Pasar dan Masjid

Dr. Mustafa Kamal Rokan, MH

Anggota Lembaga Wakaf, Zakat, Infaq dan Shadaqah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan

Nafas Islam dan aktivitas perdagangan seolah dua sejoli yang tak terpisahkan. Entah secara kebetulan, Islam lahir dan berkembang di kota perdagangan yakni Kota Mekkah yang saat itu merupakan pusat perdagangan di jazirah Arab. Nabi Muhammad saw. yang diutus Allah Swt. juga pernah berprofesi sebagai pedagang sejak masa kecilnya, bahkan karena lingkup sosiologis kelahiran Islam di kota perdagangan itu jualah, ayat-ayat Al-Quran yang yang merupakan “suara langit” juga dinuansai kalimat-kalimat perdagangan. Lihat saja untuk mengungkapkan keimanan kepada Allah dan rasul serta berjihad di jalan Allah juga dikenalkan dengan kalimat dagang (tijarah) (QS. Ash-shaf 10-11), ayat yang terpanjang juga menyangkut tentang bisnis (QS. Al-Baqarah 282) serta ratusan ayat lainnya yang berbicara tentang perdagangan.

Dalam perkembangan dan pertumbuhannya, Islam seolah satu tarikan nafas dengan denyut nadi perdagangan. Islam tumbuh dan berkembang ke asia tengah, afrika serta eropa juga didominasi oleh perdagangan. Dan bukankah Islam masuk ke Indonesia (tanah Melayu secara umum) melalui perdagangan?. Kehadiran Islam di tanah Melayu, seperti Malaka, Aceh, Banten, Tarnate, Brunai, Makasar, Sulu berkat dari kerjasama perdagangan antara pedagang Arab dan Gujarat (India) saat itu. Karena itulah, sampai-sampai, masjid yang merupakan simbol dan tempat beribadah umat Islam juga selalu berbarengan dengan pasar sebagai pusat perdagangan. Tak terkecuali Indonesia, masjid dan pasar menjadi identik pada warga urban.

Keidentikan masjid dan pasar telah terjadi pada masa abad awal Islam dan pada masa abad pertengahan, dimana pasar adalah fungsi tambahan bagi sebuah masjid, seperti yang terjadi pada Masjid Putih (white mosque) di Ramla, Masjid Al-Aqmar (1125) di  Kairo, Masjid Suleymaniyya  (1550–1557) di Konstantinople/Istanbul (Lihat, Ensiklopedi Mediavel Islamic Civilization).

Sedangkan pada konteks Indonesia, keidentikan pasar dan masjid pada warga urban ditashih oleh temuan Hans-Dieter Evers dan Rudiger Korff (2002) sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad Lutfi Malik dalam disertasinya di Universitas Indonesia (UI) yang berjudul “Etos Kerja, Pasar dan Masjid” yang menyebutkan bahwa dalam perkembangan kota-kota di Indonesia mencitrakan begitu pesatnya pertumbuhan simbol-simbol urban yang tampak di ranah-ranah publik. Menariknya, dari sekian banyak simbol urban yang menonjol di berbagai kota di Indonesia adalah “Pasar dan Masjid” adalah salah satunya. Interaksi pasar dan masjid juga jelas terlihat dalam sejarah Indonesia. Hampir di setiap Bandar (Pelabuhan) yang merupakan pusat perdaganan saat itu terdapat masjid, sebut saja di Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta, atau Pasar La Elangi dan Mall Umma berdekatan dengan Masjid Agung Kota Bau-bau di Sulawesi Tenggara dan salah satu gerakan paling awal untuk membebaskan negeri ini dari cengkeraman penjajah dipelopori oleh Sarekat Dagang Islam (SDI).

 

Integrasi Pasar dan Masjid

Ada apa dengan pasar dan masjid? Apa makna simbolik dari keduanya? Secara sederhana, bangunan pasar merupakan refleksi dari tempat yang mendorong berlangsungnya interaksi sosial dalam ekonomi modern yang bersifat kapitalistik, sedangkan masjid adalah sebagai tempat peribadatan interaksi sosial keagamaan kaum muslim.

“Hubungan mesra” pasar dan masjid dalam sejarah Islam dan Indonesia dapat dilihat melalui  beberapa hal. Pertama, hubungan pasar dan masjid adalah hububungan antara institusi sosial ekonomi dalam konteks perdagangan dalam menciptakan hubungan sosial yang berlangsung dalam masyarakat. Pasar adalah institusi sosial ekonomi masyarakat yang terjalin secara kuat. Pasar adalah simbol dari etos kerja yang keras dari masyarakat muslim. Ayat yang menyatakan ”Apabila telah melaksanakan shalat, maka bertebaranlah di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak banyaknya agar kami menjadi beruntung” (QS. Al-Jumu’ah: 9) adalah insipirasi umat Islam untuk memiliki etos yang kuat untuk mencari rezeki. Secara filosofi, perdagangan adalah profesi yang membutuhkan visi, etos, managemen (disiplin) serta tingkat kepasrahan yang luar biasa, dan pasarlah arenanya.

Lebih dari itu, hubungan sosial ekonomi di pasar sungguh tidak hanya terkait dengan soal untung-rugi, namun juga sangat terkait dengan dimensi interaksi sosial masyarakat dan aspek ibadah. Di pasar, kerekatan dan keretakan berpotensi sama, persaudaraan dan saling menipu dan kecurangan pasar adalah arenanya. Karenanya, kualitas hubungan sosial masyarakat dapat diukur dari interaksi seseorang di pasar. Dalam konteks inilah, hadis Rasulullah Saw. yang mengatakan “seburuk-buruk tempat adalah pasar” dapat dipahami, bahwa pasar adalah tempat yang menguji akhlak seseorang secara murni, karenanya pasar tidak berarti harus dijauhi, sebagai tempat berpotensi untuk melakukan kecurangan menjadi tempat seleksi hubungan sosial yang baik.

Dalam konteks ini pula, penafsiran “wabtaghu” yang berarti “cari kalianlah” rezeki di muka bumi diapit dua kalimat sebelum dan sesudahnya yakni “qudhiati al-sholah” dan “wadzkurullaha katsira” pada surah Al-Jumu’ah ayat 9 dimaknai sebagai isarat bahwa usaha atau perdagangan harus didampingi sikap/akhlak yang terpuji dengan senantiasa memohon petunjuk Allah melalui shalat dan menyerahkan hasil usaha yang telah dikerjakan dengan menyebut dan mengingat Allah sebanyak-banyaknya agar menjadi orang yang beruntung (la’allakum tuflihun).

Kedua, dalam hubungan keduanya (pasar dan masjid), masjid berfungsi sebagai penguat kohesi sosial-masyarakat. Atau dengan kata lain, masjid seyogyanya mampu mendorong mobilitas ekonomi di pasar bahkan menjadi tempat membuat akses baru ekonomi. Sebagai tempat yang diwajibkan beribadah, masjid secara sadar atau tidak telah berfungsi sebagai tempat pertemuan umat yang paling intensif dengan intensitas perjumpaan yang sangat tinggi diantara kaum muslimin. Paling tidak, terdapat lima kali pertemuan yang wajib didatangi oleh umat Islam ke masjid yakni pada saat shalat wajib lima waktu, lain lagi pada pertemuan mingguan (pada shalat jum’at), satu bulanan penuh pada saat bulan ramadhan, dan dua pertemuan besar pada saat idul adha dan idul fitri. Apalagi dikaitkan dengan fungsi masjid secara ideal, bahwa tiada tempat yang lebih sering didatangi oleh umat Islam selain masjid. Kuantitas kedatangan umat Islam ke masjid yang sangat padat menyebabkan masjid menjadi tempat yang paling strategis dan cepat untuk melakukann transfortasi sosial termasuk dalam bidang ekonomi.

Ketiga, aktivitas perdagangan mendorong maraknya kehidupan beragama di masjid. Dan disinilah relevansi bahwa masjid pusat peradaban (center of civilization). Pasar dalam dampingannya dengan masjid tidak hanya berdimensi untung-rugi, namun juga untung-rugi dengan sang maha pencipta. Dalam hubungan dengan Allah dan manusialah lahir peradaban. Peradaban Islam tidak dapat dibangun hanya melalui beribadah (dalam artian mahdhah) semata, namun dibutuhkan kemampuan finansial untuk melakukan dakwah secara masif, dan caranya hanyalah dengan melakukan usaha atau perdagangan. Bukankah kejayaan peradaban Islam masa lalu dihasilkan oleh kemajuan perdagangan?

 

Sudah idealkah hubungan pasar dan masjid kita?

Hubungan ideal pasar dan masjid dalam konsep dan sejarah peradaban Islam di atas menjadi dasar bagi kita untuk menganalisis konsisi saat ini. Hubungan antara masjid dan pasar di Indonesia tetap terus berlangsung, namun benarkah hubungan itu sesuai dengan idealnya? Benarkah masjid telah menjadi insiprator sekaligus fasilitator untuk meningkatkan etos kerja ummat Islam saat ini?. Benarkah bisnis yang dilakukan umat Islam tetap dalam “kawalan” etika bisnis yang di bawa dari “etika masjid”? Benarkah hasil perdagangan di pasar telah dijadikan modal untuk memajukan peradaban Islam?

Justru yang dikhawatirkan kondisi saat ini paradoks dengan seluruh pertanyaan di atas. Alih-alih menjadikan masjid sebagai sarana memajukan peradaban Islam, justru masjid terkadang menjadi sarana yang dieksploitasi untuk mendapatkan keuntungan dagang semata?. Lihat saja bagaimana transaksi jual-beli masih berlangsung saat azan berkumandang, lahan parkir dan halaman masjid justru dipakai untuk kepentingan pribadi. Lain lagi persoalan nazir masjid yang “bergaya eksploitir” yang meraup keuntungan dari masjid, jangankan berinfak untuk kepentingan masjid, justru masjid tempat mencari makan bahkan terdengar dari kejauhan dengan cara-cara yang tidak halal. Ironis bukan? Untuk menganalisis fenomena pasar dan masjid saat ini dakan dibahas pada artikel yang akan datang. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *