Hukum Memakai Gigi Palsu

Drs. Kiyai Muhyiddin Masykur

Sekretaris Lembaga Zakat, Wakaf, Infaq dan Shadaqah

MUI Kota Medan

 

Pertanyaan : Bagaimana hukumnya memakai gigi palsu dan bagaimana jika yang memakai gigi palsu tersebut kemudian meninggal? Apakah harus dilepaskan atau boleh dibiarkan?

Jawaban : Sesungguhnya gigi seorang manusia adalah mempunyai beberapa fungsi dan manfaat. Di antara manfaatnya membantu alat pencernaan untuk menghancurkan makanan yang sekiranya tidak bisa dicerna oleh organ pencernaan yang ada di dalam tubuh. Manfaat lainnya adalah membantu memperjelas huruf – huruf yang diucapkan, karena gigi seseorang yang tidak sempurna pasti dia akan kesulitan dalam mengucapkan kalimat yang di dalamnya terdapat huruf yang makhrajnya dekat dengan gigi sehingga bisa mempengaruhi bacaan – bacaan yang diucapkan. Fungsi lainnya adalah sebagai hiasan yang akan kelihatan elok dan enak dipandang apabila gigi kita masih kelihatan utuh dan sehat.

Mengingat beberapa fungsi dan manfaat gigi tersebut maka wajar apabila kita banyak melihat orang yang rusak giginya ingin mempunyai gigi yang utuh kembali maka mereka mengambil jalan menempel maupun memasang gigi palsu.

Adapun hukum menggunakan gigi palsu tidak dilarang oleh agama Islam. Dalam kumpulan fatwa Syeikh Attiyah Shaqar (ketua Lajnah Fatwa Mesir 1997) menjelaskan bahwa memakai gigi palsu tidak dilarang dalam agama karena memang tidak ada dalil yang melarangnya. Dalam kaidah fiqh dijelaskan : Al Ashlu Al Ibahah artinya asal segala sesuatu di luar ibadah adalah boleh hukumnya, selama tidak ada dalil yang melarangnya. Bahkan sebagian ulama’ ada yang membolehkan menggunakan gigi palsu yang terbuat dari emas.

Di dalam Fatwa Syeikh Attiyah Shaqar juga dijelaskan apabila pemakai gigi palsu tersebut meninggal, maka giginya tidak perlu dilepas kalau memang dipasang secara permanen. Dalam arti ketika kita akan melepaskan gigi tersebut harus dilakukan melalui operasi, karena demi untuk menghormati jasad mayat. Kecuali apabila gigi tersebut dari bahan yang mempunyai nilai seperti emas misalnya sehingga akan mendorong manusia untuk mencurinya, maka lebih baik gigi tersebut dilepas. Namun apabila gigi palsu itu tidak dipasang secara permanen sehingga mudah untuk dilepas maka lebih baik dilepas. Karena hal itu tidak ubahnya seperti perhiasan yang tidak ada manfaatnya apabila disertakan pada mayat bahkan termasuk tabdzir (menyia – nyiakan harta benda) yang tidak disukai oleh agama.

Di dalam kitab Ahkamul Fuqoha’ hlm 77 dijelaskan apabila mencabut gigi emas tersebut menodai kehormatan mayat maka hukumnya haram dicabut. Dan apabila tidak, maka bila mayat itu seorang laki – laki yang dewasa maka wajib dicabut, dan bila seorang wanita atau anak kecil maka terserah kerelaan ahli warisnya. Wa Allahu Yahdi ila Sawa’is Sabil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *