MUI Medan: Lingkungan Masjid Harus Asri

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan memghimbau seluruh Badan Kenaziran Masjid (BKM) di Kota Medan dapat menjaga dan menciptakan lingkungan yang asri. Sebab, selama ini banyak lingkungan di masjid tidak diperhatikan baik oleh pemerintah.

“Lahan-lahan hijau berpotensi dikembangkan di areal masjid. Kalau lingkungan masjid itu asri dan bersih maka umat akan lebih suka berlama-lama di masjid (rumah Allah SWT) untuk beribadah dibandingkan rumahnya sendiri,” ujar Sekretaris Umum MUI Kota Medan, DR Syukri Albani Nasution saat membuka acara Penyuluhan Penataan Lingkungan Hidup Masjid se Kota Medan yang diselenggarakan Komisi Sosial dan Lingkungan Hidup MUI Kota Medan, sabtu (23/9) di aula kantor MUI Medan.

Menurutnya, kegiatan menjaga kelestarian lingkungan masjid juga menjadi spirit umat Islam memasuki Tahun Baru Muharram ini. Apalagi ditahun kerja 2017 telah ditetapkan semua kegiatan komisi di MUI Kota Medan harus berbasis kemasyarakatan dan keumatan, sebagai ikhtiar mendapatkan Rahmatan Lil ‘Alamin.
“Menjaga lingkungan itu hukumnya fardhu kifayah. Karena semua yang besifat sosial berkaitan juga dengan nilai-nilai ibadah,” katanya.

Acara yang dihadiri puluhan peserta mewakili BKM di Kota Medan dan pengurus MUI kecamatan se Kota Medan ini juga mendapatkan bibit pohon yang merupakan sumbangan dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura. Sedangkan yang berperan sebagai narasumber dalam kegiatan ini adalah Rektor Universitas Nahdatul Ulama Sumatera Utara (UNUSU) Prof DR Ir Ahmad Rafiqi Tantawi,MP, Wakil Ketua DMI Kota Medan, H. Bambang Irawan Hutasuhut dan Ketua Asosiasi Syariah Indonesia (APSI) Sumut, M Safi’i Sitepu.

Dalam paparannya, Prof. Rafiqi, menjelaskan, tumbuh-tumbuhan adalah punggung semua kehidupan di bumi dan sumber penting kesejahteraan manusia. Sehingga nilai tanaman itu harus dikampanyekan mulai di rumah, kantor, tempat ibadah, pemukiman, lingkungan perkotaan dan lingkungan global.

“Tanaman sebagai pembersih udara dengan meningkatkan kualitas dan tingkat kelembabannya. Bahkan tanaman telah terbukti menjaga tekanan darah rendah, menaikkan produktivitas serta meningkatkan kepuasan kerja,” ucapnya.

Ditambahkannya, akademis dan ilmuwan juga telah menetapkan tanaman dapat mengurangi stres, membuat orang lebih tenang dan bahagia, mempercepat pemulihan dari penyakit, meningkatkan konsentrasi, menyerap kebisingan dan mengurangi gejala ketidaknyamanan serta penyakit ringan.

“Kehidupan sehari-hari kita tergantung pada tanaman. Banyak sekarang percaya pada obat-obatan herbal. Tanaman sangat berharga dari berbagai hal. Jadi dengan bermacam tanaman dan manfaat nya, baiknya dapat dikembangkan disekitar areal masjid hingga lebih asri,” katanya.

Sementara Bambang Irawan Hutasuhut saat memaparkan materinya yang bertema Manajemen Kemasjidan menyatakan bahwa masjid bukan sekedar tempat sujud tetapi memiliki beragam fungsi sosial lainnya. Bahkan di zaman Rasulullah, masjid sebagai pusat pemerintahan, sentra pendidikan dan markas militer.

“Di era kebangkitan umat saat ini, peran masjid dapat ditingkatkan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan, perekonomian umat, penjaringan potensi umat dan pusat kepustakaan. Dengan fungsi-fungsi ini maka optimalisasi masjid harus segera dilakukan baik tingkat intensifikasi maupun ekstensifikasi,” tuturnya.

Dilanjutkan M Safi’i Sitepu dalam materinya Perawatan Kebersihan Lingkungan Masjid memaparkan, masjid adalah rumah Allah dan sudah sepatutnya umat Islam membangum masjid dengan baik, indah dan megah sehingga jamaah yang masuk ke dalamnya merasa nyanan dan damai serta dapat mendukung pelaksanaan ibadah dengan khusyuk.
“Merawat dan menjaga kebersihan masjid yang tidak bisa ditawar lagi karena kebersihan bagian dari iman juga masjid rumah Allah yang harus kita perhatikan perawatan dan kebersihan nya sehingga selalu makmur. Dan ini bukan menjadi tanggung BKM saja, tapi kewajiban seluruh umat Islam,” kata Ketua Harian Yayasan Haji Anif ini.

Sebelumnya, Ketua Panitia yang juga Ketua Komisi Komisi Sosial dan Lingkungan Hidup MUI Kota Medan, DR. H. Suherman MAg, melaporkan, penyuluhan tersebut diangkat melihat Kota Medan merupakan kota yang pesat perkembangannya termasuk pembangunan sehingga menghalangi perkembangan tata lingkungan yang asri.
“Tanaman itu sumber oksigen dan masjid-masjid tak pernah disentuh pengusaha ataupun pemerintah dalam kelestarian lingkungan. Padahal lahan-lahan hijau berpotensi dikembangkan di mesjid sebagai tempat berkumpulnya umat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *