MUI Medan Beri Penyuluhan Nilai Islam Bagi Pelajar

Komisi Ukhuwah dan Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan memberikan penyuluhan aktualisasi nilai-nilai Islam dalam multikulturalisme bagi pelajar di Sekolah Al Washliyah Medan dan SMK Negeri 1 Medan, Kamis-Jumat (15-16/9). Hadir sebagai narasumber Ketua MUI Kota Medan, Prof DR Muhammad Hatta, Kabid Ketahanan Ekonomi Sosial Budaya dan Organisasi Kemasyarakatan Kota Medan Laksamana Putra Siregar dan Ketua Komisi Ukhuwah MUI Medan Burhanuddin Damanik.

Dalam paparannya, Ketua MUI Kota Medan, Prof Hatta menyatakan, prof hatta, agama Islam memandang multikultural sebagai peradaban Rahmatan Lil ‘Alamin sehingga memunculkan rasa persaudaraan.
“Indonesia negara besar di Asia ini. Bermacam banyak kepercayaan, bahasa dan budaya tetapi tetap sepakat untuk tetap dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika,” ucapnya.

Untuk itu, wawasan kebangsaan dan nasionalisme harus dapat ditanamkan pada jiwa pemuda yang menjadi generasi muda Indonesia. Sebab, sejak dulu pemuda merupakan pilar kebangkitan dan dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya.

 

“Pemuda Indonesia khususnya Islam jangan rendah diri, jangan merasa ragu-ragu untuk menjadi orang hebat. Karena banyak pemuda binaan Rasulullah yakni Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Arqam bin Abi Arqom, Ustman bin Affan dan Zaid bin Haridsah yang menjadi sukses baik dalam perjuangan agama dan bangsa,” ujarnya.

 

Pemuda Islam, lanjut Hatta, harus dapat mencontoh idola umat Islam Rasulullah SAW yang meski terlahir menjadi yatim tapi secara psikologik dan fisik telah distruktur dengan baik. Bahkan pada usia 12 tahun, Rasulullah telah ikut bisnis internasional dan berpengalaman militer dalam perang. Kemudian di usia 25-35 tahun telah memiliki pengalaman sebagai kepala keluarga, pedagang, orang kaya, pemuka masyarakat dari berbagai aktivitas sosial.

 

Dikatakannya, saat ini potret pemuda Islam sudah jauh dari harapan karena mengalami krisis aqidah, pemahaman pelaksanaan ibadah, akhlaq dan moral, krisis pemahaman terhadap Al Qur’an serta krisis persatuan. Dimana tidak siapnya pemuda menghadapi tantangan di era globalisasi sehingga keimanan dalam diri menjadi terkikis dan membuat rasa nasionalisme kebangsaan ikut menurun.

 

Untuk itu, melalui penyuluhan ini, harap Hatta, pemuda Islam dapat berusaha untuk menjadi yang terbaik, dapat membuat skala prioritas, fokus, berfikir positif dan keseimbangan dalam hidup. “Peran pemuda Islam yakni harus dapat mendalami agama dari membaca al Qur’an, buku-buku Islam, berdakwah dan meningkatkan keterampilan,” pintanya.

Kabid Ketahanan Ekonomi Sosial Budaya dan Organisasi Kemasyarakatan Kota Medan Laksamana Putra Siregar. “Di dalam diri pemuda harus terus ditanamkan rasa cinta kebangsaan, pemahaman pada pilar negara yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI,” katanya.

 

Menurutnya, sekarang banyak contoh yang mengkhawatirkan pada generasi bangsa dengan menurunnya kesadaran pengibaran bendera Merah Putih pada hari-hari besar, tawuran antar pelajar, demo anarkis, penyalahgunaan narkoba, perpecahan dan pertikaian Masyarakat dan sering muncul nya gangguan yang bersifat SARA.

 

“Jadi yang perlu dilakukan dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yakni penanaman nilai nilai agama, persatuan dan kesatuan, keluhuran budaya dan penanaman nilai-nilai cinta dan bangga Indonesia,” imbuhnya.

Selain itu, kata Laksamana, peran tokoh agama dibutuhkan dalam pembangunan yakni peran edukasi yang mencakup dimensi kemanusiaan dan pembentukan karakter, memberikan pencerahan kepada masyarakat dalam suasana yang tidak menentu dan membangun suatu sistem budaya yang mencerminkan kemuliaan.

Sementara Ketua Komisi Ukhuwah dan Kerukunan Umat Beragama MUI Kota Medan Drs Burhanuddin Damanik MA, mengingatkan pada pemuda Islam untuk selalu menanamkan rasa persatuan dan kesatuan sehingga jika terjadi gejolak pada bangsa Indonesia akan ikut berjuang mengembalikan marwah bangsa Indonesia.

“Awalnya harus cintai agama, kemudian bangsa sehingga jika ada perbedaan tidak menjadi alasan untuk perpecahan dan tidak gampang di adu domba. Nasib bangsa ini berada di tangan pemuda yang merupakan generasi muda bangsa sehingga sudah seharusnya pemuda ditumbuhi terus rasa nasionalisme dan kebangsaan di dalam dirinya,” kata Burhanuddin.

Sebelumnya, Sekretaris Panitia Penyuluhan, Dra Hj Latifah Hanum MA mengatakan, tujuan penyuluhan untuk memberikan pemahaman tentang multikulturalisme melalui pendekatan bahasa agama kepada pelajar Islam di Kota Medan.
“Kegiatan ini juga membangun semangat kerjasama dari berbagai komponen pelajar dalam menghempang paham dan aliran yang akan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa untuk menjaga keutuhan NKRI melalui bingkai Ukhuwah Wathaniyah,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *