Belajar dari Nyamuk

H. Ali Murthado, M. Hum

Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan

MANUSIA adalah makhluk yang diciptakan Allah sangat sempurna. Dilihat dari struktur tubuh, tidak ada makhluk yang dapat menyamai manusia. Mulai dari struktur wajah sampai hal-hal yang melengkapinya. Tidak ada sesuatu yang sama antara yang satu dengan yang lain kalaupun ia kembar, masih ada yang membedakannya. Itulah manusia.

Tetapi tidak jarang ada sebagian manusia yang merasa kesempurnaan yang Allah berikan itu tidak lengkap, akhirnya mereka berusaha melengkapi dengan menggantikan apa yang Allah tetapkan.

Selain itu, manusia juga terkenal dengan sedikit berterimakasih (bersyukur) dengan apa yang diberikan Allah, tetapi lebih banyak mengeluh terhadap apa yang ia terima. Diberi sedikit rezeki mengeluh, padahal banyak orang yang diberi rezeki lebih sedikit daripadanya. Diberi harta mengeluh, padahal banyak orang yang tidak diberi amanah untuk mengelola harta yang banyak tetapi mereka tetap bersyukur.

Dalam bincang-bincang saya dengan beberapa kelompok masyarakat. Kalau dipersentasikan, bicara tentang rezeki banyak orang yang mengeluh. Apalagi pada saat sekarang ini, gaji yang mereka dapatkan sepertinya kurang mencukupi kehidupannya. Sehingga masalah yang ia hadapi semakin banyak. Mulai dari rezeki yang ia dapatkan sedikit sampai kepada ketidaksyukurannya menerima rezeki tersebut.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 26 ada sesuatu yang menarik untuk kita renungkan.

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS Al-Baqarah : 26)

Kalau kita baca sepintas, apa maksud dari arti ayat tersebut. Bagi kita yang awam jelas arti tersebut harus dilihat dari sisi tafsirnya lagi sehingga jelas ayat itu mengarah ke mana dan apa objek yang dijelaskannya.

Dalam ayat tersebut, Allah memberi perumpamaan dengan seekor nyamuk.
Nyamuk merupakan salah satu makhluk Allah yang jelas sangat dibenci manusia. Hal ini dikarenakan nyamuk menghisap darah. Dari gigitannya bisa menimbulkan penyakit. Apalagi jika yang menggigit adalah nyamuk yang menyebar demam berdarah.

Lalu kenapa Allah memberikan perumpamaan dengan nyamuk. Ada apa dibalik semua itu ? Inilah pertanyaan kita yang muncul. Sederhana tetapi sebenarnya jika mau dikaji dan direnungkan akan memberi perenungan yang semakin dalam bagi kita.

Coba kita bayangkan! Nyamuk adalah makhluk Allah yang hidupnya sangat terancam. Kenapa ? Karena jika ia tidak makan mati dan jika ingin makan juga terancam akan mengalami kematian.

Dilematis memang tetapi itulah kenyataan hidup. Jika ia tidak makan, jelas akan mati. Tetapi jika ia ingin makan darah manusia, ia juga harus berjuang bahkan tidak jarang banyak nyamuk yang harus mati ketika ia sedang berjuang mencari makan karena setelah ia memakan darah manusia, satu tepukan tangan manusia telah menghilangkan nyawanya. Tragis memang kehidupan yang dialami seekor nyamuk. Tetapi itulah kehidupan. Baginya kehidupan adalah ancaman yang harus ia hadapi setiap saat.

Sementara manusia tidak pernah mendapat ancaman. Ia bisa bekerja dan mencari uang untuk hidupnya. Tidak ada ancaman yang ia hadapi. Tetapi kenapa ketika rezeki datang yang didapat mungkin hanya sedikit, bukan kesyukuran yang muncul tetapi keluhan yang berkepanjangan.

Maka perumpamaan yang diberikan Allah lewat makhluknya yang bernama ‘nyamuk’ harus kita sikapi dengan arif.

Nyamuk yang hidupnya selalu dibayang-bayangi dengan ancaman kematian tidak pernah mengeluh atau lari dari kenyataan hidup tersebut. Tetapi bahkan ia selalu giat mencari mangsa. Tidak takut walaupun nyawanya yang harus dikorbankan.

Sementara manusia, banyak hal yang sebenarnya dapat ia jadikan rezeki untuk hidupnya tetapi karena malas dan ingin instant maka apapun  ia lakukan apakah halal atau haram.

Oleh karena itu, belajar dari nyamuk sebenarnya kita harus malu. Bahwa Allah menciptakan kita dengan sangat sempurna, bahkan yang membedakan kita dengan makhluknya yang lain adalah akal. Akal inilah yang harusnya menjadi  nakhoda kita untuk melihat apa yang terjadi di tengah-tengah kita. Allah juga memberikan kepada manusia nafsu. Namun tidak jarang akal bisa berada di bawah kendali nafsu yang akhirnya seharusnya apa yang diberikan Allah disyukuri tetapi karena nafsu tidak merasa puas dengan apa yang didapatkan membawa akal untuk tidak pernah mensyukuri nikmat Allah itu. Jadi posisikan akal di atas nafsu. Sehingga dengan akal yang jernih akan membawa kita kepada kesyukuran kepada Allah.

2 tanggapan untuk “Belajar dari Nyamuk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *