Bekal Akhirat

H. Ali Murthado, M. Hum

Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan

Rasulullah saw bersabda kepada Abu Dzhar Al-Ghifari, “Wahai Abu Dzar, perbaharuilah perahumu, karena lautan itu sangat dalam. Carilah perbekalan yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh, kurangilah beban, karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi dan ikhlaslah dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruknya adalah zat Yang Maha Melihat.” (kitab Nashailul Ibad, Imam Nawawi Al Bantani).

Dalam hadist ini, ada empat hal yang diingatkan Rasulullah kepada Abu Dzar tentang bekal akhirat. Rasulullah menganalogikan dunia ini seperti lautan dan manusia berada di sebuah perahu. Karena itu Rasul mengingatkan, pertama, perbaruilah perahumu, karena lautan itu sangat dalam. Menurut Al-Bantani, perahu di sinilah adalah niat. Jadi perbaikilah niat kita dalam setiap beramal agar memperoleh pahala dan selamat dari siksa Allah.

Memang niat ini sangat penting, Rasul mengatakan, “Innamal  a’malu binniyati” (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat). Banyak orang yang sering menyumbangkan hartanya ke sana ke mari, tetapi karena niatnya bukan untuk Allah, melainkan hanya untuk dilihat orang dan supaya dianggap dermawan, maka tentu ia tidak akan mendapat pahala dari Allah. Bahkan bisa tergolong riya. Seharusnya mendapat pahala tetapi akhirnya mendapat dosa.

Masalah niat, memang masalah yang kecil, tetapi di sinilah manusia  kadang-kadang terjebak hingga apa yang dilakukannya tidak menghasilkan apa-apa. Banyak orang yang membantu orang tetapi niatnya bukan ikhlas kepada Allah, akibatnya tidak ada pahala yang ia dapatkan.
Maka, Rasulullah mengingatkan Abu Dzar –walaupun konteksnya kepada Abu Dzar tetapi juga diperuntukkan kepada semua umatnya–untuk selalu memperbaharui niat.

Dalam sebuah kisah. Seorang laki-laki hendak menebang pohon yang dianggap keramat, sehingga banyak orang yang tidak lagi memohon kepada Allah, melainkan memohon kepada pohon tersebut. Dengan niat yang ikhlas untuk mempertahankan tauhid masyarakat kampungnya, laki-laki itu lalu pergi dengan membawa kapak. Kapak tersebut sudah ia asah setajam-tajamnya agar sekali tebas pohon tersebut akan tumbang. Namun di tengah jalan ia berjumpa seseorang yang meminta agar ia tidak memotong pohon keramat tersebut. Lelaki itu tetap teguh ingin memotong pohon tersebut, namun dengan bujuk rayu dan diberikannya lelaki itu emas yang cukup banyak, akhirnya niat ingin memotong pohon tersebut pun hilang, karena sogokan orang yang dijumpai itu.

Setelah emas itu habis, lelaki tadi bermaksud untuk kembali menebang pohon tersebut. Tetapi setelah sampai di pohon itu ia tidak berjumpa kembali dengan orang yang memberinya emas seperti pada saat ia pertama hendak memotong pohon itu. Maka ia pun berusaha menebang pohon itu. Tetapi pohon itu tidak bisa dipotong.

Kisah ini menggambarkan kepada kita bahwa niat itu penting. Jika pada awalnya niat lelaki itu untuk menebang pohon agar masyarakat kampungnya tidak jatuh dalam kemusyrikan, tetapi pada hari yang lain ia datang bukan berniat untuk itu, melainkan berniat untuk mendapatkan emas dari orang yang melarang dia untuk menebang pohon tersebut.

Kedua, Rasulullah mengingatkan Abu Dzar untuk mencari perbekalan yang lengkap. Perbekalan di sini adalah amal. Sudahkan kita menimbun amal? atau kita malah menimbun beban? yang dalam hal ini disebut dengan kurangilah beban sebagaimana nasehat Rasulullah yang ketiga.

Kita mungkin tidak pernah berpikir bahwa amal adalah perbekalan sementara beban adalah dosa yang kita perbuat di dunia. Jika kita lebih memilih dunia, maka dosalah yang akan menimbun kita. Tetapi jika sebaliknya jika kita menginginkan akhirat, maka amallah yang akan diperbanyak.
Akhirat dianalogikan oleh Rasulullah dengan lautan yang dalam, perjalanan yang jauh dan rintangan yang sulit untuk diatasi. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri untuk hal itu.

Keempat, Rasulullah mengingatkan Abu Dzar untuk selalu ikhlas beramal, karena yang menilai baik buruknya suatu amal adalah Allah SWT. Mungkin kita menganggap jika kita sudah bersedekah, berzakat dan membantu orang miskin maka kita akan mendapat pahala. Dalam hal ini, Rasulullah mengatakan bahwa Allah lah yang menilai amalan kita, bukan kita sendiri atau orang lain. Bisa jadi, ketika kita melakukan suatu amalan tidak diberengi dengan keikhlasan akibatnya amal tidak kita dapatkan.

Akhirnya, mudah-mudahan apa yang dipesankan Rasulullah kepada Abu Dzar, mampu kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ingat, orang yang suci bukan orang yang dilihat dari sikap dan cara dia berkata-kata. Tetapi orang yang suci adalah orang yang dalam segala tindak-tanduknya selalu berpedoman kepada perintah dan larangan Allah SWT dan selalu ikhlas.

 

3 tanggapan untuk “Bekal Akhirat

  • Juli 27, 2018 pada 6:50 am
    Permalink

    Masyaallah, sangat bagus skali pembahasannya.
    Bagaimana mnjaga keseimbangan khusyuk dlm mempersiapkan bekal akherat maupun dlm kewajiban urusan dunia nya? Syukron

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *