Qodho Puasa Bagi Wanita Hamil

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Ustadz, yang saya tahu perempuan hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan dia hanya wajib membayar fidyah tanpa wajib mengqodho puasa yang ditinggalkannya. Bagaimana sebenarnya tentang hal tersebut ?.

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Syari’at Islam diturunkan semata-mata untuk kemaslahatan umat. Oleh karenanya ketika kemaslahatan ini terganggu syari’at mentolelir terjadinya perubahan pada hukum asal. Seperti boleh bertayamum bagi orang yang berhadas karena sakit yang tidak memungkinkan terkena air, boleh berbuka puasa bagi orang sakit atau musafir. Demikian pula sepakat ulama boleh berbuka puasa bagi perempuan hamil dan menyusui ketika ia merasa berat untuk melaksanakan puasa dalam kondisi hamil dan menyusui tersebut.

Hanya saja ulama berbeda pendapat mengenai konsekwensi hukum bagi wanita hamil dan menyusui yang meninggalkan puasa ramadhan. Menurut Ibnu Umar ra. dan Ibnu Abbas ra. Dari kalangan sahabat Rasul saw. dan Ibnu Jubair dari kalangan tabi’in, para perempuan ini cukup membayar fidyah tanpa mengqodho (mengganti) puasa yang ditinggalkannya tersebut. Namun menurut jumhur (mayoritas) ulama sebaliknya, bagi wanita hamil dan menyusui yang meninggalkan puasa Ramadhan wajib qodho tanpa membayar fidyah.

Mencermati perbedaan pendapat ini, Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Fiqh as-Shiyam, memberikan komentar yang cukup baik dalam rangka mengakomodir perbedaan pendapat yang ada. Dia berkata, “perempuan pada zaman dahulu biasa mengalami masa hamil dan menyusui yang terus menerus bersambung dari tahun ke tahun. Kondisi mereka seperti ini dapat diqiyaskan kepada orang yang mengalami sakit berkepanjangan atau orang tua yang sudah lemah yang tidak memungkinkan melakukan puasa, maka mereka boleh berbuka dan hanya membayar fidyah. Adapun pada zaman sekarang ini perempuan yang mengalami masa hamil dan menyusui memiliki selang waktu yang lama, antara kehamilan yang pertama dengan kehamilan berikutnya, dan mereka hanya mengalami dua atau tida kali kehamilan selama hidupnya. Oleh karenanya mereka wajib melakukan qodho puasa yang ditinggalkan selama masa hamil dan menyusui tersebut, karena tersedianya waktu yang panjang untuk hal itu.

Wallahu Ta’ala A’lam bissawab.

Penulis ; Dr. H. Hasan Matsum, M.Ag
Wakil Ketua Umum MUI Kota Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *