Hoax : Perspektif Etika Islam

Drs. Zulkarnaen Sitanggang, MA.

Sekretaris Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat

Majelis Ulama Indonesia Kota Medan.

Kata Ho

ax dalam bahasa Inggris yang berarti; tipuan, menipu, berita bohong, berita palsu, dapat pula sebagai kabar burung. Berbagai literatur memberikan defenisi Hoax adalah sebuah berita palsu guna menipu atau mengakali para pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu konten berita, padahal si pembuat berita itu, sesungguhnya mengetahui bahwa berita itu palsu, alias bohong, tidak dapat dipertanggung jawabkan melalui aspek yuridis.

Era digital  begitu canggih. Dunia ini dekat.  Media sosial bermunculan, bagaikan jamur tumbuh di musim hujan, seperti FC, istagram, twiter, WA, dll. Lajunya era digital ini, kita tidak dapat membendungnya. Ibarat sebuah ungkapan : you can not stop the wive but you can how to learn searfing ( kamu tidak dapat menyetop gelombang akan tetapi persiapkan berselancar agar selamat dari gelombang ). Tidak mungkin tidak basah dalam berselancar, tapi dipastikan tidak hanyut dibawa arus.  Media ini menembus dalam berbagai aspek kehidupan dan lapisan masyarakat. Satu sisi dapat mempermudah  kehidupan manusia dalam memperoleh berbagai informasi, transaksi bisnis, dsb, disisi lain dapat juga digunakan sebagai alat untuk menipu, memberikan ketidaknyamanan melalui pemberitaan yang bersifat bohong atau fitnah.
Bangsa kita sedang mengalami berbagai transisi /reformasi dalam berbagai aspek kehidupan. Sejatinya Media sosial sebagai kompas yang positif, daya gerak pemberitaan yang benar dan baik, konstruktif. Akan tetapi sungguh disayangkan lebih banyak konten berita yang bersifat bohong, fitnah, destruktif, mengakibatkan disharmoni diantara sesama anak bangsa. Bahkan bisa berujung kepada ranah hukum. Terjadi, saling lapor melaporkan kepada penegak hukum, yang sejatinya permasalahan dapat diselesaikan dengan pola kearifan lokal. Sungguh tercabik ikatan sosial bangsa kita yang selama ini utuh dan harmoni serta dinamis baik antara host population ( tuan rumah ) dan imigration population ( pendatang ). Menyatu diikat idiologi Pancasila dan Bhinneka tunggal ika serta nilai-nilai kearifan lokal. Apakah karena, sedang berlangsung  pilkada di berbagai Provinsi dan kabupaten kota di seluruh Indonesia tahun 2017. Jika ia, berarti pasca Pilkada 15 Februarai 2017, situasi akan normal kembali.
Dalam studi Etika Islam, bahwa perbuatan Hoax adalah sangat dilarang bahkan dalam Hukum Islam jatuh kepada haram, konsekwensinya berdosa dan akan dipertanggung jawabkan nantinya di hadapan Sang Khaliq. Seorang Muslim harus sesuai apa yang dikatakannya/ditulisnya di berbagai Medsos dengan perbuatannya/aksinya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai anjuran dalam (QS. Ash-Shaff : 2-3 ) sebagai berikut : Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman. Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Hal ini sangat dibenci Allah, jika kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.” Pesan Firman ini mempertegas agar setiap pribadi sesuai kata dengan perbuatan.
Lantas, Etika Islam mengajarkan jika ada sebuah berita yang sampai kepada kita haruslah kita kroscek, konfirmasi dan tidak ditelan bulat-bulat. Hal ini sesuai pesan Firman Allah ( QS. Al-Hujurat : 6 ), yang Artinya :  “Wahai orang-orang yang beriman. Jika seseorang yang Fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kecerobohanmu, yang akhirnya kamu menyesali kelakuanmu itu.”

Hal ini mempertegas kepada orang beriman, menggunakan akal pikiran yang sehat guna menakar berbagai berita, apakah berita itu benar, atau ada unsur fitnah, sehingga jika kita teliti, maka di kemudian hari kita tidak akan terjebak kepada perbuatan yang sia-sia, konsekwensinya tertuduh sebagai memfitnah, perasaan tidak menyenangkan orang lain, yang pada ujungnya akan berhadapan di pengadilan.
Ada sebuah hikmah dialog antara Socrates dengan seseorang. Socrates adalah seorang yang begitu terkenal dengan pengetahuan serta kebijaksanaannya. Pada suatu hari ada seorang pemuda yang mendekatinya. Dengan berseri-seri, ia ingin menyampaikan suatu gosip. Tahu bahwa Socrates akan diberi berita, lantas Socrates berkata, sebentar dulu temanku. Sebelum engkau menyampaikan kabar itu, tolonglah uji apa yang ingin kamu sampaikan itu dengan ujian saringan tiga kali. Lantas pemuda itu terdiam dan bingung dan bertanya. Apa itu ujian saringan tiga kali ?. Socrates lalu berkata, saringan pertama adalah kebenaran. Sudah pastikah kamu bahwa yang akan kamu sampaikan itu benar ?. Pemuda itu berkata, wah saya belum yakin, karena baru mendengarnya. Lalu Socrates melanjutkan bahwa saringan yang kedua ialah kebaikan. Apakah yang kamu katakakan itu merupakan sesuatu yang baik ?. Lantas pemuda itu langsung menimpali, justru yang mau saya katakan adalah sesuatu yang buruk dan tidak tahu apakakah itu benar atau tidak. Sekarang ujian saringan yang ketiga ialah, kegunaan. Apakah yang akan  kamu katakan itu berguna buat saya ?. Lantas pemuda itu semakin pucat dan berkata, mungkin tidak ada gunanya. Lantas, Socrates menimpali, lalu buat apa kamu mengatakannya kepadaku, jika itu belum tentu benar, tetapi jelas buruk dan tidak berguna pula. Pemuda itu merasa malu, lalu pergi dari hadapan Socrates.
Pembaca yang budiman, kehidupan berkomunikasi lewat media sosial punya dampak yang luar biasa bagi diri dan lingkungan. Justru itu, sejatinya substansi konten berita harus diuji dengan tiga hal, kebenaran, kebaikan dan kegunaan. Tidak sembarangan berbicara, menuangkan tulisan lewat media sosial. Ada ungkapan bijak, pikir itu pelita hati. Mulutmu harimau kamu. Kata-kata yang telah diucapkan dan menyakiti hati seseorang, adalah ibarat panah yang terlanjur meleset dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak bersalah. Kata-kata kita tidak pernah bisa ditarik kembali. Hati-hatilah dengan ucapan dan tulisan-tulisan lewat medsos.
Dengan menggunakan Medsos yang sehat, beretika, tidak menyebar berita bohong, memfitnah, menunjukkan karakter seseorang. Mengukur keperibadian seseorang dapat dilihat sesuainya kata dengan perbuatan. Mari kita jadikan Media sosial sebagai wahana mempererat silaturrahim sesama anak bangsa menuju masyarakat yang harmoni dalam menatap masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *