Shalat Sunnat Dhuha Berjama’ah

Assalamu’alaikum wr.wb.

Para ustaz pengurus MUI Kota Medan yang saya hormati, di sekolah kami anak-anak didik terbiasa melaksanakan shalat sunnat dhuha secara berjama’ah. Saya ragu apakah shalat ini boleh dilakukan secara berjama’ah. Atas jawaban ustadz saya ucapkan terimakasih.

Jawab :

Shalat sunnat dhuha memiliki keutamaan (fadhilah) yang cukup banyak diantaranya ; orang yang gemar melaksanakan shalat dhuha ikhlas karena Allah swt. akan tercukupi rezekinya. Hal ini dijelaskan Rasulullah saw. dalam hadis qudsi dari Abu Darda’. Firman-Nya, “Wahai anak Adam, ruku’lah (shalatlah) karena aku pada awal siang (shalat dhuha) empat rakaat, maka aku akan mencukupi (kebutuhan) mu sampai sore hari.” (H.R. Turmuzi)

Mengenai kaifiat shalat sunnat dhuha yang dilaksanakan secara berjama’ah, maka terlebih dahulu perlu difahami bahwa shalat sunnat itu ada yang disyari’atkan pelaksanaannya secara berjama’ah dan ada yang tidak. Adapun yang disyari’atkan berjama’ah ialah shalat ‘id (‘idil fitri dan ‘idil adha), shalat gerhana (matahari dan bulan), shalat minta hujan (istisqa’), dan shalat tarawih (fath al-mu’in ; 33). Shalat sunnat selain itu tidak disyari’atkan berjama’ah termasuk di dalamnya shalat sunnat dhuha. Memang ada hadis riwayat Ahmad bersumber dari ‘Itban bin Malik yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw. pernah melaksanakan shalat sunnat dhuha lalu beberapa orang sahabat ikut shalat bersamanya (berjama’ah), namun hadis ini tidak dapat dijadikan dasar hukum untuk melazimkan shalat sunnat dhuha secara berjama’ah, karena Rasulullah saw. sendiri tidak  melazimkan hal tersebut.

Mengenai hal ini, penulis setuju dengan pendapat al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dia mengatakan “shalat sunnat yang utama adalah dilakukan secara munfarid (sendirian) jika memang di sana tidak ada kemaslahatan lain yang ingin dicapai seperti untuk mengajarkan orang lain. Namun, jika shalat sunnat secara berjama’ah dilakukan dalam rangka pengajaran, maka hal ini dinilai lebih utama, lebih-lebih lagi pada diri Nabi saw. untuk memberi contoh pada umatnya.” (Fath al-Bari ; 1 : 585). Dengan demikian, sebaiknya shalat sunnat dhuha tidak dilazimkan berjama’ah, karena dapat menimbulkan pemahaman hukum yang salah di tengah-tengah masyarakat bahwa shalat sunnat tersebut disyari’atkan pelaksanaannya secara berjama’ah sebagaimana juga pemahaman seperti ini muncul dalam pelaksanaan shalat sunnat tasbih. Wallahu a’lam bi as-shawab.
Penulis : Dr. H. Hasan Matsum, M.Ag
Wakil Ketua Umum MUI Kota Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *