Valentine Day Bukan Budaya Islam

Irwansyah, M.H.I

Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Medan

Momen 14 Februari setiap  tahun dikenal sebagai hari cinta kasih sayang sedunia atau lazim dikenal dengan Valentine Day. Hampir di setiap negara diadakan perayaan pada malamnya, termasuk di Indonesia.Valentine Day sudah menjadi trend hidup bangsa modern terutama para kawla muda. Perayaannya pun dilakukan dengan cara bervariasi, mulai dari saling berkirim hadiah, bunga, jalan-jalan dengan kekasih, sampai pada hubungan seksualitas.Ironisnya, di Indonesia yang mayoritas ber-Agama Islam justru Valentine Day ini sudah menjadi kultur yang terus berkesinambungan. Disamping memang ketidaktahuan tentang sejarahnya, tampaknya trend modern semacam ini sudah menjadi style hidup masyarakat perkotaan yang sudah berperadaban maju, dan dianggap ortodok bagi yang tidak mengikutinya.

Jika dilihat dari sisi historisnya, Valentine Day memiliki berbagai versi sejarah. Dalam satu versi, asal-usul perayaan hari itu adalah untuk bahwa pada masa lampau, bangsa Romawi meyakini bahwa Romulus(pendiri kota Roma) disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan dan kecerdasan. Bangsa Romawi memperingatinya pada pertengahan bulan Februari setiap tahunnya dengan berbagai ritual seperti menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu darahnya dilumurkan pada kedua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian kedua mereka mencuci  darah itu dengan susu. Setelah itu mereka berkeliling di depan para rombongan dengan membawa kulit dan akan melumuri siapa saja yang mereka jumpai di jalan dengan darah tersebut. Para wanita  Romawi sengaja menghadap ke depan untuk dilumuri. Karena menurut kepercayaan mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.

Versi kedua, menurut Tarikh Kalender Athena Kuno, periode antar petengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion yang dipersembahkan kepada pernikahan suci dewa Zeus dan Hera. Pada bangsa Romawi Kuno 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia(nama dewa Lupercus) dengan mempersembahkan korban kambing kepada sang dewa. Perayaan upacara ini dirangkai dengan kegiatan acara ritual pensucian yang berlangsung antara tanggal 13 s.d 18 Februari dan acara puncaknya tanggal 15 Februari. Tanggal 14 para pemuda mengundi nama gadis-gadis dalam kotak dan nama yang terpilih oleh seseorang yang diambil dari kotak tersebut akan menjadi kekasih dan objek bersenang-senangnya selama setahun penuh. Ketika Kristen Katolik masuk ke Roma, mereka mengadopsi upacara Paganisme(penyembahan berhala) dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Agar mendekatkannya dengan ajaran Kristiani, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentino yang kebetulan meninggal pada 14 Februari.

Dari beberapa versi data sejarah di atas, kelihatan bahwa Valentine Day bukan berasal dari budaya Islam. Lebih dari itu, di Barat, perayaan Valentine Day dimeriahkan dengan pesta dengan minum-minuman keras, dan hubungan seksual bersama kekasihnya. Di Indonesia, setiap tahun media mencatat bahwa malam Valentine Day yang banyak laku terjual di pasaran adalah alat kontrasepsi(kondom). Ini indikasi bahwa budaya perayaan Valentine Day di Indonesia pun telah meniru budaya barat yang salah kaprah.

Melihat sisi sejarah dan konten perayaannya, merayakan Valentine Day jelas bertentangan dengan syariat. Memang, Islam tidak kaku untuk menerima budaya apapun dan dari bangsa manapun sepanjang tidak menyalahi aturan Agama. Bahkan, dalam kajian usul fikih, salah satu metode ber-istinbath adalah syar’u man qablana, yakni syariat orang terdahulu sebelum Islam datang dibawa Nabi. Dengan kedatangan Nabi, budaya bangsa Arab ada yang dimodifikasi dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Ini menunjukkan, bahwa Islam terbuka dengan peradaban, sepanjang kontennya dapat dilegitimasi syariat. Sebaliknya, jika terselip hal-hal yang bertentangan dengan aturan Agama, secara tegas Islam menentangnya.

Pada prinsipnya, Valentine Day yang dikenal sebagai hari kasih sayang sedunia dari sisi sejarah dan isinya, bertolakbelakang dengan ajaran Agama yang dibawa Nabi saw. Merayakan Valentine Day dengan terminologi dimaksud, hukumnya haram. Karena itu, seyogianya bagi para remaja dan generasi bangsa Indonesia yang note bene-nya mayoritas Islam tidak ikut-ikutan dalam mengkonsistensikan tradisi Barat tersebut. Nabi pernah mengatakan, “…Siapa yang meniru suatu kaum, maka dia bagian dari kaum itu” (HR. Tirmizi). Bagi orangtua, sebagai aktor penanggungjawab penuh terhadap keluarganya, hendaknya mengontrol anak-anaknya untuk tidak ikut terbawa arus globalisasi mengikut style hidup ala modern seperti ini yang sesungguhnya bertentangan dengan syriat ajaran Agama Islam.

Nasrun minallah wa fathun qarib, wa basysyiril mukminin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *