Kehidupan di Mihrab Shalat

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc
Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan

Oleh-oleh yang dibawa Rasulullah saw. pasca bertemu dengan Allah di Sidratul Muntaha adalah shalat. Inilah ibadah fardhu yang penjemputannya dilakukan dengan langsung ‘naik’ ke langit. Apa makna dibalik pejemputan tersebut? Adakah hal yang istimewa yang terdapat di dalam shalat fardhu?

Sebagai muslim, kita boleh saja berfikir dan merenungkannya, tapi tidak untuk merusak. Apalagi, meragukan perintah kewajiban shalat. Memikirkannya hanya untuk menimbulkan ketentraman dalam mendirikan ibadah shalat. Sehingga, kita bisa meyakini dengan maksimal bahwa di dalam shalat adalah kehidupan yang positif. Bila telah sampai pada kondisi seperti ini bakal menimbulkan dampak positif saat kita berada di kehidupan masyarakat.

Bagaimana tidak? Shalat adalah ibadah yang utama. Bahkan bila dirujuk dalam firman Allah SWT maupun hadis Rasulullah saw., yang membedakan orang muslim dengan orang non muslim adalah shalat. Yang membedakan orang bersyukur dengan orang kufur juga shalat. Bacalah surat al-Kautsar! Kita bakal menemukan cara bersyukur yang pertama kali diajarakan Allah SWT adalah shalat. Baru setelah itu, berbagi dengan orang lain. Demikian juga hadis Rasulullah saw. bernada, “Perbedaan antara seorang muslim dengan musyrik atau kufur (nikmat) adalah shalat.” (HR. Muslim)

Bukti Kehidupan Dalam Shalat

Jika shalat memiliki nilai yang istimewa, pasti ada di dalamnya kehidupan. Ada aturan main yang bisa membuat orang yang mendirikannya mendapatkan pahala dan kebaikan-kebaikan lainnya. Pahala pasti didapat, ketika menjadikan shalat semata-mata karena Allah SWT. Kebaikan-kebaikan lain juga bakal didapat, di antaranya ketenangan jiwa, kepercayaan diri dan kesehatan.

Ketenangan jiwa yang didapat oleh orang yang mendirikan shalat, ketika ia menyadari bahwa saat shalat ia sedang mengadu kepada Allah SWT. Ia menunjukkan sikap dirinya yang sebenarnya. Saat membaca surat al-Fatihah dengan tegas menyatakan bahwa hanya kepada Allah dia menyembah dan meminta. Hanya kepada Allah dia meyakini mendapatkan petunjuk untuk bisa menggapai jalan yang lurus. Jalan yang bisa menghantarkannya bersama dengan para kekasih Allah.

Ketenangan jiwa bukan saja kita yang merasakannya, Rasulullah juga. Malah Beliau menjadikan shalat sebagai jalan untuk mendapatkan ketenangan jiwanya saat dirinya sendang gundah gulana. Dalam literatur sejarah disebutkan, kala Rasulullah saw. menghadapi persoalan yang genting, Beliau berlindung kepada Allah lewat shalat. Rasulullah benar-benar mengaplikasikan pesan Allah SWT di dalam al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah shalat dan sabar sebagai penelongmu.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Jika Rasulullah saw. saja menjadikan shalat sebagai langkah untuk mendapatkan ketenangan jiwa, mestinya kita juga melakukan hal yang sama. Apalagi, di dalam al-Qur’an, Allah SWT sudah menjelaskan karakter manusia yang lebih banyak mengeluhnya ketimbang syukurnya. Lebih banyak pelitnya ketimbang dermawannya. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.  Apabila mendapatkan kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’aarij: 19-23)

Shalat juga menumbuhkan kepercayaan diri. Sebab orang yang shalat merasa yakin bahwa hidupnya bakal diperhatikan Allah SWT. Karena ia sudah menjalani jalan yang diridhai-Nya. Bila shalatnya sudah terjaga dengan baik, maka keinginannya terhadap kehidupan duniawi pun akan sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Sebab, ia percaya diri bahwa jika ditanya Allah untuk apa umurnya dipergunakan, ia bakal menjawab dengan mudah untuk beribadah kepada Allah SWT lewat shalat. Ia juga bakal percaya diri untuk keperluan apa harta yang dimilikinya di dunia, dengan mudah bakal dijawabnya, untuk ibadah shalat kepada Allah. Bukankah orang yang senantiasa menjaga shalatnya dari satu ke waktu menjadi orang yang memiliki kepercayaan diri?

Jika kepercayaan diri dalam shalat sudah muncul, tak ada lagi rasa susah dan gelisah dalam hidup ini. Hidup ini tidak lagi berorientasi kepada dunia dan segala isinya. Harta tak membuatnya silau. Kekayaan orang lain tak membuatnya terpesona. Sebab, dengan kepercayaan dirinya dalam shalat membuatnya yakin bahwa kelak Allah bakal memberikan rahmat-Nya dengan mudah masuk ke surga. Jika sudah mendapat ‘garansi’ masuk surga, tentu hidup di dunia pun bahagia.

Shalat juga mendatang kesehatan. Perhatikan saja, syarat sahnya shalat adalah bersuci. Berwudhu untuk mengangkatkan hadis kecil dan Mandi untuk mengangkatkan hadats besar. Suci badan, pakaian dan tempat. Jika lima kali dalam sehari semalam ini dilakukan, otomatis mendatangkan kesehatan. Gerakan-gerakan dalam shalat juga memberikan dampat positif pada tubuh manusia, khususnya sendi-sendi tubuh orang yang shalat.

Karena itu, kehidupan di mihrab shalat jangan pernah kita sia-siakan. Manfaatkan shalat yang didirikan sebagai media berjumpa dengan Allah. Apalagi, shalat dikatakan saat-saat yang paling dekat antara hamba dengan Tuhannya. Ada komunikasi di dalam shalat antara hamba dengan Tuhannya. Ada permohonan hamba yang dilakukan dalam shalat yang membuat Tuhan malu untuk menolaknya. Masihkah kita menganggap shalat sebagai pelepas kewajiban sebagai muslim?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *