Ketika Allah Membicarakan Sifat Orang Munafik

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Anggota Komisi Informasi dan Komunikasi

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan

Adalah lirik lagu Nicky Astria bernada, “Dunia ini panggung sandiwara. Caritanya mudah berubah… Ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara? Mengapa kita bersandiwara?”

Setidaknya, pertanyaan yang terdapat di lirik lagu tersebut menjadi pertanyaan besar kita saat ini. Banyak sekali orang yang melakukan keberpura-puraan dalam hidup, hanya untuk mendapat keuntungan sesaat. Kita sering menyaksikan orang mengaku Islam, tapi ia sebenarnya tidak menjalankan ajaran Islam. Ia memeluk Islam hanya untuk motif tertentu. Ironisnya, ia terkadang melakukan sesuatu menggunakan atas nama Islam. Padahal, itu hanya keberpura-puraan saja. Islam hanya dijadikan topeng semata.

Di tengah goncangan permasalahan, orang rela melakukan apa saja. Tak perlu banyak pertimbangan. Berbagai cara dilakukan. Keberpura-puraan dalam bertindak acapkali dihalalkan. Asal tujuan tercapai, cara apa pun ditempuh. Namun jarang dimengerti, bahwa keberpura-puraan merupakan gaya hidup yang dibenci Allah. Sifat ini menjadi salah satu tanda seseorang bisa diklaim sebagai munafik. Karena di dalam bersikap dia memiliki dua wajah. Di depan si A, ia akan mengatakan seperti apa yang diinginkan si A. Tapi di baliknya, ia malah tidak mengakui. Beginilah cara orang munafik bersikap.

Di zaman Rasulullah saw, hal ini pernah dilakonkan oleh sekelompok orang di Madinah. Bahkan sikap seperti ini berlanjut hingga Rasulullah saw. wafat. Hingga saat ini pun masih banyak pribadi-pribadi munafik tersebut bertebaran. Mereka mengaku beriman kepada Allah dan Rasulullah, namun itu hanya kamuflase saja.

Mereka mengaku memeluk Islam hanya untuk memperoleh keuntungan. Setelah keuntungan didapat, mereka enggan menjalankan ajaran Islam. Inilah pribadi yang disinggung Allah Swt. di dalam firman-Nya, “Di antara manusia ada yang berkata, “Kami telah beriman kepada Allah dan Hari Kemudian (Kiamat),” padahal mereka itu sesunguhnya bukan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Baqarah [2]: 8)

Di dalam “Tafsir Al-Mishbah”, Quraish Shihab menuliskan bahwa ayat ini mengupas tentang  ciri-ciri dan perilaku orang munafik. Mereka, yang diulas di dalam surat al-Baqarah ini, adalah sebagian anggota masyarakat Madinah pada belasan adab silam. Meski begitu, hakikat pesan dari ayat ini juga melukiskan kondisi sebagian besar masyarakat di sekitar kita.

Secara jelas, ayat tersebut menyebutkan bahwa hal paling pokok yang mereka lakukan adalah mengaku beriman kepada Allah dan Hari Kiamat. Karena hal yang paling membedakan antara Islam dengan agama yang lain terletak pada dua hal tersebut.

Bila dikaji, inilah yang terjadi pada bangsa Arab. Agama yang dianut mereka kala itu tidak mengakui adanya Allah dan Hari Kiamat. Sehingga dalam sejarah tercatat, orang munafik saat itu membohongi Rasulullah saw. dengan perilaku seakan-akan menjadi pengikut Rasulullah saw. dengan memeluk agama Islam, padahal mereka tetap mengimani kayakinan pendahulu mereka.

Polesan Kebohongan Orang Munafik

Secara etimologis, munafik diartikan dengn orang yang suka berpura-pura. Definisi dimaktubkan Allah di dalam firman-Nya, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya.” (QS. Al-Munafiqun: 1)

Dalam terminologi Islam, munafik didefinisikan sebagai orang yang berpura-pura beriman kepada Allah, tetapi hati dan perbuatannya justru tidak sepert itu. Ia hanya ingin dianggap beriman seperti orang yang beriman lainnya. Meski hatinya tak sama dengan orang beriman tersebut. Orang munafik lihai menyembunyikan sesuatu dengan rapi. Ia kerap membungkusnya dengan rapi melalui polesan kata. kebohongan dilapisi dengan kebenaran, sehingga orang lain pun sulit menyatakan bahwa ia berbohong.

Ciri-ciri orang munafik dijelaskan di dalam hadis Rasulullah saw. secara umum ada tiga hal. “Tanda-tanda munafik itu ada tiga hal. Pertama, apabila ia berkata maka dia berdusta. Kedua, apabila berjanji maka dia ingkat. Ketiga, apabila diberi amanat maka ia mengkhianatinya.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Bila dikaji satu per satu. Pertama, orang munafik selalu berdusta. Ini bisa dikaji di sejarah Rasulullah saw. Pribadi munafik sudah banyak bermunculan di masa Muhammad bin Abdullah masih hidup. Di hadapan Rasulullah saw. seakan-akan melindungi dan berdakwah untuk Islam. Namun, setelah Nabi wafat, mereka justru berusaha menghancurkan Islam dari dalam secara perlahan. Bahkan di antara mereka ada yang memproklamirkan diri sebagai Nabi.

Musailamah al-Kaddzab misalnya, Ia berusaha menghancurkan Islam setelah Nabi wafat, bahkan sempat membuat ayat-ayat palsu, meniru seperti ayat-ayat al-Qur’an. Musailamah digelar dengan al-Kaddzab karena telah membohogi Nabi saw. dan para sahabat dengan mengaku telah beriman kepada Allah dan Rasul-nya. Padahal, itu semua tipuan belaka.

Kedua, orang munafik di masa Rasulullah saw. masih hidup, suka inkar janji. Mereka menjadikan janji dan sumpah palsu sebagai jurus andalan, namun pada kenyataannya mereka mengingkari. Harapan mereka berjanji dan bersumpah palsu hanya satu, supaya diterima di kalangan masyarakat muslim dan tidak dianggap ingkar.

Ketiga, suka khianat.  Dia tidak bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikan. Pengkhianatan yang dilakukannya lebih disebabkan karena tergiur oleh bujuk-rayu setan. Harta, tahtan dan wanita kerap dijadikan setan sebagai umpan pokok yang membuat orang tergiur untuk berkhianat. Karenanya, Allah sangat tidak suka kepada orang yang berkhianat, baik itu kepada teman, keluarga, pemimpin ataupun kepada agamanya sendiri. Hal ini ditandaskan Allah di dalam beberapa surat al-Qur’an. Yaitu, surat al-Anfal ayatt 58, surat al-Hajj ayat 38 dan surat an-Nisa’ ayat 107.

Berhubungan dengan ini, Rasulullah saw. memberikan isyarat untuk mengidentifikasi siapakah sebenarnya yang disebut pengkhianat. Kata Nabi saw., seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa orang yang disebut sebagai pengkhianat adalah orang yang pada pagi dan sore harinya selalu melakukan tipu daya, baik kepada umat Islam, keluarga maupun hartanya sendiri.

Sedangkan di dalam riwayat Imam Bukhari, bahwa yang disebut pengkhianat adalah orang yang selalu bersaksi terhadap sebuah kebenaran, sementara mereka sebenarnya tidak diminta untuk bersaksi dalam hal tersebut. Dengan bahasa lebih sederhana, mereka begitu mudah sekali mengumbar kesaksin. Bahkan, tak tanggung-tanggu mereka pun siap bersumpah dan bernazar, meski kemudian tak dipenuhinya.

Karena sifat-sifat ini yang diperankan oleh kaum munafik, Allah Swt. kemudian menyamakan kedudukan orang munafik dengan orang fasik. Hal ini dimaktubkan di dalam surat Al-Hujarat ayat 49. Bahkan, di dalam surat At-Taubah ayat 68, 73, dan 74, Allah menyamaratakan orang munafik dengan orang kafir. Artinya, balasan bag orang munafik itu sama dengan orang kafir di akhirat kelak.

Menurut Ibnu Katsir, ada dua jenis sikap orang munafik. Pertama, orang munafik keyakinan. Mereka membohongi orang  dalam hal keyakinan. Mereka mengaku mukmin, tetapi ia sebenarnya kafir. Balasannya bagi orang munafik jenis ini adalah neraka. Kedua, orang munafik perbuatan. Jenis munafik ini kerap ditampilkan dalam perilaku berbuat baik, tetapi hakikatnya justru sebaliknya. Ini jenis munafik yang sangat berbahaya.

Oleh karena itu, Allah mengingatkan supaya kaum mukminin tidak tertipu oleh penampilan kaum munafik yang kerap menimbulkan kerusakan yang luas lantaran keyakinan mereka. Padahal, hakekatnya mereka tak jauh berbeda dengan orang kafir. Wallahua’lam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *