Hormati Perbedaan

H. Ali Murthado, M. Hum

Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan

DI MASJID Lahore India, seorang santri ditanya tentang kejadian yang ia lihat di masjid di Afghanistan. Ada seorang yang sedang salat melihat kawan di sampingnya menggerakkan telunjuknya ketika mengucapkan kalimat tasyahud. Ia memukul jarinya dengan keras sehingga patah. Santri itu menjawab “Memang benar peristiwa itu terjadi.” Ketika ditanya apa sebabnya, ia menjawab bahwa orang itu telah melakukan hal yang haram dalam salat, yaitu mengerakkan telunjuknya. Ketika ditanya lagi apa yang menjadi dasar diharamkannya menggerakkan telunjuk. Santri itu menunjukkan kitab fiqih yang ditulis oleh Syaikh al-Kaydani.

Banyak lagi-lagi contoh yang memberikan legalitas negatif dalam bentuk ‘menyakiti’ hanya gara-gara berbeda pemahaman dalam soal fiqh, padahal al-Qur’an menjelaskan, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS Al-Ahzab : 58) dan “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.” (QS Al-Ahzab : 69).

Memang sangat sulit menjelaskan bahwa fiqh merupakan pemahaman dari ulama yang memang mempunyai otoritas untuk itu. Sehingga karena berbeda penafsiran dalam suatu ayat yang masing-masing ulama berpegang kepada dalil-dalil yang ada sehingga terjadi sebuah perbedaan yang diistilahkan ikhtilaf.

Tetapi jangan pula beranggapan bahwa setiap orang Islam dapat mengeluarkan fatwa atau pemahamannya (fiqh). Sehingga ia berani mendeklarasikan bahwa ia tidak mempunyai mazhab. Hanya orang-orang yang berilmu dan memenuhi syarat untuk mengeluarkan pemahamannya, sementara kita-kita yang belum mempunyai ilmu untuk itu paling tidak kita hanya i’tiba, yaitu mengikut pendapat dari salah satu imam mazhab, tetapi juga tahu dari mana imam mazhab tersebut mengambil dalil-dalilnya, sehingga kita memahami apa yang kita ikuti. Bukan sebaliknya mengikut secara taklid buta.

Ketika penulis duduk di bangku kuliah, kebetulan memang jurusan yang diambil di IAIN Sumatera Utara – sekarang UIN Sumatera Utara – adalah Perbandingan Mazhab (PM), di sana penulis diajarkan untuk tidak selalu taklid kepada pendapat imam mazhab yang ada, namun harus dilihat apa yang menjadi dasar seorang imam mazhab berbeda dalam mengeluarkan fatwanya.

Jadi sulit sekali rasanya menyalahkan pendapat dari imam-imam mazhab yang ada karena mereka begitu konsen mencari dasar-dasar rujukan mereka dalam berpendapat. Bahkan jarang sekali kita dengar para imam mazhab ini saling salah menyalahkan.

Tulisan KH Didin Hafidhuddin sempat penulis kutip dalam tesis penulis yang berhubungan dengan perbedaan pendapat imam mazhab tetapi mereka saling menghargai  perbedaan tersebut yaitu, dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Imam Hanafi meninggal dunia, Imam Syafi’i sebagai salah seorang muridnya diminta mengimami salat Subuh di Masjid Imam Hanafi tersebut. Imam Syafi’i yang biasa membaca do’a qunut subuh ternyata pada waktu itu tidak membacanya. Setelah  selesai salat, para jemaah bertanya, “Bukanlah Anda yang selalu menganjurkan sunnah do’a qunut. Mengapa sekarang tidak membacanya ?” Beliau menjawab, “Saya menghormati imam masjid ini (maksudnya Imam Hanafi yang tidak menganggap sunnah membaca do’a qunut).”

Bukan main, suatu penghormatan yang tinggi antara murid dan guru. Walaupun mereka tidak sependapat dalam beberapa hal, tetapi mereka saling menghormati, tidak menyakiti apalagi saling mencaci.

Jangan kita jadikan perbedaan pendapat, atau perbedaan fiqh membuat kita pecah. Karena biasanya terjadinya perbedaan hanya dalam furu’(cabang)nya saja. Proses menyakiti sering kita lihat pada saat melakukan thawaf di Baitullah. Ada sebagian orang yang berpaham tidak afdhol (sempurna) rasanya jika tidak mencium hajar al-aswad (batu hitam). Akibatnya dengan segala upaya ia lakukan agar dapat mencium batu dari surga ini. Dan untuk sampai mencium batu ini terkadang ia harus menyakiti orang lain, apakah dengan menyikutnya atau berusaha melewati orang yang ada di depannya. Padahal sebenarnya tidak ada kewajiban jika melaksanakan ibadah haji harus mencium hajar al-aswad. Tetapi ini pula pertanyaan awal yang biasanya datang dari kaum kerabat, ketika kita sudah berada di tanah air. “Bisa kau cium hajar al-aswad tersebut ?”

Terlepas apakah kita ikut menyakiti atau disakiti pada saat kita mengamalkan apa yang menjadi keyakinan kita dalam bermazhab, paling tidak kita harus menyadari bahwa kebenaran yang absolut adalah milik Allah SWT. Kita hanya mampu mengatakan bahwa inilah keyakinan kita dengan segala dasar dan dalil yang pernah kita yakini kebenarannya. Namun kita tidak bisa mengklaim bahwa pemahaman dalam bentuk fiqh kita saja kita yang benar sementara pemahaman orang lain yang salah. Tetapi kalau sudah sampai kepada persoalan aqidah, kita harus yakin seyakin-yakinnya bahwa keyakinan kita itulah yang benar. Karena kalau kita tidak yakin, berarti kita menganggap aqidah orang lain juga benar, ini yang tidak boleh.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.(QS Al-Baqarah : 132)

Dan ketika kita sudah bersyahadat untuk masuk Islam maka segala sesuatu haruslah mencerminkan nilai-nilai keislaman. Karena tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam, tetapi ketika sudah masuk, maka ikutilah Islam itu secara kaffah (sempurna)

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah : 208) dan “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 256).

Oleh karena itu janganlah kita saling menyakiti terutama dalam masalah perbedaan fiqh. Bahkan bagi kita yang ber beda aqidah, juga dilarang saling mencaci, karena Allah telah menggariskan, laqum dinukum waliyadiin, untukmu agamamu, untukku agamaku. Karena beragama bukan membuat para pemeluknya menjadi brutal atau saling menyakiti tetapi adalah untuk keselamatan dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *