MUI Medan Ajak Umat Islam Berwirausaha

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan menghimbau umat Islam berwirausaha untuk memperkuat perekonomian umat. Hal ini sebagai upaya agar perputaran ekonomi di Indonesia dapat berada ditengah-tengah umat Islam sehingga menjadi berkah.

Hal ini dikatakan Sekretatis Umum MUI Kota Medan Dr. M. Syukri Albani Nasution, saat membuka acara Penyuluhan Penguatan Pemahaman Ekonomi Praktis Bagi Para Da’i yang diselenggarakan Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Kota Medan, Rabu (4/10) di aula kantor MUI Kota Medan.

Hadir sebagai peserta pelaku usaha, mahasiswa dan pengurus MUI Kota Medan dengan narasumber Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Kota Medan, DR H Masri Sitanggang, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN-SU, Dr. Andri Soemitra, MA dan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN SU, Azhari Akmal Tarigan.

Dikatakan Syukri, kekuatan ekonomi umat ini sangat penting karena umat Islam harus bisa maju khususnya dalam hal ekonomi. Sehingga para da’i bisa dapat menyuruh umat “melek” terhadap berwirausaha untuk mensejahterakan ekonomi umat.

“Bukan artinya kita membenci produk lain di luar produksi non muslim, tapi kalau masih ada produk umat jadi kenapa pilih yang lain. Meski sering kali kita menilai produk lain lebih terkenal dibandingkan produk umat,” ucapnya.

Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Kota Medan, Dr. H. Masri Sitanggang, MP dalam materinya Memanfaatkan peran da’i dalam pemberdayaan ekonomi umat, memaparkan, saat ini budaya wirausaha belum terbangun dengan baik karena naluri berusaha yang tumpul. Bahkan tak sanggup menghadapi persaingan dan kebanyakan tidak memiliki visi bertarung dalam hal ekonomi.
“Nilai-nilai Islam tidak dijadikan acuan dalam berusaha. Bahkan tidak mau membuka jaringan atau kerjasama dengan pengusaha muslim lainnya,” ucapnya.

Namun memang disayangkan, akses ke lembaga keuangan masih sangat terbatas dan kebijakan pemerintah lebih berpihak kepada pengusaha besar (non muslim).

Untuk itu, lanjutkan dibutuhkan peran para dai memberi motivasi kuat kepada jemaah untuk menjadi pengusaha dan menanamkan aqidah yang benar dan kokoh serta memfasilitasi diskusi rutin tentang ekonomi.

Pemateri lainnya, Dr. Andri Soemitra memaparkan, berbagai sektor ekonomi strategis Indonesia dikuasai asing, seperti perbankan, pertambangan, otomotif, perkebunan dan lainnya. Bahkan 1% penduduk Indonesia (konglomerat dan lain-lain) menguasai 80% luas tanah Indonesia ditambah lagi investor dan perusahaan asing yang artinya penguasaan tanah mencapai 9%. Sisanya 7% itulah yang ditanami dan menjadi milik 250 juta rakyat Indonesia. Sehingga diperlukan untuk memperkuat perekonomian dalam mengatasi persoalan hidup.

“Dimana kegiatan wirausaha akan menunjang ekonomi pribadi, keluarga, dan pemerintah, baik industri dan perdagangan. Untuk umat Islam sendiri, masih banyak yang tidak memiliki jiwa berwirausaha, kalaupun ada masih mencari-cari jenis usahanya dan yang sudah berwirausaha tapi tidak tahu bagaimana mengembangkannya,” kata Andri.

Padahal berwirausaha tidak perlu ijazah dan pendidikan tinggi. Uang bukanlah faktor utama berwirausaha karena berwirausaha adalah perintah agama bagi Umat Islam. “Berusaha juga berjihad yang mengandung arti bekerja keras, berikhtiar dan mengusahakan sesuatu sekuat tenaga dan maksimal. Orang yang bekerja berhak masuk surga,” ucapnya.

Sementara Azhari Akmal Tarigan dalam materinya Peran Da’i Terhadap Penguatan Ekonomi Umat, memaparkan, dakwah harus mampu menjawab persoalan manusia kontemporer berupa kehampaan jiwa dan defisit spiritualitas. Meski ekonomi Islam tidak pernah menjadi main stream dakwah di Indonesia.
“Mengapa para Da’i tidak terlalu tertarik pada masalah-masalah Ekonomi Umat. Bisa saja karena tidak menguasai Materi yang berhubungan dengan masalah ekonomi, tidak menguasai Fikih Mu’amalat terutama Fikih Mu’amalat Kontemporer dan tidak siap dihujat Umat ketika dihadapkan dengan realitas ekonomi Islam saat ini yang masih banyak masalah,” ungkapnya.

Sehingga saat ini dibutuhkan dai muda yang mampu menguasai ekonomi Islam dengan baik dan menguasai tekhnologi informasi
“Seharusnya ekonomi Islam tumbuh dan besar.
Aktivitas Bisnis Syari’ah tidak dapat dimanfaatkan oleh umat Islam secara baik dan kebersamaan umat Islam dalam gerakan gerakan Islam tidak mewujud sepenuhnya dalam gerakan ekonomi. Marilah kita hijrah ekonomi dari sistem kapitalis menuju sistem Islam,” sarannya.

Sebelumnya Ketua Panitia penyuluhan yang juga Sekretaris Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Kota Medan, Zulparman Lubis, menjelaskan, penyuluhan yang menghadirikan tokoh ekonomi Sumut sebagai pemateri diharapkan dapat meningkatkan semangat umat Islam di Kota Medan untuk berwirausaha karena ini bagian dari jihad.
“Kita berharap juga acara ini dapat meningkatkan kemampuan para dai dalam memotivasi umat pentingnya berwirausaha,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *