Penyaksian “Khair” Untuk Jenazah

Irwansyah, M.H.I
Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Medan

Sudah lazim terjadi bahwa setelah selesai menshalatkan mayat lalu bilal meminta kesaksian dari para jemaah untuk menyaksikan apakah mayat tersebut adalah orang baik-baik atau tidak. Bilal selalu mengatakan “Apakah mayat yang ada di hadapan kita sekarang adalah orang yang baik-baik?” semua menjawab, “baik” walau pada sekelompok yang hadir di tempat itu tidak mengenal mayat yang baru saja dishalatkannya. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah bagi orang yang tidak mengenal sama sekali mayat tersebut atau orang yang sudah mengenalnya namun dia mengetahui bahwa mayat yang telah dishalatkannya adalah bukan orang baik-baik juga dibenarkan baginya untuk mengucapkan “khair” yang artinya adalah sebuah kesaksian baik terhadap mayat itu, atau dia harus berkata jujur dengan mengatakan bahwa mayat tersebut bukanlah orang baik-baik. Tulisan ini akan mencoba untuk mengulasnya secara sederhana.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Sahih-nya, bahwa dari Ummi Salamah dia berkata,  Rasulullah saw. pernah bersabda, “Apabila kamu menghadiri orang yang sedang sakit, atau mayat maka katakanlah “khair” (ia adalah orang baik). Maka saat itu, malaikat mengaminkan ucapan kamu itu.” (HR. Muslim), Hadis ini dapat dilihat dalam Sahih Muslim Syarh Nawawi, juz VI, halaman 222. Di hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Anas bin Malik dia berkata, “Nabi dan sekumpulan sahabat dilalui oleh satu jenazah,  maka sahabat-sahabat berkata, “khair” lalu Nabi berkata, “Sudah pasti.” Setelah itu kemudian berlalu kembali jenazah yang lain, maka para sahabat mengatakan, “syar” (orang jahat), lalu Nabi berkata, “Sudah pasti.” Maka Umar bin Khattab bertanya kepada Nabi saw. “Apakah yang pasti?.” Nabi menjawab, “yang itu kamu katakan khair maka pastilah ia masuk ke dalam surga, dan yang ini kamu katakan jahat maka pastilah ia masuk neraka, kamu adalah saksi-saksi Tuhan di muka bumi”. (HR. Bukhari). Hadis yang senada dengan ini juga diriwayatkan dalam jalur sanad yang lain. Dalam literatur lain, Imam al-Bukhari mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Apabila kamu menshalati jenazah, maka ucapkanlah “khairan” (baik) maka Allah berkata “Aku terima kesaksian mereka pada apa yang mereka ketahui dan Aku ampuni mayit itu pada apa yang mereka tidak mengetahuinya.” (HR. al-Bukhari).

Dari rangkaian hadis di atas dapat dilihat bahwa menyaksikan baik terhadap jenazah Muslim adalah benar kendatipun tidak mengenal mayat tersebut apakah orang baik-baik atau tidak. Islam memang mensyariatkan seseorang untuk selalu berprasangka baik (husn az-zhan) terhadap saudaranya sesama Muslim. Seseorang yang perilakunya tidak baik di dunia, tidak serta merta untuk meng-klaimnya sebagai penghuni neraka ketika dia meninggal dunia. Karena dalam kahazanah kajian Islam sendiri ada yang disebut dengan kafir inda an-nas mukmin inda Allah artinya seseorang kafir/ ahli maksiat dalam pandangan zahir manusia, namun ternyata dia mukmin di sisi Allah. Hal ini bisa saja terjadi karena taubat seseorang akan diterima Allah sebelum ajal menjemputnya, sebesar apapun dosa seseorang ketika dia minta ampunan Allah dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, Allah akan mengampuni dosanya selain dosa syirik kepada-Nya. Sebaliknya juga demikian, ada yang mukmin inda an-nas kafir inda Allah, dia sangat kelihatan orang yang taat akan perintah Allah, namun ternyata dia kafir dalam pandangan Allah seperti orang munafik atau orang yang kelihatannya taat dalam beribadah, namun ternyata dia tidak ikhlas dalam melakukannya, melainkan karena ada tujuan lain di balik semua itu.

Ahli surga atau nerakanya seseorang bisa terjadi saat sakaratulmaut. Saat-saat itu setiap orang yang dekat mati mengalami godaan setan yang berupaya menyesatkan akidahnya.  Berikut ada kisah nyata yang terjadi terhadap Imam al-Qurthubi. Bahwa satu ketika Imam al-Qurthubi sedang sakaratulmaut (menjelang kematian), orang mengucapkan la ilaha illa Allah. Lalu al-Qurthubi mengatakan “tidak.” Orang-orang tentu merasa bingung, karena mereka mengajarkan hal yang baik, tapi dia menolaknya. Alhamdulillah Allah mentakdirkan al-Qurthubi sembuh. Dia menceritakan, ketika dia sedang sekarat dua orang setan datang kepadanya dan mengatakan, “Matilah kau dalam agama Yahudi karena itulah agama yang baik. Sementara yang satunya lagi mengatakan, ”matilah dalam Agama Kristen karena itulah agama yang baik. “Lalu aku mengatakan tidak untuk menolaknya”, papar al-Qurthubi.

Kisah lain, terjadi pada K. Fathul Bari tahun 1970 di desa Telanger, Sokohanah, Simpang (Madura), pada petang hari Ahad tanggal 9 Agustus dia menghadapi sakaratulmaut. Kemudian orang-orang yang berhadir menganggapnya telah mati. Setelah 45 menit dianggap meninggal, tiba-tiba tubuhnya bergerak dan duduk bernafas kembali di tengah-tengah kerumunan keluarganya yang sedang menangisinya. Ketika dia pulih sadar, wartawan Harian Abadi datang ke rumahnya dan melakukan wawancara didampingi anaknya Fathullah. Dia menceritakan pengalamannya selama dalam keadaan diduga mati tersebut, katanya, “terasalah badan saya sangat panas, terasa lapar dan haus yang tiada taranya. Di saat itulah saya melihat seorang yang serupa dengan nenek saya yang telah lama meninggal. Nenek saya itu berkata sambil memperlihatkan makanan dan minuman kepada saya, yang saya sangat membutuhkannya, namun saya menolaknya. Saat itu saya melihat catatan amal keburukan sebelah kiri saya dan sangat mengerikan dan menakutkan sekali. Ketika itu saya merasa sedang tidak berada di dunia. Saya merasakan tarikan nafas saat ruh keluar dari tubuh saya, rasanya jasad saya hancur. Ratap tangis orang-orang sangat mengganggu jasad saya yang hancur. Apalagi kalau mereka banyak berbicara, tubuh saya terasa seperti ditusuk dengan pisau tajam yang mengandung racun. Ketika saya dibaringkan, saya melihat teman-teman dan keluarga datang bertakziah, mereka sama sekali tak menghiraukan betapa hancur luluhnya tubuh saya. Sakitnya saat pencabutan ruh sangat terasa, harapan saya ketika itu adalah mendapat siraman yang mendinginkan, tak terpenuhi. Malahan mereka semua menambah derita sakitnya jasad saya. Saya terasa melayang ke alam luas dibawa oleh seorang yang berperawakan tinggi besar yang menakutkan.  Saya dibawa keruangan besar berbau busuk dan di situ banyak laki-laki dan perempuan yang keadaannya sangat menyedihkan. Ketika saya dilihat seorang penjaga ruangan itu, dia mengatakan, “ini bukan tempatmu, di sanalah tempatmu” sambil menunjuk ke tempat lain. Saya dibawa ke tempat itu yang kelihatannya lebih baik dari tempat sebelumnya. Tapi di sini pun saya ditolak. Karena penolakan ini mungkin Allah belum menizinkan saya untuk meninggal saat itu.”

Saat K. Fathul Bari tersadar kembali setelah kembali sadar setelah 45 menit, dia termenung dan banyak berzikir sementara sakitnya tetap di deritanya. Ia sadar kembali selama 24 jam. Pada tanggal 10 Agustus 1970 setelah ia menyampaikan wasiatnya kepada keluarganya, ia meninggal pada usia 65 tahun. Kisah ini ditulis dalam buku Pedoman Mati karya H. M Arsyad Thalib Lubis yang dikutip dari Harian Mercusuar edisi 23 Agustus 1970.

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah di atas adalah, “pertama; seseorang yang kelihatannya tidak baik pada sakaratulmaut seperti al-Qurthubi yang menolak untuk di-talqin-kan, tidak serta merta memvonisnya adalah ahli neraka, olehkarena bisa jadi yang dia tolak bukanlah talqin yang diaajrkan kepadanya, melainkan ajakan setan yang ingin menyesatkannya. Kedua; orang yang sedang sakaratulmaut melihat berbagai pemandangan yang tidak terlihat oleh mata normal. Ketiga; setan sangat berupaya menyesatkan akidah seseorang ketika sakaratulmaut, maka tidak tertutup kemungkinan orang yang rajin beribadah di dunia tapi imannya tidak cukup kuat untuk menahan godaan setan saat sakaratulmaut, maka saat itu dia kafir dan ahli neraka.

Penyaksian baik kepada jenazah adalah perilaku yang sesuai dengan syariat Rasulullah saw. Menyaksikan baik kepada jenazah setelah dishalatkan adalah perbuatan baik, kendatipun tidak mengenal sama sekali mayat yang disaksikannya. Paling tidak itu adalah doa (min bab ad-du’a) semoga ketika baik disaksikan manusia, dia juga baik dalam pandangan Allah. Lebih dari itu manusia tidak bisa mengetahui saat-saat menjelang kematian dia bertaubat memohon ampunan Allah, dan Allah mengampuni dosa-dosanya. Semoga bermanfaat !!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *