Anjuran Mufassir Untuk Para Da’i

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc, MA

Sekretaris Komisi Infomasi dan Komunikasi

Ketika berada di bulan Rajab, khalayak mulai disuguhkan sebuah konflik internal agama, yang mungkin bisa menimbulkan perpecahan. Betapa tidak, ketika ada kelompok yang mengklaim bahwa melakukan amal ibadah di bulan Rajab, seperti puasa sunnah dan shalat qiyamullail di hari ke-27 Rajab adalah perbuatan bid’ah. Sedangkan ada kelompok lain yang membolehkan puasa sunnah di bulan Rajab dan melakukan amal-amal ibadah lainnya, yang dalam anggapan mereka bahwa bulan Rajab adalah bulan yang cocok untuk menanam kebaikan.

Konflik masalah ibadah seperti ini memang kerapkali terjadi, tidak hanya masalah amal ibadah yang dilakukan di bulan Rajab. Awal mulanya konflik ini terjadi bersumber dari ucapan para da’i. Padahal, yang mengerjakan puasa dan ibadah-ibadah sunnah dan yang mengklaim tidak ada ibadah-ibadah sunnah yang dikhususkan di bulan Rajab, sama-sama beragama Islam dan menyembah Tuhan yang satu, Allah SWT. Hanya saja, karena ada satu prinsip dan persepektif yang tidak sama, hal itu menjadi satu sama lain kadang saling memusuhi.

Padahal, di dalam al-Qur’an Allah SWT. sudah mengingatkan, “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Malah, bila merujuk kepada ayat ini, jangankan soal keyakinan, masalah agama saja, satu dengan lainnya saling menghormati dan menghargai. Artinya, sebagai seorang muslim tidak boleh memaksa umat di luarnya untuk menjadi pengikutnya atau sebaliknya. Makanya, tidak ada dakwah yang bersifat “paksaan”, tapi yang ada anjurannya adalah dakwah yang dilakukan dengan cara bijaksana (al-hikmah).

Bila dikaji dari sisi sebab turunnya ayat di atas, Imam Jalaluddin As-Suyuthi memaktubkan di dalam kitabnya “Lubaabunnuquul fi Asbaabin Nuzuul” bahwa ayat ini memiliki dua riwayat tentang sebab turunnya. Pertama, berhubungan dengan seorang lelaki dari kaum Anshor yang berasal dari Bani Salim bin Auf yang bernama al-Hushain. Dia mempunyai dua orang anak yang memeluk agama Nasrani, padahal dia sendiri sangat patuh kepada agama Islam. Suatu ketika, ia bertanya kepada Rasulullah SAW., “Ya Rasul, bolehkah aku memaksa kedua orang anakku untuk memeluk agama Islam. Sebab kedua anakku tersebut tidak taat kepadaku dan tetap memilih ingin melanjutkan memeluk agama Nasrani?” Sehubungan dengan pertanyaan Al-Hushain tersebut, Allah SWT. menurunkan ayat tersebut sebagai jawabannya.

Kedua, Dulu ada seorang wanita yang setiap kali melahirkan anaknya selalu meninggal. Lalu dia bernazar jika anaknya hidup, maka dia akan menjadikannya seorang Yahudi. Ketika Bani Nadhir diusir dari Madinah karena pengkhianatannya. Ternyata, anak dari perempuan itu dan beberapa anak orang-orang Anshar terdapat bersama orang-orang Yahudi. Sehubungan dengan itu, orang-orang Anshar berkata, “Jangan biarkan anak-anak kita bersama orang-orang Yahudi.” Lalu turunlah Surat Al-Baqarah ayat 256.

Artinya, Allah SWT.  dengan tegas menerangkan bahwa memeluk agama Islam itu mesti dilandasi oleh kesadaran pribadi, tidak boleh ada unsur paksaan. Islam sangat tidak membenarkan adanya intimidasi dan paksaan dalam beragama.

Bila diteliti dalam literatur tafsir, kupasan ayat ini sangat jelas dan tegas sekali. Meski ada yang berpendapat bahwa ayat ini mansukh (telah dihapus) dengan ayat 73 dari surat At-Taubah. Namun menurut Ibnu Jarir Ath-Thabari di dalam kitab tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini tidaklah mansukh. Karena yang dipaksa di dalam surat At-Taubah ayat 73 tersebut adalah orang kafir yang menyembah berhala. Bagi orang kafir yang dikenai jizyah dan telah membayarnya serta mereka ridha terhadap hukum Islam maka tidak ada paksaan.

Namun menurut Ibnu Katsir dan Ash-Shabuni bahwa ayat ini bersifat mujmal (umum). Persis seperti apa yang ditulis Ash-Shabuni di dalam tafsir Shafwatut Tafaatsir, “Tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam karena telah jelas perbedaan antara kebenaran dan kebatilan dan hidayah yang telah terbedakan dari kesesatan.” Makanya dengan tegas Ibnu Katsir menuliskan di dalam kitab Tafsir al-Qur’anil Adzhim-nya bahwa Tidak ada yang dipaksa untuk memeluk agama Islam karena telah jelas dan tegas tanda dan bukti kebenaran Islam sehingga tidak perlu lagi memaksa  seseorang untuk memeluk agama Islam. Orang yang diberi hidayah oleh Allah untuk menerima Islam, lapang dadanya dan dicerahkan pandangannya sehingga ia memeluk Islam dengan alasan yang pasti. Namun orang yang hatinya dibutakan Allah  dan ditutup hati serta pandangannya, tidak akan ada menfaatnya memaksa mereka untuk masuk Islam.

Namun penting digarisbawahi, bahwa tidak memaksa orang kafir masuk Islam bukanlah berarti tidak mengakui Islam itu adalah agama yang benar dan diridhai Allah SWT. Karena telah dijelaskan di dalam al-Qur’an bahwa Islam adalah agama yang paling diridhai Allah SWT. (QS. Ali Imran [3]: 19).

Oleh karena itu, pakar tafsir Indonesia Prof. DR. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menuliskan, bahwa maksud tidak ada paksaan dalam menganut agama adalah menganut akidahnya. Ini berarti jika seseorang telah memiliki satu akidah, maka ia terikat dengan tuntunan-tuntunannya dan berkewajiban melaksanakan perintah-perintahnya. Sehingga ia terancam sanksi bila melanggarnya.

Dari tafsir surat al-Baqarah ayat 256 ini, dapat dipahami bahwa para mufassir berpesan kepada para da’i agar berdakwah dengan hikmah (bijaksana) bukan dengan ikrah (paksaan). Sehingga tidak perlu lagi adanya pemaksaan yang dilakukan kelompok tertentu terhadap kelompok lainnya yang tidak sesuai dengan apa yang diyakini serta memaksa untuk mengamini apa diucapkan dan dijadikannya sebagai argumentasi. Apalagi, masalah yang diperdebatkan masih berada pada tataran masalah furu’iyyah (cabang) semata. Semoga kita diberi petunjuk oleh Allah SWT. untuk memilih amal yang benar dan meninggalkan amal yang salah. amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *