makanan yang tidak halal dan bahkan mengandung racun.

Bagi seorang muslim mengkonsumsi pangan yang halal dan thayyib  (baik, sehat, bergizi dan aman) adalah kewajiban seperti difirmankan Allah “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Q.S. Al Maaidah; 88)

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al Baqarah;168).

Yang lebih bahaya lagi memakan makanan yang tidak halal dapat mengakibatkan doa kita tidak terkabul, amal yang tertolak , dan daging yang tumbuh dari barang yang haram tempatnya adalah neraka (keterangan dari hadis).

Walaupun mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam, akan tetapi undang-undang dan peraturan yang berlaku di Indonesia tidak mewajibkan para produsen pangan untuk menyediakan pangan yang halal, hanya mereka yang ingin mencantumkan label halal pada produknya yang terkena kewajiban untuk memeriksakan produknya ke lembaga yang berwenang agar apa yang diklaimnya sebagai halal itu benar adanya. Sementara UU jaminan produk halal sampai saat ini belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Kenyataan saat ini tidak ada jaminan bahwa semua pangan yang ada di pasaran adalah halal. Dengan demikian, konsumen Muslim sendirilah yang harus mampu memilih mana pangan yang halal dan mana yang tidak.

Yang menjadi permasalahannya tidak mudah untuk memilih mana yang halal dan mana yang haram serta mana yang meragukan (syubhat) mengingat dengan kemajuan teknologi banyak bahan-bahan yang syubhat yang tersembunyi di dalam produk produk pangan.

Oleh karena itu konsumen Muslim membutuhkan kiat sederhana, mudah tapi akurat dalam memilih pangan halal dan menghindari makanan yang haram. Di bawah ini akan dipaparkan kiat tersebut yang diharapkan dapat membantu dalam menghindari makanan yang haram.

  1. Periksa Label Halal Pada Kemasan

Bila belanja makanan dalam kemasan biasakan membaca dengan teliti dan hati-hati label kemasan beserta kandungan bahannya (ingredients). Jangan buru-buru memindahkan makanan dari rak-rak etalase barang ke keranjang belanjaan. Periksa dan teliti ada label halalnya atau tidak. Jika dikemasan sudah tercantum label halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indoneisa (MUI) dengan kode nomor register yang biasanya dicantumkan dibawah logo halal, maka sudah cukup menjadi jaminan bahwa makanan tersebut sudah diperiksa kehalalannya oleh pihak berwenang. Kode nomor register itu diperlukan untuk mengetahui dari LPPOM MUI mana yang mengeluarkan sertifikat halalnya. Jika tidak ada label halal di kemasannya, maka bacalah kandungan bahan-bahannya. Jika ada yang meragukan (syubhat) lebih baik tinggalkan atau jangan di beli.

  1. Pilih Restoran Yang Sudah Halal

Memilih restoran yang telah mendapatkan sertifikat halal merupakan suatu jalan agar terhindar dari memakan yang tidak halal atau haram. Restoran yang telah mendapatkan sertifikat halal sudah tidak perlu diragukan lagi kehalalan makanan dan minuman yang disajikannya karena sudah diaudit oleh Tim dari LPPOM MUI yang professional di bidangnya. Jika anda berpergian di suatu daerah bisa cek restoran halal di direktori halal MUI Pusat, jika di Kota Medan dapat di lihat info Halal pada situs MUI Mota Medan.

Apabila kita tidak melihat logo Halal dari MUI di pintu masuk restoran yang kita ragu atas kehalalan makanan dan minuman yang disajikan maka tanyakanlah sertifikat halal yang dimiliki oleh restoran tersebut secara sopan.

Sebagai konsumen kita harus waspada dan teliti karena jika si restoran tersebut tidak memiliki sertifikat halal maka artinya kehalalan dan kebersihan makanan yang disajikan restoran yang bersangkutan tidak ada yang menjamin. Sayangnya, masih sedikit restoran yang telah memiliki sertifikat halal (lihat situs info halal di MUI Kota Medan). Oleh karena itu pengetahuan kitalah yang harus ditingkatkan sehingga bisa mengetahui mana restoran yang menyajikan makanan yang diragukan kehalalannya dan mana yang tidak.

  1. Ketahui Jenis Makanan Yang Wajib Dihindari

Saat ini secara umum makanan moderen lebih rawan kehalalannya (dibandingkan dengan makanan tradisional) karena bahan yang digunakan banyak yang impor dan berasal dari negara non muslim (khususnya bahan hewani yang diharamkan seperti babi dan turunannya).

Secara khusus konsumen muslim harus mewaspadai  masakan Cina karena dalam pembuatannya sering melibatkan lemak babi dan arak, baik dalam bentuk arak putih maupun arak merah (ang ciu). Selain itu, kie kian yang sering digunakan dalam pembuatan cap cai dalam pembuatannya melibatkan lemak babi.

Masakan Jepang dan sejenisnya dalam pembuatannya sering melibatkan sake dan mirin, keduanya masuk kedalam golongan khamar sehingga masakan yang dibuat dengan menggunakan sake dan mirin tidak boleh dikonsumsi oleh umat Islam.

Masakan Barat juga rawan kehalalannya karena banyak menggunakan keju (status kehalalannya syubhat atau meragukan), wine (khususnya masakan Perancis), daging yang  tidak halal, buillon (ekstrak daging), wine vinegar, dll. Intinya kita harus lebih waspada terhadap makan yang diinpor dari luar negeri, jika tidak mempunyai label halal lebih baik ditinggalkan.

  1. Biasakan selalu bertanya 

Biasakan selalu bertanya, tidak ada salahnya bertanya secara sopan dan baik untuk memastikan bahwa restoran atau jajanan yang kita datangi tidak menyajikan masakan yang diragukan kehalalannya. Sebagai contoh, kita dapat bertanya “apakah dalam pembuatan masakan di restoran ini menggunakan ang ciu?”, jika jawabannya “ya” maka kita katakan “terima kasih, maaf saya tak jadi makan di tempat ini, ada keperluan lain”, lalu kita meninggalkan restoran tersebut.

Bisa jadi ada yang terkejut dengan tulisan ini karena baru menyadari bahwa hampir semua makanan yang kita makan setiap hari ternyata sudah tercemar dengan makanan haram, tapi itulah faktanya. Saat ini seakan-akan kita benar-benar terkepung oleh berbagai makanan haram disekeliling kita. Apalagi dengan semakin maju dan canggihnya masalah teknologi pengolahan pangan, sehingga memilih makanan sudah tidak bisa asal-asalan lagi menggunakan jurus “asal pilih”, tetapi lebih dari itu, diperlukan pengetahuan khusus untuk memilih.

Lebih parah lagi bila sikap pengusaha yang curang yang ingin meraih keuntungan sebesar-besarnya sehingga tega melakukan pemalsuan kandungan bahan yang berbeda dengan yang tercantum dalam kemasan atau dengan “mencolok” daging babi ke dalam daging sapi demi mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

 

  1. Berkomunikasi dengan MUI setempat

Jika anda berkunjung ke suatu tempat untuk beberapa hari perlu kiranya berkomunikasi dengan MUI setempat untuk mendapatkan rekomendasi restoran mana yang halal serta layak untuk dikunjungi, sebagai contoh di Bali sangat sulit menemukan restoran Halal atau restoran yang benar-benar halal. Sebagai pengalaman penulis yang baru-baru ini ke Bali terlihat ada beberapa restoran yang bertuliskan ” halal” namun penulis tidak yakin karena penampilan penjualnya yang tidak meyakinkan, seperti penjulnya yang perempuan tidak memakai jilbab bahkan bercelana pendek, walau pada akhirnya penulis keluar dan tidak jadi makan di tempat itu.

 

Masih banyak dalam anggapan orang non Muslim makanan halal itu asalkan tidak memasak babi (B2) atau  anjing (B1), padahal konsep halal itu bukan hanya sekedar bendanya yang halal namun prosesnya juga harus halal bahkan wajan alat masak seperti kuali, panci, minyak gorengnya juga tidak boleh terkontaminasi dengan yang haram.

Semoga kita terhindar dari memakan makanan yang haram dan mengandung racun. Amiin.

Demikian semoga bermanfaat.
Wallahu’alamu  bi al- sawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *