Dapatkah Mengubah Takdir?

H. Ali Murthado, M. Hum

Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan

BICARA takdir, semua orang pasti tidak tahu bagaimana takdirnya ke depan, apakah ia menjadi orang kaya atau miskin, atau masuk surga atau neraka. Hanya Allah saja yang tahu. Tetapi pertanyaannya adalah apakah kita bisa mengubah takdir. Ada yang mengatakan takdir tidak bisa diubah, tetapi ada juga yang berpendapat, karena kita tidak tahu takdir kita sesungguhnya maka takdir bisa saja diubah.

Terlepas dari dua masalah tersebut ada kisah yang menarik yang berhubungan dengan masalah takdir ini.

Ketika Umar bin Khattab ra. berangkat menuju Syam, ia mendapat kabar bahwa di Syam telah tersebar wabah penyakit malaria yang telah merengut banyak korban jiwa. Umar pun menyuruh semua yang ikut bersamanya untuk kembali ke Madinah dan mencegah orang-orang yang datang untuk tidak memasuki kota Syam.

Salah seorang dari rombongan tersebut Abu Ubaidah bin Jarah bertanya, “Wahai Umar apakah kita akan lari dari takdir Allah SWT.”

Maka Umar menjawab, “Bukankah Allah SWT telah mengubahmu dengan takdir-Nya wahai Abu Ubaidah ?”

Umar lalu menjelaskan, “Kita menjauh dan pergi dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Apakah engkau melihat bila engkau mempunyai unta yang digembalakan pada dua lembah, satu lembah kehijau-hijauan penuh dengan rumput yang subur sedang satu lembah yang lain  tandus tanpa tanaman. Bila engkau memilih untuk mengembalakan untamu di padang rerumputan yang hijau itu berdasar takdir Allah, maka bila engkau menggembalakannya di padang lain yang tandus, maka itu juga bagian dari takdir Allah. Lalu, takdir Allah manakah yang engkau pilih ?”

Dalam konteks ini, Umar menjelaskan bahwa pada dasarnya takdir seseorang itu berbeda dengan orang lain. Artinya bila takdir satu kaum bisa dihindari kaum yang lain maka seyogyanya kaum  tersebut menghindari takdir tersebut.

Sebagai contoh, di kota Syam terjadi musibah, maka tidak ada salahnya menghindari musibah tersebut, karena boleh jadi Allah memilih takdir kita berbeda dengan penduduk Syam.

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.(QS al-Ahzab : 17).

Saat ini banyak orang yang mengangap bahwa kehidupannya di dunia ini sudah ditakdirkan Allah. Kalau dia miskin maka mungkin itulah takdirnya sehingga ia tidak berusaha untuk bekerja sehingga kemiskinannya hilang.

Mungkin dalam beberapa hari ini, panas begitu terik, sehingga kalau kita berjalan di tengah panas terik tersebut boleh jadi akan membuat kita susah. Tetapi ada juga yang melakukan hal tersebut, karena menurutnya, panas terik tersebut adalah ketentuan Allah dan kenapa kita harus menghindari dari ketentuan tersebut.

Di satu sisi, ada juga orang lain yang berpendapat berbeda. Walaupun Allah menjadikan pada minggu-minggu belakangan ini panas terik, bukan berarti kita harus berjalan pada saat panas terik tersebut tanpa satu alat yang menghalangi diri kita dengan pancaran sinar matahari tersebut. Kita boleh berjalan di panas terik tersebut tetapi untuk menghindari panasnya dapat kita payungi tubuh kita sehingga kita tidak merasa panas.

Ini berarti bukan kita tidak menerima takdir Allah atau lari dari takdir tersebut tetapi sesuai dengan perkataan Umar, “Bukankah Allah SWT telah mengubahmu dengan takdir-Nya ?”

Banyak orang yang tidak berusaha menghindari  sesuatu yang belum tentu itu takdirnya. Sebagai contoh, banyak orang yang terkena penyakit kanker dan telah divonis dokter ia akan meninggal paling lama 1 atau 2 bulan.

Karena merasa itu sudah takdirnya, ia tidak berusaha menyembuhkan penyakit tersebut. Ia pasrah dengan takdirnya tersebut. Padahal boleh jadi takdirnya bukan itu. Karena tidak ada seorangpun yang tahu kapan ia akan dicabut nyawanya oleh Allah. Jika kita beranggapan bahwa penyakit tersebut yang membuat kita harus berpisah antara ruh dan jasad, maka seolah-olah penyakit tersebut lebih ‘hebat’ dari kekuasaan Allah.

Maka tidak ada salahnya, berusaha mencari kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan ini tidak dianggap lari dari takdir, karena siap yang tahu kapan kita meninggal. Tetapi kalau kita pasrah dan tidak berusaha untuk menyembuhkan penyakit yang kita derita sama sajalah kita menganggap apa yang kita lakukan akan sia-sia saja.

Kita mesti ingat, bahwa di dalam diri kita banyak peluang-peluang untuk menuai kesuksesan. Karena itu, jangan ada kata menyerah apalagi menyalahkan takdir.

Orang miskin dan orang kaya mungkin berbeda takdirnya, tetapi bukan berarti orang kaya ketika ia lahir sudah menjadi kaya tetapi mungkin saja mengalami peroses jatuh bangun. Dalam benak kita itulah takdir orang kaya tersebut tetapi apakah   langsung menjadi kaya karena takdirnya menjadi orang kaya ? Tentunya takdir itu tidak akan berjalan jika prosesnya tidak ada. Itulah yang disebut dengan ikhtiyar (usaha).

Tetapi jika kita sudah berikhtiyar namun kita tidak kaya-kaya, maka bertawakallah karena sesungguhnya kita tidak mengetahui bagaimana sebenarnya takdir kita dihadapan Allah.

Yang jelas, persoalan takdir memang bukan dimensi yang bisa prediksi.

Tidak ada yang mampu mengatakan bahwa ke depan negara ini lebih baik dari hari ini. Atau negara ini lebih buruk dari kemarin. Tetapi sebagai hamba Allah kita diharapkan selalu berikhtiyar mencari yang terbaik. Karena itu jangan terlalu risau dengan ramalan-ramalan yang ada, karena ramalan tersebut merupakan sesuatu yang mencoba meraih keinginan Allah tetapi Allahlah yang dapat melindungi makhluknya dari apa yang Ia kehendaki apakah bencana atau rahmat.

Kita hanya disuruh berusaha dan berusaha agar kita tidak menjadi orang yang pesimis tetapi harus menjadi orang yang selalu oktimis, bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini. Dan kalaupun takdir kita berkata lain, maka semuanya kita serahkan kepada Allah, karena Allahlah yang tahu  sesuatu yang tidak diketahui hamba-hamba-Nya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *