“Masjid Sekuler” dan Kemiskinan Kita

Dr. Mustafa Kamal Rokan, MH

Anggota Lembaga Wakaf, Zakat, Infaq dan Shadaqah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan

Adalah penelitian Howard M. Federspiel yang berjudul The Structrure and Use of Mosques In Indonesian Islam: The Case of Medan, North Sumatera(Struktur dan Penggunaan Masjid di Indonesia (studi kasus di Medan, Sumatera Utara) yang dimuat “Studi Islamika, Volume 3, 1996 mengatakanbahwa fungsi masjid di Kota Medan secara umum hanyalah untuk beribadah (worship). Masjid hanya digunakan untuk tempat berkumpul (gathering) umat Islam untuk menunaikan sholat terutama pada hari jum’at dan bulan Ramadhan serta perayaan-perayaan hari besar Islam seperti pada saat Idul Fitri dan Idul Adha dan lain sebagainya. Masih dari penelitian Howard, ia mengatakan bahwa ada beberapa masjid saja yang menggunakan masjid lebih dari tempat beribadah seperti mendirikan yayasan untuk kegiatan masjid, sekolah Islam dan organisasi sosial Islam. Sedangkan dari aspek philantropis, masjid hanya dilakukan secara musiman saja seperti saat pengumpulan Zakat bulan Ramadhan dan penyembelihan hewan Kurban saat Idul Adha.

Memang, penelitian Howard M. Fedespiel ini dilakukan pada tahun 1990-an lalu, namun penulis melihat kondisi fungsi masjid di kota Medan saat ini belum jauh beranjak dari hasil penelitian di atas. Dengan kata lain, kuat dugaan masjid di Indonesia khususya di kota Medan hanya berkutat mengurus persoalan ibadah an sich masih kentara terlihat. Kriteria keberhasilan masjid hanya dilihat pada aspek ibadah saja. Kriteria masjid yang baik biasanya hanya ditandai dengan:

Pertama, masjid yang memiliki bangunan yang besar dan megah, baik dari segi kapasitas masjid dan menara yang menjulang tinggi ke langit serta fasilitas masjid yang cukup memadai seperti ber AC dan lain sebagainya. Ungkapan yang biasa keluar dari mulut kita “masjid kami sangat besar plus berAC”, “menara masjidnya tinggi dengan ornamen klasik” dan seterusnya.Karenanya, tidak mengherankan jika kebanggaan jama’ah terhadap masjidnya adalah saat mampu membangun, memperbesar dan memperindah masjid.

Kedua, masjid yang dianggap “berhasil” adalah masjid yang memiliki uang kas yang banyak, yang sangat indah terdengar saat diumumkan menjelang shalat Jum’at, apalagi sampai puluhan atau bahkan ratusan juta. Kesan yang diperoleh adalah masjid sebagai tempat mengumpulkan uang.

Ketiga, masjid yang dianggap berhasil jika mampu mengadakan pengajian rutin dengan frekwensi yang cukup padat, disertai dengan wirid Yasin dan berbagai acara lainnya.

Keempat, masjid mampu mengadakan kegiatan akbar seperti perayaan Maulid Nabi Saw., Isra’ mi’raj, menyambut tahun baru Islam dan kegiatan lainnya dengan kegiatan besar, apalagi ditambah dengan penceramah dari luar kota seperti Jakarta dan seterusnya.

Tentu tidak ada yang salah dari kriteria yang penulis sebutkan di atas, sebab kriteria itu juga dapat menjadi parameter “kemakmuran” masjid. Pengajian dan kegiatan ibadah lainnya dapat dijadikan sebagai parameter keilmuan dan kreativitas umat Islam. Namun, kriteria itu menjadi salah jika riteria fungsi masjid yang berdimensi sosial dinomorduakan, apalagi dikesampingkan sama sekali, atau “hanya sekedarnya”. Padahal, masjid sebagai tempat ibadah (mahdhah) tidak lebih lebih penting daripada fungsi masjid dalam ranah sosial. Sebab keduanya “fungsi masjid pusat ibadah dan sosial” adalah sesuatu yang inherent (tidak boleh dipisahkan). Jika memang kriteria kedua (dimensi sosial) dikesampingkan, maka pada saat itulah yang penulis sebut dengan “masjid sekuler” yang berarti masjid yang memisahkan antara ibadah mahdhah dan ibadah sosial.

Kriteria keberhasilan masjid di atas menunjukkan bahwa hampir keseluruhan parameter masjid yang makmur hanya pada aspek ibadah mahdhah. Masjid absen pada saat bertemu dengan realitas sosial jama’ahnya. Apa realitas ibadah sosial? yakni saat jama’ah masjid menderita kemiskinan, kelaparan, keterlantaran, ketiadaan akses ekonomi, disharmoni dan penyakit sosial lainnya. Padahal, dalam fungsi sosial, masjid seyogyanya tampil sebagai katalisator sekaligus kontrol kondisi jama’ah atau umat di sekitarnya. Saat terjadi kebejatan sosial, sebut saja misalnya terjadi praktik tuna moral di sekitar masjid maka kebanyakan kita mengatakan bahwa kejadian itu “tidak ada kaitan” dengan masjid. Sama halnya saat seorang remaja masjid melakukan keonaran atau bahkan perbuatan asusila katakanlah “kecelakaan” antara remaja putra dengan putri, maka kita akan mengatakan “hal itu bukan urusan masjid”, paling-paling yang diberikan hanya bentuk hukuman sosial ala kadarnya dengan mengatakan “percuma remaja masjid”.

Demikian pula halnya saat sebuah masjid yang dibangun dan berdiri megah di sebuah lingkungan, disertai dengan semaraknya kegiatan agama, pengajian rutin dan pengajian akbar di satu sisi, dan seorang tukang sampah yang mengais nafkah sambil terbata-bata di tong sampah di sisi lain berada di sekitarnya. Kebanyakan kita menganggap bahwa tukang butut dan tukang sampah itu “tidak ada hubungan” dengan keberadaan masjid. Hal ini seolah membenarkan pernyataan “tempat sholat adalah masjid, persoalan ekonomi urus sendiri”. Kalaupun ada hubungan masjid dengan sosial hanyalah bersifat temporer dan ala kadarnya seperti saat pembagian zakat fitrah di akhir Ramadhan atau pembagian daging hewan kurban saat hari raya Idul Adha. Lalu, selain itu waktu-waktu tersebut, seolah masjid “tidak kenal” dengan orang yang bernasib tidak mujur itu.

Untuk membenarkan tesis ini sangatlah mudah, lihat saja laporan tertulis yang dipajangkan di masjid atau dengarkanlah laporan pengurus masjid saat menjelang khatib naik mimbar pada hari jum’at, maka isi seluruh laporan masjid akan terasa “ibadah mahdhah minded”. Bagi kita, akan terasa asing jika mendengar masjid yang melaporkan kegiatannya menyangkut cash flow dana yang digulirkan ke tukang sampah, tukang becak atau orang miskin yang diberi suntikan modal usaha, dan total jumlah orang miskin yang berada di sekitar serta jenis usaha apa yang sedang dibutuhkan. Sudahkah masjid masjid kita mempunyai “data kemiskinan” lengkap dengan potensi usaha bagi masyarakat di sekitarnya? Atau lebih lanjut, sudahkah masjid mempersiapkan lowongan usaha bagi warga miskin di sekitarnya?

Sampai disini, jelaslah bahwa sungguh keberagamaan kita masih sangat rancu dan patut disebut sekuler. Mengapa? Sebab sikap keberagamaan kita mendua alias munafik serta membuat urusan agama dengan kondisi sosial yang berbeda atau distingtif. Seolah agama itu hanya soal ibadah, dan masjid hanya mengurus hal itu, sedangkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat tidak termasuk urusan agama dan tidak termasuk wilayah urusan masjid. Mungkin sebagian kita menganggap bahwa Islam sekuler hanya terkait dengan kawin antar agama dengan tokoh-tokoh yang kontroversial, tetapi sesungguhnya kebanyakan umat Islam termasuk pengurus masjid berjiwa sekuler, yakni saat membedakan antara tugas agama (dalam hal ini adalah peran masjid hanya dalam aspek ibadah mahdhah).

Islam Itu Agama Sosial

Dalam Islam, ibadah (baca: mahdhah) dengan sosial adalah tidak dapat dipisahkan. Bahkan ibadah dapat menjadi sia-sia bahkan dicela saat mengabaikan kondisi sosial di sekitarnya. Orang yang shalat dihukum neraka wail jika tidak melakukan respons terhadap kondisi anak yatim dan orang miskin (QS. Al-Ma’un: 1-7). Sebaliknya, respons sosial dapat menjadi kompensasi (menutupi) kekurangan ibadah mahdhah, seperti halnya memberi makan fakir miskin adalah kompensasi dari ketidakmampuan berpuasa orang yang sakit dan musafir, demikian juga menyembelih hewan (membayar DAM) adalah kompensasi dari ketidakmampuan untuk thawaf, sa’i dan wajib haji lainnya. Jelas dan nyata bahwa sosial adalah inherent dengan ibadah.

Masjid sebagai pusat ibadah seyogyanya tidak mengenyampingkan atau membedakan kondisi sosial umat Islam. Keterpurukan umat Islam saat ini disebabkan kesalahan pemahaman terhadap pembedaan ini. Oleh karena itu, langkah serius yang harus dilakukan adalah mengubah cara pandang ibadah umat Islam, khususnya para nazir masjid termasuk para ulama dan ustad kita. Sudah saatnya masjid kita berkonsentrasi untuk mengembangkan filantropi dengan melakukan pengumpulan dana, pemberdayaan dana zakat mal, wakaf produktif untuk melakukan pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat miskin, anak yatim, anak terlantar di sekitar masjid. Semoga. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *