Hukum Mengeluarkan Zakat Tanpa Akad

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustaz saya seorang PNS, setiap bulan saya mengeluarkan zakat gaji yang saya berikan kepada tetangga saya yang miskin, namun ketika mengeluarkan zakat tersebut saya tidak pernah menyebutkan padanya bahwa itu zakat, hanya saya niatkan saja. Pertanyaan saya, apakah cara berzakat seperti itu sah atau tidak ?. Asni di Medan

Jawaban :

Kepada Ibu Asni, pertama sekali kami ucapkan terima kasih atas pertanyaan yang diberikan. Adapun perihal sah atau tidak zakat yang ibu keluarkan tersebut terkait erat dengan hukum syarat-syarat sah penunaian zakat.

Dalam kitab al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh karya Wahbah az-Zuhaili, jilid II, halaman 660-663 disebutkan bahwa syarat-syarat sah penunaian zakat tersebut ada dua, yaitu :

1. Niat

Semua ulama sepakat bahwa niat merupakan syarat sah zakat. Hal ini berdasar kepada sabda Rasulullah saw : “sesungguhnya sahnya sebuah amal tergantung kepada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang diniatkan…”(HR. Bukhari)

Zakat adalah ibadah wajib dalam bentuk mengeluarkan sebagian harta yang memiliki kemiripan dengan bentuk pengeluaran harta yang lain, seperti shadaqah, wakaf, hibah dan lainnya, yang membedakan mereka adalah niatnya. Niat pula yang membedakan antara perbuatan ibadah dengan yang bukan ibadah, begitu pula yang membedakan ibadah yang satu dengan lainnya.

Ulama juga sepakat bahwa tempat niat itu di dalam hati, dan tidak satupun diantara mereka yang mensyaratkan niat dalam bentuk ucapan. Walaupun tidak ada larangan untuk mengucapkannya. Sebagai contoh niat dalam hati itu bila diungkapkan adalah seperti “ini adalah zakat fitrahku”, yang ini zakat fitrah anakku Ahmad” atau “ini zakat hartaku“ dan sebagainya.

Adapun kapan muzakki berniat, ini bisa dilakukan pada saat menyerahkan zakat tersebut kepada amil atau langsung kepada mustahiq (orang yang berhak menerima zakat), dan bisa pula ketika ia menyisihkan hartanya untuk zakat yang kemudian diiringi dengan menyerahkannya kepada mustahiq zakat.

2. Memberikan hak kepemilikan

Maksud dari syarat ini adalah orang yang berzakat harus nyata-nyata menyerahkan hartanya baik kepada amil, langsung kepada mustahiq atau melalui wakil. Tidak dibenarkan penunaian zakat itu dalam bentuk mempersilahkan orang lain mengambil sebagian hartanya atau memberi makan yang kemudian ia nyatakan sebagai

Dari kedua syarat sah penunaian zakat ini tidak terlihat bahwa akad atau ungkapan penyerahan zakat dari muzakki kepada mustahiq zakat sebagai syarat sah zakat, hanya saja memang disunnahkan melafazkan zakat tersebut agar penerima zakat tahu dan mendo’akan orang yang berzakat sebagaimana diisyaratkan pada surat  at-Taubah ayat 103 : “ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa zakat yang ibu keluarkan tanpa dilafazkan tersebut adalah sah. Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bissawab.

Penulis : Dr. H. Hasan Matsum, M.Ag

Wakil Ketua Umum (MUI) Kota Medan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *