MUI: Ulama Harus Revitalisasi Dakwah Hadapi Tantangan Modernisasi

Menghadapi tantangan modernisasi saat ini, para ulama dituntut dapat merevitalisasi dakwah Islam dengan membangun konsep dan pendekatan baru. Sebab ukana harus semakin paham terhadap realitas kehidupan sasaran dakwah.

“Masyarakat semakin heterogen dan hidup dalam suasana beragam serta kehidupan semakin kompleks. Dengan begitu, tantangan dakwah pun bertambah berat baik secara internal dan eksternal,” ujar Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Prof DR H Muhammad Hatta dalam paparannya di acara Penguatan Dakwah di Pondok Pesantren (Ponpes) yang diselenggarakan Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Kota Medan, Sabtu (16/9) di kantor MUI Kota Medan.

Acara yang dihadiri puluhan peserta dari pimpinan  Ponpes di Kota Medan, Santri senior dan pegiat Ponpes serta pengurus MUI Kota Medan ini juga menghadirkan narasumber Pimpinan Pesantren Ar Raudlatul Hasanah, Drs KH Rasyidin MA dan Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Kota Medan,  DR Ir H Masri Sitanggang.

Dijelaskan Prof Hatta, tantangan dakwah secara internal yakni terjadinya pergeseran dakwah Islam dari asas dan pondasi yang telah dibangun nabi Muhammad SAW, serta menurunnya ghirah dakwah Islam dan hilangnya ketulusan dan terbatasnya wawasan dan metodologi yang terstruktur menghadapi situasi kondisi.
“Sedangkan tantangan eksternal munculnya faham materialisme, liberalisme, sekularisme dan kapitalisme global serta gerakan lain yang merasuk ke dalam wilayah kehidupan umat Islam,” ucapnya.

Seringkali, nilai kebenaran terabaikan karena pengaruh tantangan tersebut seperti politik uang dan godaan duniawi lainnya.
“Lihat saja kalau sudah mendekati Pemilu, tidak lagi yang menjadi patokan  keberadaan dari Allah dan Rasulullah. Tapi justru dari manusia sehingga gampang dipengaruhi dengan materi. Bahkan
kita bangga melakukan hal yang tidak benar,” imbuhnya.

Padahal, lanjut Prof Hatta, Al Qur’an dan Hadits tidak pernah mengajarkan yang tidak baik, karena setiap kebenaran itu datangnya dari Allah. Sehingga para ulama harus berani menyatakan kebenaran meskipun itu pahit bagi mereka yang tidak faham. “Berdakwah lah dengan kasih sayang dan kelembutan seperti yang disunnahkan Rasulullah untuk tujuan mendapatkan  kebahagiaan dunia dan akhirat,” katanya.

Sementara KH Rasyidin dalam materinya mengatakan, Ponpes merupakan sarana pendidikan yang turut serta dalam pengembangan dakwah Islam. Selain itu, ponps juga sebagai lembaga sosial menunjukkan keterlibatan Pesantren dalam menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
“Dari ponpes lah terlahirkan dai dan ulama yang telah dibekali setiap kemampuan baik agama,  pendekatan bahasa.  Untuk itu,  marilah kita menjaga dan mengembangkan pesantren sehingga syiar Agama Islam semakin luas untuk membawa manusia ke jalan yang benar sesuai Al Qur’an dan hadist Rasulullah,” katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Kota Medan, Zulkarnaen Sitanggang MA menjelaskan, acara tersebut untuk melahirkan para dai dari ponpes yang mampu menyiarkan agama Islam secara baik ke masyarakat sehingga tantangan di era modernisasi ini tidak mempengaruhi nilai-nilai agama di dalam diri umat.
“Dari ponpes ini lah muncul para dai yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan hidup,” tuturnya.

Teks: Ketua Umum MUI Kota Medan, Prof DR H Muhammad Hatta bersama Pimpinan Pesantren Ar Raudlatul Hasanah, Drs KH Rasyidin MA dan panitia dalam acara Penguatan Dakwah di Pondok Pesantren (Ponpes) yang diselenggarakan Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Kota Medan, Sabtu (16/9) di kantor MUI Kota Medan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *