Masalah dan Solusi Dalam Islam

Dr. Muhammad Syukri Albani Nasution, MA

Sekretaris Umum

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan

Alkisah ada seorang raja yang memiliki harta berlimpah dan seorang anak perempuan yang cantik jelita. Suatu hari sang raja membuat sebuah sayembara bagi para pria untuk mendapatkan sang putri anak dari sang raja serta dikabulkan apapun permintaan bagi siapa saja yang bisa memenangkan sayembara tersebut.

Seperti yang telah dijanjikan, berkumpullah para lelaki dari beragam usia, mulai yang muda hingga orang tua berkeinginan mengikuti sayembara tersebut.  Pada hari berlangsungnya kompetisi diadakan, belum ada seorangpun yang mengetahui apa gerangan tantangan yang harus dilalui untuk memenangkan sayembara tersebut. Sebelumnya, di samping istana ada sebuah kolam besar yang berisikan buaya-buaya lapar.

Singkatnya, sang raja pun keluar dari istananya dan akan mengumumkan apa gerangan tantangan yang akan diberikan bagi peserta. Pada saat sang raja mengatakan “bagi siapa saja yang bisa….” Terdengar suara air mengepak pertanda ada orang yang loncat kedalam kolam, lalu konsentrasi semua orang termasuk raja pun buyar, mereka langsung bergegas melihat kedalam kolam. Rupanya ada seorang lelaki setengah baya yang sedang berusaha berenang ketepian dan menghindari kejaran buaya-buaya lapar. Akhirnya lelaki tersebut pun selamat sampai kepinggir kolam.

Setelah sampai di pinggir kolam, dengan perasan senang dan bangga sang raja pun menghampiri pria ini seraya mengatakan “ wah, kamu hebat… belum lagi saya siap mengumumkan perihal tantangan yang akan diberikan, kamu sudah melompat kedalam kolam ganas itu, dan hebatnya kamu pun selamat, nah, sekarang apa yang kamu inginkan, katakan…? “, berulang kali sang raja menanyakan hal tersebut, namun si pria yang masih menggigil sebab kedinginan dan masih ketakutan tidak menjawab pertanyaan tersebut. Hingga sang raja pun sedikit mendesak, barulah ia berucap “ tidak sang raja.., saya hanya mau tahu siapa orang yang menolak saya kedalam kolam tadi…! “

Semua Masalah Harus di Selesaikan.

Cerita diatas bisa memberikan banyak makna dan interpretasi yang beragam, namun penulis melihatnya dari sudut keseriusan seorang manusia untuk membuat hidupnya bermakna dengan usaha yang dilakukan demi kelangsungan, kesejahteraan dan kemakmuran hidup. Pria yang ditolak kedalam kolam tersebut mungkin tidak pernah berfikir ia berani masuk kedalam kolam yang penuh dengan buaya ganas tersebut, kolam yang akan menentukan apakah ia masih bisa hidup atau tidak.

Disebabkan ia ditolak oleh orang lain, maka mau tidak mau ia harus berjuang untuk menyelamatkan hidupnya dari terkaman maut itu. Akhirnya ia pun selamat berkat kesungguhan dan konsistensi orientasi untuk selamat, bukan disebabkan hadiah yang bakal ia terima manakala ia berhasil menyeberangi kolam ganas tersebut.

Begitu juga dalam hidup. Semua masalah datang sesungguhnya telah disempurnakan Allah dengan solusi yang mengiringinya. Hal ini senada dengan apa yang dijelaskan Allah dalam Al Qur`an Surat Al Baqarah ayat 286 “Allah tidak membebankan seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala atas kebaikan yang dilakukan, dan ia mendapat siksa atas apa yang ia kerjakan…”. bukan frustasi, bunuh diri, menyiksa diri, menghancurkan karir, menghancurkan keluarga dan sederatan hal yang serupa yang menjadi solusi atas permasalahan yang kita dapati. Sebab, dalam usaha yang maksimal yang dikerjakan demi penyelesaian masalah tersebut ada solusi yang pada akhirnya akan mengakhiri masalah tersebut.

Hanya saja manusia sering terlena dengan ke apatisan, kemalasan, kepasrahan yang berlebihan. Padahal belum ada usaha maksimal yang dilakukan sudah keburu menyerahkannya kepada Allah, sudah keburu mencari solusi negatif yang justru lebih mempertajam dan memperbanyak masalah. Allah juga menjelaskan dalam Al Qur`an  yang maknanya “tidak akan Aku rubah satu kaum melainkan mereka sendiri yang merubahnya“.

Ayat tersebut memberikan makna secara luas tentang kewajiban setiap manusia untuk memikirkan, mengusahakan dan berjuang maksimal untuk keberhasilan hidupnya, untuk mengatasi masalah yang membelit dan untuk merubah nilai kehidupan ke arah yang bermakna.

Seorang  kepala keluarga yang miskin harta mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, alasannya ia tidak sanggup mencari nafkah lahiriyah kepada keluarganya. Contoh kasus seperti ini bukan memberikan kemudahan justru memberikan dampak lebih berat terhadap keluarganya, rasa trauma keluarga yang ditinggalkan sebab kematian, kepala keluarga yang tidak wajar, dan hilangnya tulang punggung keluarga yang mencari nafkah.

Hidup yang singkat ini harus menjadi nilai maksimal yang tidak boleh di sia-siakan sedikitpun. Allah juga menilai kesungguhan kita untuk berusaha membahagiakan diri kita dengan usaha- usaha keduniaan kita. Oleh karenanya, semua hidup ini penuh makna yang harus dilewatkan dengan indah.

Berfikir Positif, Memaksimalkan Usaha

Banyak manusia yang mengalami kegagalan disebabkan jarang berfikir positif dalam hidupnya. Yang akhirnya menyalahkan hidupnya sebagai ketidak adilan Allah memberikan takdir. Hal inilah yang nantinya secara terus menerus akan merusak orientasi dan jalan yang ditempuh dalam hidup.

Arnold Palmer dalam buku Jangan Mau Jadi Paku, Jadilah Palu .sebuah buku yang berisikan kumpulan tulisan-tulisan motivasi menyatakan “ Bila anda berfikir kalah, anda akan kalah. Bila anda takut, anda akan gagal. Bila anda ingin menang, namun merasa tidak mampu, hampir pasti anda akan menang. Setiap orang pasti akan mengalami masalah berat, cepat atau lambat kemenangan dan keberhasilan akan menjadi milik orang yang percaya bahwa kemenangan akan menjadi miliknya “.

Berfikir positif dan meyakini masalah akan bisa diselesaikan dengan usaha yang maksimal. Semoga kita termasuk bagian dari orang-orang yang meyakini usaha sebagai bagian dari penyelesaian segala masalah yang dihadapi. Hal tersebut juga akan berkaitan dengan kekuatan dan keyakinan akan kuasa Allah dalam Takdir NYA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *