Hukum Shalat Qabliyah dan Ba’diyah Jum’at

Dr. H. Hasan Matsum, M.Ag

Wakil Ketua Umum MUI Kota Medan

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Pengurus MUI Kota Medan yang saya hormati, saya ingin bertanya bagaimana hukum shalat qabliyah dan ba’diyah Jum’at serta bilangan rakaatnya. Atas jawaban yang diberikan saya ucapkan terimakasih. ( Saiful di Belawan )

Jawaban:

Shalat qabliyah dan ba’diyah jum’at hukumnya adalah sunnat. Hal ini didasarkan pada beberapa hadis dan penjelasan ulama sebagai berikut :

Hadis riwayat Abu Daud :

“Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya ia senantiasa memanjangkan shalat qabliyah jum’at, dan iapun shalat ba’diyah jum’at dua raka’at, dan ia menceritakan bahwasanya Rasulullah saw. senantiasa melakukan hal yang demikian itu.”

Hadis riwayat Ibnu Majah :

“Dari Abi Hurairah dan Abi Sufyan dari Jabir ia berkata, “Sulaik al-Ghathfani telah mendatangi masjid sedangkan Rasulullah saw. sedang berkhutbah lalu Nabi saw. bertanya kepadanya, “apakah engkau sudah shalat dua raka’at sebelum datang ke sini ?” jawabnya belum. Kemudian Nabi saw. bersabda, “shalatlah dua raka’at dan cepatkan saja shalatmu itu.”

Hadis riwayat Muslim :

“Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda, “apabila salah seorang kamu shalat Jum’at, hendaklah ia shalat sunnat ba’diyah jum’at sebanyak empat raka’at.”

Hadis riwayat Muslim :

“Dari Salim, dari ayahnya, bahwasanya Nabi saw. shalat ba’diyah jum’at sebanyak dua raka’at.”

Dalam menjelaskan hadis tentang salat sunnat qabliyah jum’at, khususnya hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah di atas, Syekh Syihabuddin al-Qalyubi berkata bahwa dari hadis ini telah nyata dan terang, yang disabdakan Nabi Saw. itu adalah shalat sunnat qabliyah jum’at, dan bukan shalat sunnat tahyatil masjid. Andaikata ada orang yang mengatakan bahwa yang disabdakan Nabi Saw. itu boleh jadi shalat sunnat tahyatil masjid, maka dapat dijawab “tidak mungkin”, sebab shalat sunnat tahyatil masjid itu tidak boleh dilakukan di rumah atau tempat lain di luar masjid, melainkan di masjid. Sedangkan Nabi Saw. bertanya, “apakah engkau sudah salat sebelum datang ke sini ?” (Qalyubi wa Umairah, Juz I, hlm. 212). Imam Asy-Syaukani ketika mengomentari hadis riwayat Imam Ibnu Majah tersebut, dengan tegas berkata, “Dan sabda Nabi saw. “sebelum engkau datang ke sini”menunjukkan bahwa shalat dua raka’at itu adalah shalat sunnat qabliyah jum’at bukan dua raka’at salat sunnat tahyatil masjid. (Nailul Authar, Juz III, hlm. 318). Imam Nawawi ketika mengomentari hadis tentang shalat sunnat ba’diyah jum’at, dalam kitabnya Syarh shahih Muslim, berkata, “ hadis-hadis ini menunjukkan bahwa shalat ba’diyah jum’at itu hukumnya sunnat yang dianjurkan dan sebagai motivasi terhadapnya sedikitnya dua raka’at, dan sempurnanya empat raka’at. (Syarh Shahih Muslim, Juz VI, hlm. 169).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *