Ilmu dan Etika Dalam Islam

Dr. Muhammad Syukri Albani Nasution, MA
Sekretaris Umum MUI Kota Medan

Ada beberapa ukuran untuk melihat derajat manusia.  Pertama adalah ilmunya, hal ini ditegaskan Rasul dalam Hadisnya, bahwa orang yang berilmu itu lebih tinggi derajatnya dari yang tidak berilmu. Dalam Hadis lain, Rasul juga menegaskan kewajiban bagi umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu.

Di sisi lain, etika juga memiliki penempatan yang luar biasa dalam menggolongkan seseorang. Karena banyak penilaian yang tidak baik kepada orang yang berilmu tapi tak ber-etika. Penegasan ini juga menjadi symbol mengapa Rasul Muhammad Saw diutus ke muka bumi ini untuk mengembalikan potensi etika manusia dari sesuatu yang tidak pantas, menjadi pantas .

Ilmu dan etika juga disimbolkan Allah melalui ayat Alquran “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kamu, lapangkanlah tempat dalam majelis, maka lapangkanlah, nanti Allah akan memberi kelapangan kepada kamu, dan apabila dikatakan berdirilah kamu, hendaklah kamu berdiri. Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui akan apa-apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadalah : 11)

Surat al-Mujadalah di atas yang sering dikutip untuk menjelaskan signifikansi ilmu dan kedudukan orang yang memiliki iman dan ilmu, sebenarnya diturunkan berkenaan dengan sebuah pristiwa yang menimpa sahabat rasul yang bernama Tsabit bin Qays. Tsabit merupakan sahabat rasul yang sangat rajin menuntut ilmu. Karena pendengarannya kurang, ia sering berusaha duduk di barisan depan majelis. Di samping itu mungkin karena pendengarannya yang kurang menjadikannya bersuara keras.

Pada suatu Jum`at, Nabi mengadakan majlis di Shuffah, di beranda masjid. Orang-orang sudah berkumpul di dekat nabi dan kebetulan pada saat itu Tsabit datang terlambat. Ia berusaha mendekati nabi tidak saja karena kekurangan pendengarannya tetapi juga disebabkan kecintaannya kepada Rasulullah. Sebagian sahabat memberikan jalan kepada Tsabit agar bisa mendekat tetapi sebagian lainnya sengaja mempersempit jalan Tsabit sehingga ia tidak bisa lewat.

Tsabit berulang kali meminta izin untuk diberi tempat sembari menjelaskan alasannya, tetapi mereka enggan melapangkan jalan Tsabit. Melihat kericuhan tersebut, Rasulpun turun tangan dan memerintahkan orang-orang yang enggan itu untuk berdiri. Ternyata orang yang sengaja tidak memberi tempat kepada Tsabit ini adalah orang-orang munafik. Mereka menuduh Rasul telah berlaku tidak adil karena menyuruh orang yang pertama datang untuk berdiri dan mempersilahkan orang yang terlambat untuk duduk. Berkenaan dengan pristiwa inilah surat al-Mujadalah di atas turun. (Tafsir Fakr al-Razi, 29:269-270, Jalaluddin Rakhmat; Tafsir bi al-Ma`tsur:1993)

Beranjak dari ayat di atas serta asbab al-nuzul yang menjadi latar belakang turunnya ayat tersebut jelaslah betapa besarnya perhatian al-Qur’an terhadap majelis ilmu. Al-Qur’an tidak saja menuntun umat Islam agar rajin menuntut ilmu dengan melakukan pembacaan terhadap ayat-ayat Allah baik yang qauliyah (al-Qur’an) maupun yang kauniyyat (fenomena alam), tetapi al-Qur`an juga merasa perlu untuk memberi aturan-aturan yang berkenaan dengan etika majelis ilmu.

Selama ini mungkin dipahami bahwa ayat diatas hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman dan berilmu saja. Seolah-olah ketinggian derajat (kemuliaan) akan diberikan Allah kepada orang yang memiliki iman dan memiliki ilmu. Ternyata setelah memperhatikan asbab al-nuzul seperti yang telah disebut, ternyata iman dan ilmu saja tidak cukup dijadikan syarat untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Ada satu syarat lagi bahkan menjadi sangat penting untuk memperoleh ketinggian derajat dan syarat tersebut adalah etika atau juga sering disebut dengan akhlak dalam majelis ilmu.

Setidaknya beranjak dari surat al-mujadalah di atas ada dua etika yang perlu dikembangkan dalam majlis ilmu. Pertama, sikap terbuka terhadap informasi ilmu yang dilambangkan dengan kesediaan memberi kelapangan (tafassuh) kepada orang lain. lebih jauh dapat dikembangkan pengertian memberikan kelapangan kepada orang lain juga mencakup kesediaan untuk menyampaikan informasi ilmu itu sendiri agar orang lain dapat mengaksesnya. Penting untuk dicatat, bahwa ilmu itu sendiri bersifat terbuka, siap untuk dikritik, dikoreksi, digugat dan diuji kebenarannya. Semua ini meniscayakan bahwa informasi ilmu itu harus terbuka pula. Lebih dari itu kesediaan untuk memberi tempat kepada orang lain menjadi syarat untuk dapat memperoleh kelapangan (kemudahan) dari Allah SWT dalam menuntut ilmu.

Kedua, Kesediaan untuk menghargai ulama, ustadz, atau guru yang dilambangkan dalam ayat tersebut dengan kepatuhan mematuhi perintah guru. Pada hakikatnya penghargaan terhadap ulama, ustadz, dan guru bukan disebabkan oleh pakaiannya, peci (lobe), atau sorban yang terlilit dipundaknya. Penghargaan itu diberikan karena ia memiliki ilmu atau dalam bahasa hadis disebut warasat al-anbiya (pewaris nabi). Dari sisi pengembangan risalah baik rasul atau ulama memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai pembawa kabar berita dan penyampai ajaran Allah. Ketika para rasul telah wafat tugas-tugas kenabian dan kerasulan itu dilanjutkan oleh para ulama, ustadz ataupun guru. Inilah sebabnya mereka disebut rasul dengan ungkapan “al-ulama warasat al-anbiya” (orang yang berilmu itu pewaris nabi). Tidaklah berlebihan jika dikatakan, orang-orang yang tidak dapat menghargai ulama sebenarnya ia tidak menghargai ilmu itu sendiri.

Berangkat dari makna substantif surat al-Mujadalah di atas, orang yang mendapatkan ketinggian derajat di sisi Allah bukan hanya orang yang beriman dan berilmu melainkan orang-orang yang menjunjung etika majelis ilmu. Pelanggaran terhadap etika majelis ilmu tidak hanya menjadikan orang tersebut mengganggu guru dan jama`ah yang lain, tetapi dikhawatirkan ia akan menjadi orang yang munafik. Ternyata hasil penelusuran sejarah, orang yang tidak betah terhadap majelis ilmu dan tidak mampu menghargainya adalah sebagian tanda orang-orang yang munafik. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *