Ternyata Hidup Ini Indah

Dr. Muhammad Syukri Albani Nasution, MA

Sekretaris Umum MUI Kota Medan

Beramallah untuk duniamu seolah olah engkau hidup selama-lamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seolah olah engkau akan mati esok.” Sebuah kata bijak yang sering didakwahkan untuk memaksimalkan nilai dan kualitas hidup kita. Mencari dan berusaha agar kesempatan hidup yang diberikan di dunia ini memberi laba untuk kehidupan dunia dan akhirat yang diyakini sebagai kehidupan yang kekal dan abadi.

Ada sebuah kisah yang ditulis di dalam buku kisah menciptakan nilai karangan Jarot Wijanarko tentang memaksimalkan kualitas hidup. Dalam ceritanya dijelaskan bahwa ada seorang pria yang sudah bosan hidup dengan beragam sebab, antara lain karena usaha yang hancur, keluarga yang tidak harmonis dan suasana lingkungan yang tidak bersahabat. Lalu si pria ini mendatangi seorang Master. Dalam keluhannya si pria tersebut menjelaskan kalau ia bukan sakit, namun ia hanya jenuh dengan hidupnya.

Mendengar keteguhan hati si pria untuk mengakhiri hidupnya, lalu sang master memberikan satu botol obat, syaratnya setengah botol pertama harus diminum malam ini, setengah botolnya diminum besok sorenya dan malamnya kamu akan mati kata sang master. Dikarenakan si pria sudah konsisten untuk menjemput kematiannya, maka ia menuruti syarat dari sang master.

Dalam benaknya, karena besok malam ia akan mati, maka malam ini ia harus makan malam bersama keluarganya untuk menikmati indahnya kebersamaan, setelah ia teguk setengah botolnya, lalu ia pun makan malam bersama keluarganya. Sesuatu yang sudah beberapa tahun terakhir ini tidak dilakukan keluarganya. Sambil makan ia bersenda gurau, bercanda begitu harmonisnya. Hal ini dilakukannya karena ia ingin meninggalkan kenangan manis dengan keluarganya.

Dengan fikiran untuk meninggalkan kenangan manis dalam hidup terakhirnya, ia pun bangun pagi dan membuka jendela serta merasakan tiupan angin yang begitu menyegarkan, ia pun berkeinginan untuk jalan pagi, setelah pulang ia melihat isterinya yang belum bangun tidur, maka ia pun membuat secangkir kopi untuk isterinya. Sang isteri pun merasa aneh dan akhirnya si isteri meminta maaf kepada suaminya atas perlakuannya selama ini. Sungguh keadaan  yang indah, yang dirasakannya menjelang kematiannya.

Di kantor, ia menyapa setiap orang, mengucap salam dan berkomunikasi dengan sangat santun, sehingga teman-teman kantornya pun heran melihat sikapnya, akhirnya teman-teman sekantornya yang semula cuek menjadi perhatian dan lembut kepadanya. Hingga sore harinya waktu untuk meneguk setengah isi botol obat tadi, ia pun merasa bimbang sebab keadaan sekelilingnya berubah, dan ia merasakan suasana baru yang sangat mengistimewakannya. Ditambah sepulang kantor ia langsung disambut isterinya dengan mesra.

Ditengah keraguannya, ia pun kembali mendatangi sang master dan bermaksud menanyakan perihal keinginannya untuk mati. Sesampainya disana, sang master langsung berkata “ sudah kuduga kedatanganmu, bagaimana sudah siapkah kau untuk mati..? “ lalu si pria menceritakan perihal penyesalannya, namun ia sudah meneguk setengah isi botol itu.., sang master pun mengatakan “ buang saja botol itu, isinya hanya air biasa, sekarang kau sudah sembuh..” akhirnya si pria pun pulang dengan gembira karena ternyata ia bukan meneguk racun.

Kisah ini sesungguhnya memberikan gambaran bahwa sesungguhnya hidup ini begitu bermakna jika dijalankan dan dinikmati dengan maksimal dan tentunya dengan berkualitas. Seseorang akan memaksimalkan nilai hidupnya jika ia akan tahu seberapa lama lagi kesempatan yang masih tersisa dalam hidupnya, namun, Allah tidak pernah memberitahu perihal kapan seorang hamba akan menjemput ajalnya.

Dalam Islam juga diajarkan tentang memaksimalkan kualitas hidup. Jangan sampai hidup yang singkat hanya akan memberikan beban bagi kehidupan di akhirat nantinya. Allah tidak pernah memberikan beban kepada hambanya jika beban itu tidak mampu dipikul dan diselesaikan oleh hambanya, hal ini juga dijelaskan Allah dalam Al Qur`an “ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia akan mendapat pahala atas kebaikan yang ia lakukan, dan ia akan mendapat dosa atas kesalahan yang ia kerjakan “.

 

Manusia dan Motivasi Hidupnya.

Sesunggunya umat Islam sangat sering mengulang-ulang apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidupnya, seperti apa yang ditegaskan Allah dalam surat An Nahl ayat 6 yang juga termasuk bacaan dalam shalat “ sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semua karena Allah SWT “. Sebuah janji yang harus menjadi motivasi dan tujuan dalam hidup. Menjadikan hidup menjadi ibadah yang nantinya akan dinilai oleh Allah.

Jika motivasi ini sudah disadari secara utuh oleh umat Islam, maka tidak akan ada lagi yang akan merasa bahwa hidupnya adalah beban , kelahirannya adalah sebuah kesalahan dan merasa bahwa ada ketidak adilan tuhan dalam memperlakukan seluruh hambanya.

Dalam Islam, ukuran sebuah kebahagiaan hidup adalah jika seluruh waktu dalam hidupnya bernilai ibadah dan ketaatan serta kecintaan kepada Allah. Rasa kepatuhannnya kepada hukum dan aturan Allah itulah yang nantinya akan menjaganya dari sesuatu yang dilarang Allah. Maka, jangan pernah mengukur sebuah kebahagiaan hanya dengan materialisme, jabatan, fasilitas kemewahan dan semacamnya. Itu hanyalah kendaraan seorang hamba untuk membuktikan kecintaan, kepatuhan dan ketaatannya kepada Allah.

Semua memiliki satu tujuan yang sama, walaupun dengan kendaraan yang berbeda, maka nikmatilah perbedaan kendaraan itu untuk benar benar berusaha sampai pada tujuan yang ditentukan Allah. Apa gunanya memiliki fasilitas dan kemewahan duniawi namun tetap saja salah dalam menempuh jalan keislaman yang ditentukan Allah.

Oleh karenanya, hidup ini adalah sebuah pilihan. Maka pilihlah jalan dan tujuan yang memang benar dan sesuai dengan tuntunan keislaman. Kesempatan hidup ini terlalu indah dan terlalu bermakna jika hanya disia-siakan dengan sesuatu yang tak bermakna, mari gunakan sehat sebelum sakit, senang sebelum susah dan hidup sebelum mati. Semoga Allah tetap memberikan petunjuk bagi kita semua untuk hidup yang lebih bermakna. Wallahu `a`lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *