Konsepsi Wakaf Uang di Indonesia

Dr. Andri Soemitra, MA

Konsep Islam mengenai filantropi termuat dalam sejumlah strategi pengeluaran dana sosial, antara lain zakat, infaq, sedekah, dan wakaf. Masing-masing jenis pengeluaran dana sosial tersebut memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Namun, di balik karakteristik yang berbeda-beda tersebut semua jenis pengeluaran dana sosial tersebut memiliki tujuan mengangkat harkat kehidupan masyarakat yang kurang beruntung dan hidup dalam kekurangan.

Wakaf merupakan salah satu jenis filantropi Islam yang dipandang paling strategis untuk dimanfaatkan sebagai alat mengentaskan berbagai persoalan sosial di masyarakat muslim. Sifat pemanfaaan harta wakaf yang “abadi” memungkinkan pemanfaatan harta dalam rentang waktu yang panjang sehingga berbagai strategi dimungkinkan untuk dapat dilaksanakan. Salah satu jenis wakaf yang cukup berhasil dijalankan dalam skenario wakaf produktif di luar negeri adalah wakaf uang. Secara teoritis wakaf uang dapat dikembangkan dengan sistem akad mudharabah di mana keuntungannya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemaslahatan umat.

Andri Soemitra dalam bukunya Bank dan Lembaga Keuangan Syariah sub bab Wakaf menyebutkan bahwa secara etimologi, wakaf berasal dari perkataan Arab “Waqf” yang berarti “al-Habs”. Ia merupakan kata yang berbentuk masdar yang pada dasarnya berarti menahan, berhenti, atau diam. Apabila kata tersebut dihubungkan dengan harta seperti tanah, binatang dan yang lain, ia berarti pembekuan hak milik untuk faedah tertentu. Sebagai satu istilah dalam syariah Islam, wakaf diartikan sebagai penahanan hak milik atas materi benda (al-‘ain) untuk tujuan menyedekahkan manfaat atau faedahnya (al-manfa‘ah).

Wakaf bertujuan untuk memberikan manfaat atau faedah harta yang diwakafkan kepada orang yang berhak dan dipergunakan sesuai dengan ajaran syariah Islam. Hal ini sesuai dengan fungsi wakaf yang disebutkan pasal 5 UU no. 41 tahun 2004 tentang wakaf yang menyatakan wakaf berfungsi untuk mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Dalam Undang-undang nomor 41 tahun 2004, wakaf diartikan dengan perbuatan hukum Wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.

Landasan hukum wakaf didasarkan pada al-Quran dan Hadis, kesepakatan (ijma’) ulama menerima wakaf sebagai satu amal jariyah yang disyariatkan dalam Islam. Tidak ada orang yang dapat menafikan dan menolak amalan wakaf dalam Islam karena wakaf telah menjadi amalan yang senantiasa dijalankan dan diamalkan oleh para sahabat Nabi dan kaum Muslimim sejak masa awal Islam hingga sekarang. Dalam konteks negara Indonesia, amalan wakaf sudah dilaksanakan oleh masyarakat Muslim Indonesia sejak sebelum merdeka. Oleh karena itu pihak pemerintah telah menetapkan Undang-undang khusus yang mengatur tentang perwakafan di Indonesia, yaitu Undang-undang nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf. Untuk melengkapi Undang-undang tersebut, pemerintah juga telah menetapkan Peraturan Pemerintah nomor 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang nomor 41 tahun 2004.

Pada pasal 16 ayat 3, UU No. 41 tahun 2004 disebutkan bahwa salah satu benda bergerak yang dapat diwakafkan adalah uang. Wakaf uang adalah jenis harta yang diserahkan wakif dalam wakaf uang adalah uang dalam valuta rupiah. Wakaf uang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) yang ditunjuk oleh Menteri Agama sebagai LKS Penerima Wakaf Uang. Dana wakaf berupa uang dapat diinvestasikan pada aset-aset finansial dan pada aset riil. Investasi pada aset finansial dilakukan di pasar modal misalnya berupa saham, obligasi, warran, dan opsi. Sedangkan investasi pada aset riil dapat berbentuk antara lain pembelian aset produktif, pendirian pabrik, pembukaan pertambangan, dan perkebunan.

Berdasarkan pasal 16 ayat 3, UU No. 41 tahun 2004 di atas terdapat sejumlah elemen penting wakaf uang. Pertama, berkaitan dengan jenis harta yang diserahkan wakif dalam wakaf uang adalah uang dalam valuta rupiah. Kedua, pengelola wakaf uang adalah Lembaga Keuangan Syariah (LKS) yang ditunjuk oleh Menteri Agama sebagai LKS Penerima Wakaf Uang. Hal ini berarti LKS yang mendapatkan izin penunjukan oleh Menteri Agama bertindak sebagai Nazir yang menerima wakaf uang dan mengelolanya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Ketiga, dana wakaf berupa uang dapat diinvestasikan pada aset-aset finansial di pasar modal misalnya berupa saham, obligasi, warran, dan opsi dan pada aset riil yang dapat berbentuk antara lain pembelian aset produktif, pendirian pabrik, pembukaan pertambangan, dan perkebunan.

Dengan demikian demikian konsepsi wakaf uang di Indonesia dipahami sebagai suatu bentuk pemanfaatan harta wakaf dalam bentuk uang tunai bermata uang rupiah yang dikelola oleh Lembaga Keuangan Syariah yang mendapatkan persetujuan Menteri Agama. Dana yang dihimpun kemudian dialokasikan dalam bentuk investasi ke sektor-sektor yang menguntungkan antara lain sektor finansial di pasar modal maupun di sektor riil. Hasil keuntungan dari investasi dana wakaf uang tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat sesuai dengan ketentuan.

Berdasarkan pelacakan ke berbagai sumber terkait dengan Nashir Wakaf Uang di Indonesia ditemukan bahwa pengelolaan wakaf uang di Indoensia dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah baik berbentuk Bank Syariah, Koperasi Syariah dan Badan Amil Zakat yang telah terdaftar sebagai Nazhir Wakaf Uang yang diterbitkan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI). Pada hari Jumat tanggal 8 Januari tahun 2010 di era pemerintahan SBY sudah pernah dilaksanakan gerakan wakaf uang nasional. Hanya saja, menurut laporan Republika wakaf uang masih belum tersosialisasi dengan baik. Wakaf uang yang terkumpul baru mencapai angka Rp. 2 milyar padahal potensinya semestinya per bulan wakaf uang di Indonesia bisa mencapai Rp. 10 Milyar.

Oleh karenanya, persoalan wakaf uang masih perlu sosialisasi lebih lanjut dan upaya yang terus menerus untuk dapat meningkatkan pemberdayaan wakaf nasional. Wakaf uang diharapkan mampu menjadi alternatif pendayagunaan dana umat secara lebih produktif karena sifatnya yang luwes. Indonesia perlu mencontoh pendayagunaan wakaf uang sebagaimana diterapkan di beberapa negara lain yang cukup sukses memanfaatkan wakaf uang untuk mendukung pembangunan nasional.

Tercatat sejumlah negara telah mengembangkan wakaf uang dalam berbagai sektor produktif. Beberapa negara antara lain Arab Saudi, Kuwait, Yordania, Turki, dan Singapura dilaporkan telah mengembangkan wakaf uang dalam berbagai skema pengembangan pelayanan publik dan mendukung pembiayaan berbagai sarana-prasarana seperti hotel, toko, apartemen, asrama mahasiswa, dan berbagai properti lain yang hasilnya diperuntukkan bagi kemaslahatan umat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *