Informasi Peristiwa Mikraj Nabi saw. Tidak Rasional

Irwansyah, M.H.I

Angggota Komisi Fatwa MUI Kota Medan

 

Berita tentang peristiwa israk dan mikraj Nabi saw. yang melakukan perjalanan pada satu malam mulai dari Masjidilharam ke Masjidilaksa dan terus naik ke langit ke tujuh menembus Sidratulmuntaha adalah peristiwa luar biasa yang diperoleh melalui informasii Alquran dan Hadis Nabi saw. Dalam surah al-Isra’ Allah berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Isra`: 01).

Di ayat lain, Allah juga menjelaskan bahwa Nabi saw. melihat Jibril dalam bentuk aslinya.

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ  عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ  عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada sorga tempat tinggal” (QS. an-Najm : 13-15).

Lebih detail peristiwa israk dan mikraj Nabi  Muhammad saw. direkam dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Dalam Islam, jika sebuah informasi diperoleh dari dua sumber primer di atas, wajib untuk meyakininya.

Akan tetapi, peristiwa israk dan mikraj Nabi saw. menjadi pertanyaan besar tentang kebenarannya jika dihadapkan dengan pemikiran rasional dan dibenturkan dengan sains dan ilmu pengetahuan. Bagaimana mungkin tubuh Nabi dalam wujud manusia mampu melewati atmosfir tanpa terbakar, bagimana mungkin kecepatan kenderaan Nabi yang disebut dengan istilah Buraq bisa lebih cepat dari kecepatan cahaya (300.000 km/detik)?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan hilang ketika kita menyadari keterbatasan akal manusia dalam menjangkau segala sesuatu. Dalam bangsa Arab dikenal sebuah pribahasa, al-`Aqlu syai’ wa laisa kulla syai’ artinya, akal bisa mengindera sesuatu, tetapi tidak segala sesuatu. Direktur Neurodegerative Disorder Centre (Pusat Penaggulangan Penyakit Saraf) di RS Vancouver dan Professor Neurology di University of British Columbia, Donald B. Calne telah melakukan penelitian multidisiplin ilmu pengetahuan dan menuliskan hasil penelitiannya dengan judul, Within Reason: Rationality and Human Behavior diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul, Batas Nalar: Rasionalitas & Perilaku Manusia. Dalam buku ini Calne menjelaskan bahwa nalar hanyalah alat untuk berpikir dan kemampuannya sangat terbatas (Ramli Abdul Wahid, Aktualisasi Nilai-nilai Israk Mikraj).

Sebenarnya, banyak hal yang kita saksikan di dunia nyata, namun pada prinsipnya kesemuanya itu tidak masuk akal dalam bahasa lain tidak rasional. Misalnya seperti pesulap yang mengeluarkan api dan merpati dari saku jasnya, David Couperfield menghilangkan Tugu Kemenangan Amerika, dari tempatnya. Entah ini sihir atau sejenisnya, yang pasti orang yang menyaksikannya heran dan merasa hal itu tidak mungkin.

Perlu difahami, bahwa informasi Alquran ada yang bersifat Rasional (masuk akal), ada yang Irrasional (tidak masuk akal) dan ada yang bersifat Supra Rasional (di luar jangkauan akal). Peristiwa mikraj Nabi adalah termasuk dalam kategori Supra Rasional yang tidak bisa di indera dengan akal manusia yang mempunyai keterbatasan untuk menjangkau segala sesuatu. Melakukan observasi terhadap Israk Mikraj pun untuk saat ini tidak bisa dilakukan karena memang peristiwa itu adalah di luar batas kemampuan manusia.

Memang, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, tidak tertutup kemungkinan manusia akan menemukan indikasi-indikasi kebenaran peristiwa israk mikraj Nabi melalui pendekatan sains. Sejauh ini, sudah banyak informasi-inforamasi yang bersumber dari Alquran dan Hadis yang pada masa awal sangat tidak rasional namun pada akhirnya di dunia modern ini dapat dibuktikan secara ilmiah. Di antara contoh kasusnya seperti kisah manusia yang ditidurkan Allah selama berabad-abda di dalam sebuah gua. Hal ini dijelaskan dalam Alquran surah al-Kahfi bahwa Allah menidurkan tujuh pemuda bersama seekor anjing selama lebih kurang 309 tahun. Bagaimana mungkin hal ini bisa diterima oleh akal, bahkan banyak yang berasumsi bahwa berita ini hanyalah dongeng belaka.

Akan tetapi, paradigma berfikir demikian hari ini terbantahkan dengan penelitian Dr. Nadirsyah Hosen, Ph.D salah seorang pengajar University of Wollongong, Australia dan Dr. Nurussyariah Hammado, M. NeuroSci, pakar Nourosains. Dalam buku yang mereka tulis dengan judul Ashabul Kahfi Melek 3 Abad: Ketika Neurosains dan Kalbu Mnejelajah Al-Quran, mereka mnegemukakan bahwa peristiwa tidurnya tujuh orang pemuda dalam gua selama berabad-abad sebagaimana yang diiformasikan Alquran, dapat diterima dengan pendekatan ilmu pengetahuan. Allah mengatakan:

فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا  ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا

“Maka Kami tutup telinga mereka dengan di dalam gua itu selama beberapa tahun, kemudian Kami bangunkan mereka agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu)“. (QS. Al Kahfi : 11-12)

Mengomentari ayat di atas kedua pakar itu mengatakan bahwa dalam perspektif sains pemilihan gua sebagai tempat ditidurkannya ketujuh pemuda tersebut bukan tanpa alasan. Dari aspek ilmu pengetahuan, berdiam dalam gua yang bersuhu rendah untuk jangka waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya penurunan suhu tubuh(hipotermi) yang berakibat pada penghambatan (inhibisi) laju metabolisme otak dan gangguan pengaturan fungsi organ-organ tubuh. Berat ringannya kualitas gangguan bergantung pada derajat hipotermi karena setiap penurunan suhu otak sebesar 10C akan menyebabkan penurunan laju metabolisme otak sebesar 6%. Sementara itu, suhu tubuh manusia normal berkisar antara 350 C s.d 370 C. Penurunan suhu hingga 300 C akan menyebabkan ritme jantung lebih lambat.

Dari salah satu situs Biospeleology (ilmu yang mempelajari tentang gua dan lingkungan sekitarnya) menjelaskan bahwa suhu dalam gua berkisar pada suhu harian di luar gua dalam setahun. Terlepas dari bagaimana topografi gua tersebut, ayat tersebut menyiratkan bahwa atas izin Allah swt., matahari tidak tepat berada di depan mulut gua, tetapi terbit di arah kanan dan sisi kiri gua. Kondisi ini ternyata dapat mengkonsistensikan suhu dalam gua tetap dalam kisaran yang menyebabkan penurunan laju metabolisme otak, tapi tidak mengakibatkan koma atau kematian. Kondisi optimum seperti ini bisa dicapai jika temperatur lingkungan menyebabkan suhu tubuh turun antara 220C-280 C. Dengan kata lain, sejauh data dan logika ilmu pengetahuan yang dikemukakan Nadirsyah Hosen dan Nurusysyariah Hammado di atas, peristiwa tidurnya tujuh orang pemuda sebagaimana yang diberitakan dalam surah al-Kahfi, dapat diterima secara ilmiah.

Informasi Alquran lain bahwa ada alam lain selain alam manusia yang juga berdampingan dengan alam manusia. Para ilmuan saat ini sudah memperoleh indikasi kebenarannya walaupaun tidak terlihat. Mereka menyebutnya dengan teori tali atau String Theory yang menyimpulkan bahwa ada dimensi lain di alam ini selain dimensi manusia. Islam menyebutnya alam ruh. Dalam ilmu Kimia-Fisika, sebuah benda tiadak ada yang hilang, melainkan berubah wujud. Kayu dibakar menjadi abu, bukan berarti kayunya hilang, melainkan berubah menjadi abu dan asap. Ilmuan menyebutnya dengan Hukum Kekekalan Massa yang ditemukan oleh ilmuan Kimia Prancis, Antonie Laurent Lavoisier(1734-1793). Sementara itu, dalam Islam sedekah dan sejenisnya yang secara mata zahir menghilangkan harta tapi pada substansinya sedekah itu berubah wujud menjadi pahala dan pindah ke alam akhirat. Ini baru sebahagian kecil dari penemuan-penemuan para ahli yang jika dihibungkan dengan informasi wahyu, terdapat korelasi/kesesuaian.

Alur cerita dan fakta ini diangkat  ini diangkat hanya ingin menjembatani pemikiran bahwa peristiwa yang diinformasikan wahyu yang sementara waktu tidak dapat dirasionalkan atau diterima secara ilmiah, akan terbukti kebenarannya seiring dengan berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Sama halnya dengan peristiwa israk dan mikrajnya Nabi saw. mungkin sampai tiba masanya nanti, Iptek akan menemukan indikasi kebenarannya secara ilmiah.

Kendatipun informasi mikraj Nabi ke langit menembus atmosfir sebagaimana yang diberitakan Alquran sejauh ini belum bisa diobservasi secara ilmiah, umat Islam wajib mengimaninya karena informasinya valid melalui wahyu Alquran dan Hadis sahih Nabi. Tidak percaya dengan kebenaran Alquran dan Hadis Nabi hukumnya Kafir. Saat ini, peristiwa israk dan mikraj Nabi belum bisa dirasionalkan karena memang sifatnya supra rasional, bukan rasional. Kejadiannya dijelaskan melalui wahyu Alquran dan Hadis sahih. Pada akhirnya, peristiwa israk mikraj dengan berbagai kejadian luar biasanya tidak bertentangan dengan akal, karena keberadaannya di luar jangkauan akal. Peristiwa itu adalah mukjizat, dan  sesuai dengan terminologinya, bahwa mukjizat merupakan peristiwa luar biasa yang diberikan Allah kepada pada Nabi-Nya yang di luar jangkauan akal manusia. Sesuatu yang di luar jangkauan akal, cukup hanya diimani saja.

Nasrun minallah wa fathun qarib wabasysyiril mukminin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *