Memahami Keadilan Allah

Ahmad Muttaqin, M.Pd.I

Ketua MUI Kecamatan Medan Petisah

Alkisah, seorang ayah dan anak duduk berteduh di bawah sebatang pohon kurma. Saat itu sang anak berkata,”wahai ayah, bukankah Allah itu Maha Adil, tapi mengapa Allah menciptakan buah kurma begitu kecil, padahal pohonnya tempat kita berteduh ini begini besar. Sedangkan di sana ada pohon semangka yang begitu kecil dan hanya bisa menjalar di tanah, tapi memiliki buah yang besar. Akan lebih adil jika buah semangka itulah yang menjadi buahnya pohon kurma, sedangkan buah kurma yang kecil, sepantasnya hanya menjadi buah dari pohon semangka yang kecil”. Sang ayah hanya menjawab, “anakku, pasti ada hikmah lain yang kita belum tahu.”

Tidak lama kemudian, mereka merebahkan badan di bawah pohon kurma itu untuk tidur. Tapi baru saja sang anak memejamkan mata, tiba-tiba ia menjerit kesakitan membuat ayahnya terkejut. “Anakku, apa yang terjadi?”. “Ayah, baru saja sebutir kurma jatuh menimpa kening ku, rasanya sakit sekali,” sahut sang anak. Lantas, ayahnya pun berkata, “anakku, untung saja yang jatuh menimpa keningmu itu hanyalah buah kurma yang kecil, bukan buah semangka yang besar”.

Illustrasi kisah di atas menggambarkan bahwa dalam hidup dan kehidupan kita tidak jarang manusia dirasuki oleh perasaan was-was. Ada semacam lintasan keraguan di dalam hatinya terhadap keadilan dan kebijaksanaan tuhannya. Keraguan berawal manakala ia membayangkan bahwa keadilan tuhan itu adalah sesuatu yang harus sesuai dengan cara berpikir dan keinginan hatinya. Padahal, jika saja keadilan tuhan itu diukur dengan sesuatu yang harus sesuai dengan cara berpikir dan kehendak hati manusia, pastilah kehidupan tidak akan berjalan seimbang dan selaras sebagaimana saat ini. Karena, masing-masing manusia memiliki cara pandang dan kepentingan yang beragam.

Seseorang yang sedang menggelar pesta pada suatu malam misalnya, menginginkan malam itu berlangsung lebih lama, tapi pada saat yang sama seorang yang menderita sakit dan butuh pertolongan agar malam segera berakhir, pajar segera menyingsing dan waktu siang segera datang. Diantara dua keinginan yang berbeda bahkan bertolak belakang itu, Allah tidak akan mengabulkan keinginan manapun, karean Allah memiliki kebijaksanaan sendiri. Malam akan tetap seperti itu dan siang akan datang tepat pada waktunya.

Dalam memahami kebijaksanaan Allah ini, sebahagian manusia mampu menemukan hikmahnya. Tapi tidak jarang rahasia dari kebijaksanaan Allah itu belum atau bahkan tidak dapat diketahui manusia sama sekali, sehingga rasa was-was dan merasa tidak memperoleh keadilan akan terus menghantuinya. Karena itu pula, para malaikat berkata, ”Wahai tuhan kami, Maha suci Engkau, sungguh kami tidak mengetahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Keraguan terhadap keadilan tuhan juga bisa muncul bilamana seseorang beranggapan bahwa keadilan itu berarti menyamaratakan pemberian kepada semua manusia. Allah bisa saja menjadikan manusia sebagai jasad yang tidak membutuhkan apapun. Namun ternyata, Allah telah mencipta manusia sebagai makhluk yang memiliki kharizah, ada instink dan keinginan sehingga manusia membutuhkan makanan, kekayaan, keturunan dan sebagainya. Oleh sebab itu, keadilan Allah bukan berarti menyamaratakan pemberian kepada semua manusia. Tapi kebijaksanaan Allah itu lebih pada semacam batu ujian untuk membedakan siapa manusia yang bersukur, siapa yang kufur, siapa yang tabah dan siapa yang suka mengeluh, siapa yang baik dan siapa pula yang tidak.

Untuk mengetahui kebaikan seseorang dibutuhkan adanya semacam uji coba (eksperimen). Dan ujian itu bisa berbentuk kesulitan, kemiskinan dan sebagainya. Untuk mengetahui kebaikan seseorang juga dibutuhkan adanya orang lain yang menjadi sasaran kebaikannya. Ketabahan seseorang tidak akan pernah terlihat, kebaikan seseorang juga tidak akan tampak apabila manusia sama rata dalam kehidupan. Tidak ada orang yang miskin bila tidak ada yang kaya, tidak ada yang susah jika tidak ada yang senang.

Cara berpikir materialistis juga sering membuat manusia berpandangan keliru. Ia beranggapan bahwa kekayaan materi adalah segalanya, bahwa harta adalah hal yang paling penting dalam hidup ini, sehingga ketika ia melihat kenyataan dimana sebaian manusia Allah fasilitasi dengan begitu banyak harta, sedangkan yang lain seolah-olah tidak memiliki apa-apa. Sebagian orang begitu cepat menanjak karirnya, sementara yang lain, alangkah susah mendapatkan lowongan kerja. Maka terlintaslah keraguan di dalam hatinya, “Dimanakah letak keadilan Allah SWT itu?”.

Allah memang telah mencipta manusia sebagai makhluk yang punya kecenderungan kepada harta, tapi sesungguhnya harta itu bukanlah segalanya. Ia hanyalah salah satu sarana untuk meraih tujuan utama. Dan tujuan utama bagi seorang mukmin adalah, “Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat”. Tidak sedikit orang yang memiliki banyak harta, tapi miskin kesehatan. Kaya harta, miskin keturunan. Kaya harta, miskin pergaulan dan sebagainya. Allah memang telah memberikan kelebihan kepada seseorang yang bisa jadi tidak diberikan kepada yang lain, tapi Allah juga memberikan kekurangan pada dirinya. Kekurangan pada dirinya bisa menjadi kelebihan bagi orang lain pula. Sesungguhnya kemampuan kita manusia sangat terbatas untuk bisa menjangkau rahasia keadilan dan kebijaksanaan Allah SWT.

Karena itu, para Ulil Albab yaitu, hamba-hamba yang selalu merenungkan kebesaran tuhannya selalu berkata: “Wahai tuhan kami, sungguh segala yang Engkau ciptakan tidak ada yang sia-sia. Maha Suci diri-Mu, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka”. Andaikan dalam suatu ketika, seorang mukmin dirasuki oleh perasaan was-was, ada lintasan keraguan di dalam hatinya terhadap keadilan dan kebijaksanaan tuhannya, maka sikap terbaik adalah Istighfar, memohon ampun kepada Allah SWT dan berdoa agar segera kembali istiqamah dalam keimanan. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *