Shalat & Motivasi Tawhidi dalam Kehidupan

Dr. Muhammad Syukri Albani Nasution, MA
Sekretaris Umum MUI Kota Medan

Nilai inti dari Isra’ Mi’raj-nya Rasul Muhammad Saw, bagaimana kewajiban shalat selanjutnya akan menjdi instrument keberimanan manusia. Shalat harus berhasil menjadi motivasi nilai tawhidi (keberimanan mutlak) bagi setiap manusia sehingga shalat memberi efek baik dalam prilaku kemanusiaan. Sebuah cerita yang menjadi inspirasi dan motivasi didalam buku Diatas Sajadah Cinta karangan Habiburrahman El Shiraji lihat juga dalam Kisah di Hadis ‘Uspuriyah tentang dua orang saudara yang saling berbeda karakter. Satu, adalah orang yang Abid, ( ahli ibadah). Satu lagi seorang yang bermaksiat dan hidupnya jauh dari ibadah. Namun keduanya adalah saudara kandung walau saling berbeda karakter dan kepribadian.

Pada suatu hari, keduanya merasa jenuh terhadap aktivitas mereka masing-masing. Si Abid merasa jenuh atas ke-Abidannya, dan si Maksiat juga jenuh atas kemaksiatan yang selalu dia lakukan. Muncul pemikiran si Abid untuk merubah karekater dan jalan hidupnya sekali saja. Ia merasa bahwa hidupnya selama ini sudah dihiasi dengan ibadah dan dekat dengan Allah, tidak mungkin Allah memasukkan aku kedalam neraka hanya karena aku berbuat maksiat sekali saja, fikirnya. Dan nanti aku juga bisa menindak lanjutinya dengan bertaubat.

Sementara si anak yang selalu berbuat maksiat tersebut juga berfikir bahwa ia harus mengakhiri hidupnya yang hanya dihiasi dengan maksiat dan kejahatan saja. Ia teringat dengan sosok saudara kandungnya yang sangat giat beribadah. Ia termotivasi terhadap saudara kandungnya tersebut. Ia juga jenuh dengan kehidupannya saat ini yang hanya dihiasi dengan kemaksiatan dan kejahatan saja.

Akhirnya mereka berdua menyimpulkan untuk berubah pada hari itu. Si Abid melakukan maksiat, dan si anak yang kerap melaksanakan maksiat pada hari itu bertaubat dan khusu’ beribadah. Hingga singkat kisahnya, di saat aktivitas mereka itulah Allah mencabut nyawa keduanya dalam sebuah bencana yang terjadi. Dalam Hadis ’Usfuriyah ditambahkan bahwa kelak Allah akan memasukkan si Abid ke dalam Neraka, dan si anak yang selalu bermaksiat masuk ke dalam Syurga

Si Abid masuk ke dalam Neraka disebabkan ia telah mengakhiri hidupnya dalam keadaan bermaksiat, ia juga sudah merasa cukup ibadah dan menghitung-hitung nilainya dari Allah. Padahal penerimaan ibadah yang dilakukan seorang hamba hanya Allah yang tahu. Sementara si anak yang kerap melaksanakah maksiat itu masuk Syurga sebab ia mengakhiri hidupnya dalam keadaan bertaubat. Selama hidupnya ternyata ia tetap tidak merasa ragu akan kebesaran Allah. Ia menyadari bahwa perbuatannya itu adalah salah, dan ia mengakuinya dalam taubat dan ibadah.

Ibadah dan Motivasinya.

Inilah yang menjadi motivasi bagi semua hamba Allah. Bahwa ibadah dalam pelaksanaannya harus disertai dengan nilai dan niat yang benar-benar jauh dari “hitung-hitungan“ dan kepuasan. Nilai ibadah dan penerimaan sebuah ibadah adalah hak mutlak Allah. Tidak ada satu orangpun yang dapat memastikan bahwa ibadahnya sudah benar-benar diterima Allah.

Oleh karenanya, harus ada konsistensi niat, ketulusan pelaksanaan dan keikhlasan dalam pengaplikasian ibadah. Hal ini sangat jelas disinyalir Rasul Muhammad Saw. Dalam Hadis Shahih yang diriwayatkan Bukhari Muslim.” Sebuah perbuatan itu hanya dilihat berdasarkan niatnya. Siapa saja yang berhijrah dengan niat karena Allah dan RasulNya, maka ia akan mendapatkan nilai karena Allah dan Rasul-Nya. Siapa saja yang hijrah berniat karena harta wanita dan tahta, maka ia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan “. Hal ini juga didukung oleh Hadis Qudsi “ Sesungguhnya Aku ( kata Allah) ada sesuai dengan persangkaan hambaKu”.

Hadis tersebut sangat jelas memberikan pemahaman bahwa konsistensi niat dan motivasi dalam melaksanakan sebuah pekerjaan dan perbuatan menjadi titik tolak dan tolak ukur yang teramat penting dalam menindak lanjuti apakah sebuah perbuatan itu benar-benar karena Allah atau memang ada motivasi lainnya. Baik niatnya, maka baik pulalah perbutannya. Begitu juga sebaliknya, buruk niatnya, tidak ikhlas niatnya, maka tidak baik pula perbuatannya. Meski hal itu bisa dilihat secara cepat atau berpengaruh pada hasil yang akan diperoleh nantinya.

Ibadah seharusnya melahirkan sifat rendah hati dan Tawadhu’. Hal ini adalah hasil dari ibadah yang dilakukan atas dasar lillahi ta’ala. Sebab, ibadah yang dilaksanakan karena merasa bahwa diri ini adalah seorang ciptaan yang lemah, yang butuh pegangan, hamba yang butuh pedoman, hamba yang butuh pertunjuk, hamba yang selalu melakukan kesalahan, hamba yang selalu terjerumus pada buruk sangka, baik pada makhluk dan Khaliknya. Akan melahirkan suasana qalbu dan bathiniyah yang tunduk dan Tawadhu’. Melahirkan ibadah yang “ nikmat “ ( khusu’) yang hanya mampu terf-eksplorasi melalui suasana ibadah yang memiliki motivasi untuk melahirkan nilai ke-khusu’an dan ketawadhu’an dihadapan Allah.

Dalam bahasa Tasawuf-nya, sering disebutkan ada Maqam dan Ahwal yang akan dilalui seorang hamba bilamana ia sedang mengarungi bahtera ibadah dalam pencarian nilai “khusu’” yang menghadirkan kenikmatan dalam ibadah tersebut. Hal inilah yang menurut hemat penulis sulit hadir di tengah-tengah ibadah-nya seorang hamba. Dan seharusnya hal ini pulalah yang menjadi motivasi tersendiri untuk melahirkan nilai ibadah yang memberi hasil dan dampak postifi terhadap moral, tingkah laku dan perbuatannya sebagai seorang “hamba”.

Dalam analisis yang lebih jauh lagi Quraish Shihab menjelaskan bahwa makna luas dari ayat Alquran yang artinya “ sesungguhya Shalat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar “.  Adalah sebuah aktivitas Shalat yang memiliki motivasi yang jelas. Memiliki keterikatan pengabdian terhadap Allah sebagai sang Khalik, dan shalat yang diawali dari konsistensi niat sebagai wujud pembuktian akan kehambaan diri. Meski dalam bahasa yang berbeda, namun Quraish Shihab melihat bahwa tidak serta merta aktivitas shalat yang dilakukan melahirkan ketakutan diri terhadap perbuatan yang dilarang Allah. Hingga akhirnya, untuk sampai kesana seorang hamba butuh kepedulian terhadap kualitas niat yang ia miliki.

Shalat dan Motivasi Qur’ani.

Dalam Alquran Surat Yasin ayat 77 Allah menyindir manusia untuk menyadari dari apa ia berasal “ Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari cairan yang menjijikkan, ( tapi setelah menjadi manusia) tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata.”. ayat ini adalah sebuah sindiran Allah terhadap hamba yang melalaikan kualitas kehambaannya dihadapan Allah. Manusia sering terlupa akan kodrat kehambaannya dengan akal fikiran yang kerap membuat manusia merasa berkuasa terhadap hidupnya.

Padahal Allah menyuruh seorang hamba beribadah dengan beragam motovasi. Namun, tidak pernah Allah berturun tahta akan kekuasaan dan ketuhannya walau tidak seorangpun hamba menyembah pada-Nya. Nilai subtansial yan terkandung dalam perintah Shalat termasuk untuk memberi penyadaran terhadap seorang hamba akan kehambaan dirinya. Mengholangkan sifat angkuh kemanusiaannya, menghilngkan sifat tinggi hati dan merasa berkuasa atas hidupnya. Teguran Allah dalam Surat Yasin tersebut seharusnya menjadi penyadaran dan I’tibar bagi seorang hamba bahwa harus ada evaluasi terhadap kulaitas ibadah dan segenap perbuatan kehambaannya selama ini. Apakah sudah baik atau justru sudah terjerumus pada ruang keangkuhan dalam beribadah.

Dalam surat lain, tepatnya Surat Al A’raf ayat 23 dijelaskan “ keduanya ( Adam dan Hawa) berkata : “Ya Allah tuhan kami, kami telah berbuat Dzalim kepada diri kami sendiri dan sekiranya Engkau tidak mengampuni kami, maka pasti kami nanti akan menjadi orang yang menyesal ( sengsara)”. Akhirnya, kita merujuk pada pengakuan Adam atas penyesalannya karena tidak mengindahkan perintah Allah hingga akhirnya ia diturunkan ke bumi. Ini juga teguran Allah kepada Adam dan keturunannya kelak untuk tidak merasa “ berpuas diri “ terhadap ibadah dan amal yang sudah diperbuat selama ini. Allah tidak akan melihat kuantitas ibadah semata, tapi Allah juga akan menguji konsistensi niat dan motivasi ibadah dalam kaitan kualitasnya. Inilah yang menjadi tolak ukur ibadah tersebut. Tentunya hanya hamba dan Allah saja yang mengetahui tingkat motivasi seorang hamba dalam beribadah.

Nabi Adam menyesali perbuatannya. Ia tidak ingin terjerumus dalam kesalahan yang sama, hingga akhirnya ia berdo’a bahwa ia telah menzholimi dirinya sendiri, dan alangkah meruginya ia jika tidak ada keampunan yang diberikan Allah kepadanya. Kesadaran diri bahwa ibadah yang dilakukan belum sesuai dengan kodratnya akan melahirkan sikap tawadhu’ dan rendah hati di hadapan Allaj. Tidak mau berpuas diri terhadap ibadah yang selama ini telah dilakukan. Dan tidak berputus keinginan terhadap ibadah yang belum dilaksanakan.

Akhirnya, sebuah ibadah yang dilakukan harus melahirkan sikap Tawadhu’  dan rendah hati di hadapan Allah. Menghadirkan kenikmatan beribadah , serta melahirkan keasyikan dalam ibadah. Kualitas ibadah akan semakin meningkat seiring nilai dan motivasi yang tertuang dan tertanam didalamnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang benar ibadahnya. Amin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *