Fenomena Ibadah Antara Ritualitas dan Spritualitas

H. Ali Murthado, M. Hum

Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan

 

TIDAK jarang pada dialog yang kita lakukan, kadang-kadang mengarah kepada tema agama. Kalau ada yang mengerti dan memahami sedikit masalah agama tidak jadi masalah sehingga ada sebuah penjelasan yang mencoba mengutarakan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun ada kalanya pertanyaan tersebut mentok alias tidak ada jawabannya karena memang kapasitas dari yang menjelaskan tidak sampai ke sana. Akhirnya dialog akan mencari tema-tema yang lain.

Tetapi harus diingat pada setiap dialog pasti ada orang yang mencoba menghujat agama, kalau argumentasinya lebih kuat maka bisa jadi orang yang tahu agama tetapi sedikit akan merasa gelagapan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sebagai salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, kenapa banyak orang yang salat, setiap tahun bertambah orang yang berangkat ke tanah suci Mekah dan Madinah untuk melaksanakan haji, melaksanakan ibadah puasa tetapi kok masih juga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang diharamkan seperti korupsi, menipu, kolusi dan sebagainya ? Berarti agama dalam hal ini tidak berperan, jadi untuk apa kita beragama, toh akhirnya sama saja perilaku orang yang beragama dengan orang yang tidak beragama, bahkan orang yang beragama perilakunya terkesan lebih baik dari orang yang beragama karena ia tidak berbuat korupsi, kolusi dan hal-hal yang haram dipandang agama.

Pertanyaan ini jelas akan selalu muncul, apalagi kalau berita-berita mengenai kasus korupsi, kolusi dan hal-hal lain yang melakukannya adalah orang Islam, bahkan ia telah bergelar haji. Sehingga tidak jarang ada juga media dalam judul beritanya lebih memunculkan gelar hajinya untuk menampakkan dirinya sebagai seorang muslim seperti : Haji Ahmad Sanusi didakwa melakukan korupsi di tempat kerjanya.

Kalau kita berpikir maka jawaban yang muncul adalah, benar juga, tetapi apakah demikian ?

Dalam konteks tauhid, banyak orang yang Islam tetapi Islamnya hanya ikut-ikutan saja. Artinya ia Islam karena bapak dan ibunya Islam, sehingga agama hanya dianggap penting ketika akan menikah, hari raya dan meninggal saja. Sehingga mereka tidak merasa nilai-nilai keagamaan itu tumbuh di dalam hati sanubari mereka.

Alangkah indahnya, jika dalam pencarian menemui jati diri kita sebagai manusia, kita mencoba mencari Allah lewat kisah Nabi Ibrahim. Di mana ia mencoba memastikan apakah Allah itu ada atau tidak, ketika ia yakin Allah itu ada, maka ia mencoba melihat alam yang ada di sekitarnya apakah patut menyamai Allah, mulai dari matahari, bulan, bintang dan sebagainya. Akhirnya ia mempunyai kesimpulan bahwa Allah adalah zat yang menciptakan semua makhluk di alam ini apakah itu matahari, bulan, bintang, bahkan dirinya sendiri. Inilah yang disebut dengan kesadaran merasakan bahwa Allah itu memang ada.

Ketika kesadaran itu muncul, maka apa yang diperintahkan Allah sebagai zat yang Maha Pencipta dan Pengatur tersebut pasti akan dituruti. Bahkan perintah (amar) dan larangan (nahyi) bukan dijadikan sebagai kewajiban tetapi sudah sampai kepada kebutuhan.

Banyak orang Islam (muslim) yang hanya menjadikan salat, haji, zakat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya hanya sebagai kewajiban akhirnya ketika ia sudah selesai melaksanakan kewajiban yang dibebankan maka ada semacam kebebasan untuk melakukan sesuatu yang diharamkan. Kewajiban-kewajiban itu hanya menjadi ritualitas saja, akibatnya apa yang menjadi hakikat dari ibadah tersebut tidak direalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ini sama saja, kita taat dan khusu’ pada waktu shalat tetapi setelah selesai salat kita bisa mampu melakukan pekerjaan yang diharamkan Allah.

Dalam persoalan ini, bukan ibadahnya yang salah tetapi orang yang melaksanakan ibadah itu yang memang benar-benar belum memahami untuk apa ia beribadat. Mungkin ada yang berpendapat bahwa ia beribadah karena patuh terhadap perintah Allah. Its OK, tetapi apakah kepatuhan kita hanya pada dimensi ibadah, lalu kita beranggapan setelah selesai melaksanakan ibadah maka ‘beban’ sudah selesai sehingga tidak perlu nilai-nilai agama dalam keseharian kita ? Jika berpikiran demikian inilah yang salah, sehingga apa yang selama ini kita lakukan akan sia-sia.

Allah berfirman, “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisaa: 103).

Ini artinya, jika kita telah selesai melaksanakan salat, nilai-nilai yang ada padanya harus di bawa dalam kehidupan sehari-hari. Bukan di tinggalkan di mana kita melaksanakan salat. Insya Allah jika ini dilakukan maka nilai ibadah tersebut tidak hanya kita lakukan dalam bentuk rutinitas dan kewajiban saja, tetapi sudah masuk dalam kehidupan spritual dan menjadi darah daging bagi kita. Sehingga jika ada godaan untuk melakukan korupsi, kita selalu ingat bahwa kalimat Allahu Akbar pada saat kita melakukan takbiratul ihram selalu mengawasi kita. Ini artinya Allah tidak hanya melihat kita salat saja, tetapi juga melihat apa yang kita lakukan sebelum dan sesudah salat, dan jika kita sudah merasakan bahwa Allah melihat kita, insya Allah kita akan terbebas dari segala godaan.

Jadi jawaban yang muncul ketika menjawab pertanyaan pada awal tulisan ini adalah, karena memang ibadah hanya dianggap sebagai ritual semata, setelah dikerjakan selesai, sehingga tidak dapat menjadi tameng untuk kehidupan sehari-hari. Jadi dalam hal ini bukan Islamnya yang salah tetapi orang yang melaksanakan Islam itu yang belum benar-benar memahami apa sebenarnya Islam tersebut. Wallahu ‘alam bissawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *