Bila Kita Pendosa, Bertaubatlah

H. Ali Murthado, M.Hum

Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan

Dalam Kitab Mukasyafah Al Qulub, Imam Ghazali meriwayatkan bahwa pada zaman Rasulullah saw, Umar bin Khaththab, salah seorang sahabat terdekat Rasullulah menangis di depan pintu rumah Rasulullah. Mendengar suara Umar bin Khaththab berada di luar, maka Rasulullah saw segera keluar dan bertanya kepada Umar bin Khaththab, “Wahai Umar mengapa engkau menangis?”
Kemudian Umar menjawab: “Wahai Rasulullah, bersamaku ada seorang pemuda yang telah membuat hatiku sedih dengan tangisnya.”
Lalu Rasulullah saw memerintahkan Umar agar membawa masuk anak muda tersebut ke dalam. Atas perintah tersebut, Umar bin Khaththab lalu mengajak pemuda yang datang bersamanya sambil keduanya tetap menangis.
Pemuda itu disuruh duduk di depan Rasulullah saw dan Umar Ibnu Khaththab duduk di sebelahnya. Rasulullah saw kemudian bertanya: “Wahai pemuda, mengapa engkau menangis?”
Pemuda itu menjawab sambil tetap menangis: “Wahai Rasulullah, dosaku sangat besar dan aku takut Allah memurkaiku…”
“Apakah engkau telah menyekutukan Allah dengan sesuatu?” tanya baginda saw
“Tidak, ya Rasul,” sahut pemuda itu sambil tetap menangis.
“Apakah engkau telah membunuh seseorang dengan alasan yang tidak benar?” Rasulullah saw kembali bertanya.
“Tidak ya Rasul,” sahut pemuda itu sambil terus menangis.
Lalu Rasulullah saw bersabda: “Sungguh, dosamu sebesar apa pun, Allah akan mengampuninya, sekalipun memenuhi langit dan bumi.”
“Sungguh dosaku lebih besar dari itu, ya Rasul,” sahut pemuda itu.
“Apakah besar dosamu melebihi Arasy? Besar mana dengan Arasy?” tanya Baginda saw lagi.
“Dosaku sangat besar, ya Rasulullah.”
“Lalu besar mana dosamu dengan keagungan, ampunan, dan rahmat Allah?” tanya Rasulullah saw .
“Tentu keagungan, ampunan, dan rahmat Allah lebih besar. Tetapi dosaku sangat besar, ya Rasulullah” jawabnya masih dalam keadaan menangis terisak-isak.
Karena kurang mengerti maksud pengakuan dari pemuda itu, akhirnya Rasulullah saw mendesaknya, “Cobalah katakan dosa apa yang pernah engkau perbuat?”
“Aku malu menyebutnya, ya Rasulullah…” kata si pemuda itu.
Karena Rasulullah saw terus mendesak pemuda itu untuk mengatakan dosanya secara jujur. Maka dengan perasaan malu dan takut, pemuda itupun menceritakan dosa yang dilakukannya.
“Wahai Rasulullah, aku ini seorang penggali kubur, sejak tujuh tahun lalu. Hingga meninggalnya puteri dari seorang sahabat Ansar. Melihat kecantikan dan kemontokan tubuhnya, nafsu birahiku memuncak. Setelah kuburan sepi, ku bongkar kuburnya dan ku telanjangi mayat gadis itu. Setelah ku cumbui, nafsu berahiku tak dapat ku tahan, lalu ku setubuhi. Saya terkejut, tiba-tiba mayat gadis itu berkata, “Tidakkah engkau malu kepada Allah, pada hari Allah menghukum orang-orang yang berbuat zalim, sementara engkau menelanjangiku dan menyetubuhiku diantara orang-orang yang telah mati. Engkau membuatku dalam keadaan junub di hadapan Allah!”
Mendengar pengakuan dari si pemuda itu, Rasulullah saw segera bangkit berdiri dan meninggalkannya, seraya berseru: “Hai pemuda fasik, pergilah! Jangan engkau dekati aku! Nerakalah tempatmu kelak!”
Pemuda itu pun segera keluar meninggalkan rumah Rasulullah seraya menangis. Dia berjalan dengan arah tak menentu keluar kampung. Sampailah dia di padang pasir yang luas lagi panas. Tujuh hari lamanya ia tidak makan dan minum karena penyesalan dan kesedihan yang sangat mendalam hingga lemahlah keadaan tubuhnya tak kuasa lagi berjalan, lalu kemudian jatuh tersungkur di tempat itu. Di atas pasir ia bersujud kepada Allah, lalu berdoa dan memohon ampunanNya dalam tangisnya.
“Ya Allah, aku adalah hambaMu yang telah berbuat dosa besar. Sekarang aku datang ke pintu-Mu, agar Engkau berkenan menjadi penolongku disisi kekasih-Mu. Sungguh Engkau Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Mu dan tiada tersisa harapanku kecuali kepadaMu. Ya Allah Tuhanku, sudilah menerima kehadiranku, kalau tidak datangkanlah api-Mu dari sisi-Mu, dan bakarlah tubuhku dengan api-Mu di dunia ini, daripada Kau bakar tubuhku di akhirat nanti.”
Setelah itu Malaikat Jibril a.s datang kepada Rasulullah saw. Usai menyampaikan salam dari Allah, Jibril as berkata: “Wahai Muhammad, Allah SWT bertanya kepadamu, “Apakah engkau yang menciptakan makhluk?”
“Bahkan Dialah yang menciptakan diriku dan mereka,” jawab Rasulullah saw.
“Apakah engkau memberi rezeki kepada mereka?” tanya Jibril a.s.
Rasulullah menjawab: “Bahkan Dia memberi rezeki padaku dan mereka.”
“Apakah engkau menerima taubat mereka?” tanya Jibril a.s untuk kali yang sekiannya.
“Bahkan Dia yang berhak menerima taubat dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya” ujar Rasulullah saw.
Jibril a.s lalu berkata, Allah berfirman kepadamu; “Telah datang kepadamu seorang hamba-Ku dan dia menerangkan satu dosa dari beberapa dosanya, maka kamu berpaling (marah) kepadanya dari dosanya, maka bagaimana keadaan orang-orang mukmin kelak, apabila mereka datang dengan dosa yang banyak lagi besar ibarat gunung yang besar? Engkau adalah utusan-Ku yang Aku utus sebagai rahmat untuk seluruh alam. Maka jadilah kamu orang yang sayang menyayangi pada semua orang yang beriman, menjadi penolong bagi orang-orang yang telah berdosa dan memaafkan keterlanjuran dan kesalahan mereka (hamba-Ku); karena sesungguhnya Aku telah mengampunkannya (menerima taubatnya) dan dosanya.”
Kemudian Rasulullah saw mengutus beberapa orang sahabat, maka mereka temui pemuda tersebut lalu memberikan kabar gembira kepadanya dengan maaf dan ampunan-Nya. Lalu mereka membawa pemuda tersebut berjumpa Rasulullah yang saat itu sedang menunaikan salat  Maghrib, dan mereka pun bermakmum di belakangnya.
Ketika Rasulullah SAW membaca surah Al Fatihah yang dilanjutkan dengan surah At-Takaatsur (Al Haakumuttakaatsur), sesampai baginda membaca ‘Hattaa  zurtumul maqaabir’ (Kamu telah dilalaikan sehingga kamu masuk kubur), maka berteriaklah pemuda itu dengan keras sekali langsung jatuh. Ketika mereka selesai salat mereka dapati pemuda itu telah meninggal dunia.
Kisah ini menjelaskan kepada kita bahwa tidak seorangpun yang tahu apakah amalan yang dikerjakannya itu diterima Allah atau tidak. Atau apakah setiap doa memohon ampunan kepada Allah diterima atau tidak. Namun kita harus yakin bahwa setiap orang pasti punya dosa. Seluas dan sedalam apapun dosa orang tersebut, tidaklah mampu mengalahkan ‘rahmat’ Allah SWT. Karena itu berdoalah selalu kepada Allah agar Allah memberikan rahmatnya untuk kita sehingga perbuatan dosa yang pernah kita lakukan bisa hapus dengan rahmat Allah tersebut. Karena itu jangan selalu mengganggap diri ini suci dari orang lain, boleh jadi kita lebih kotor dari orang yang kita anggap kotor tersebut. Karena itu ingatlah, semuanya itu terpulang kepada keinginan kita untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang ada.

2 tanggapan untuk “Bila Kita Pendosa, Bertaubatlah

  • Juli 27, 2018 pada 7:59 am
    Permalink

    Masyaallah, aungguh kisah yg mengharukan skali dan mberikan nasihat yg bgtu baik untuk kita.
    Bagaimana taubat yg bnar dan pasti diterima nya oleh allah? Dan bagaimana untuk trus istiqamah dijalan-Nya?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *