Qadha Shalat

Dr. H. Ahmad Zuhri, Lc.MA

Komisi Fatwa MUI Kota Medan

Pertanyaan:

Benarkah haram mengerjakan sholat sunnat termasuk sholat tarawih kalau masih ada sholat wajib yang tertinggal (masih ada qodho-an)? Evi Rahma Medan

Jawaban:

Pernyataan yang mengatakan haram melakukan sholat sunnat, termasuk tarawih karena masih ada shalat fardhu yang tetinggal adalah salah dan keliru, meski pada dasarnya shalat tidak bisa ditinggalkan dan tidak ada qadha dalam kondisi apapun, namun ada kasusu-kasus yang sudah terlanjur terjadi hingga jadi perbincangan dikalangan ulama.
Orang yang lupa melakukan shalat hingga diluar waktu hendaklah dilaksanakan ketika ingat. “ Dari Anas bin Malik berkata. ‘Rasulullah berrsabda, ‘Barangsiapa lupa shalat, hendaklah dia mengerjakannya ketika mengingatnya, tiada kafarat baginya kecuali yang demikian itu’. Lalu beliau membaca firman Allah. ‘Dan, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku'”.

Para ulama beda pendapat, apakah boleh menundanya ketika sudah mengingatnya ataukah harus langsung mengerjakannya?. Jumhur ulama mewajibkan pelaksanaannya secara langsung. Mereka yang berpendapat seperti ini, Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan para pengikut mereka. Sementara Asy-Syafi’i mensunatkan pelaksanaannya secara langsung dan boleh menundanya.

Ibnul Qayyim di dalam kitab ‘Ash-Shalat’ menegaskan pendapat yang menyatakan pembolehan penundaannya. Para ulama telah sepakat bahwa orang yang menunda shalat tanpa alasan hingga keluar dari waktunya, mendapat dosa yang besar. Namun empat imam sepakat mewajibkan qadha’ di samping dia mendapat hukuman, kecuali dia memohon ampun kepada Allah atas perbuatannya itu.

Ada segolongan ulama salaf dan khalaf yang menyatakan, siapa menunda shalat hingga keluar dari waktunya tanpa ada alasan, maka tidak ada lagi qadha’ atas dirinya sama sekali, bahwa qadha’nya tidak akan diterima, dan dia harus bertaubat dengan ‘taubatan nashuha’, harus memperbanyak istighfar dan shalat- shalat sunnah lainnya serta memperbanyak sedekah dan berbuat baik kepa orang lain .

Ulama yang  mewajibkan qadha’ berhujjah bahwa jika qadha’ ini diwajibkan atas orang yang lupa dan tertidur, yang keduanya di ma’afkan, maka kewajibannya atas orang yang tidak dima’afkan dan orang yang durhaka jauh lebih layak. Disamping itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat pernah shalat Ashar setelah masuk waktu Maghrib pada perang Khandaq. Sebagaimana yang diketahui, mereka tidak tertidur dan tidak lupa, meskipun sebagian diantara mereka benar-benar lupa, tapi toh tidak mereka semua lupa. Yang ikut mendukung kewajiban qadha’ ini ialah Abu Umar bin Abdul-Barr.

Adapun diantara orang-orang yang tidak mewajibkan qadha’ bagi orang yang sengaja menunda shalat ialah golongan Zhahiriyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Di dalam kitab Ash-Shalat, Ibnul Qayim menyebutkan berbagai macam dalil untuk menolak alasan yang tidak sependapat dengannya. Di antaranya ialah apa yang dapat di pahami dari hadits ini, bahwa sebagaimana yang dituturkan, kewajiban qadha’ ini tertuju kepada orang yang lupa dan tertidur. Berati yang lainnya tidak wajib. Perintah-perintah syari’at itu dapat dibagi menjadi dua macam : Tidak terbatas dan temporal seperti Jum’at hari Arafah. Ibadah-ibadah semacam ini tidak diterima kecuali dilaksanakan pada waktunya. Yang lainnya ialah shalat yang ditunda hingga keluar dari waktunya tanpa alasan.

Sabda Rasulullah. “Barangsiapa mendapatkan satu raka’at dari shalat Ashar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapatkan shalat Ashar”, sekiranya shalat Ashar itu dikerjakan setelah Maghrib, justru lebih benar dan mutlak, tentu orangnya lebih mendapatkan shalat Ashar, baik dia mendapatkan satu raka’at atau kurang dari satu raka’at atau dia sama sekali tidak mendapatkan sedikitpun darinya. Orang-orang yang berperang juga diperintahkan shalat, meski dalam situasi yang genting dan rawan. Semua itu menunjukkan tekad pelaksanannya pada waktunya. Sekiranya di sana ada rukhsah, tentunya mereka akan menundanya, agar mereka dapat mengerjakannya lengkap degan syarat dan rukun-rukunnya, yang tidak mungkin dapat dipenuhi ketika perang berkecamuk. Hal ini menunjukkan pelaksanaannya pada waktunya, di samping mengerjakan semua yang diwajibkan dalam shalat dan yang disyaratkan di dalamnya.

Tentang tidak diterimanya qadha’ orang yang menunda shalat hingga keluar dari waktunya, bukan berarti dia lebih ringan dari orang-orang yang diterima penundaannya. Mereka ini tidak berdosa. Kalaupun qadha’nya tidak diterima, hal itu dimaksudkan sebagai hukuman atas dirinya. Ibnul Qayyim menguraikan panjang lebar masalah ini.

Satu tanggapan untuk “Qadha Shalat

  • Januari 31, 2017 pada 10:26 pm
    Permalink

    Jadi, apakah boleh seseorang mengqodho sholatnya yg ditinggalkan nya secara sengaja sehingga berlarut-larut (bertahun-tahun) lamanya. Afwan ustadz

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *