Abu Bakar Bicara Kunci Kebahagiaan

H. Rahmat Hidayat Nasution Lc

Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan

Abu Bakar bertutur, “Ada tiga hal yang tidak tercapai dengan tiga hal. Pertama, kaya tidak dapat dicapai de­ngan khalayan. Kedua, kerejamaan tidak dapat dicapai dengan di­semir. Ketiga, sehat tidak dapat dicapai dengan obat-obatan semata.”

Apa yang dapat kita pahami dari ucapan Abu Bakar ini? Ucapan tersebut bukan semata-mata bicara kaya, bicara masa muda dan bicara masalah sehat semata. Ucapan ayah Aisyah tersebut menceritakan langkah-langkah yang dilakukan agar bisa meraih kebahagiaan dan keberhasilan. Kenapa penulis menilainya demikian? Banyak orang yang ingin berkhayal men­jadi kaya, banyak orang yang ingin kembali ke masa lalunya dan banyak orang yang ingin secara instan ketika minum obat langsung sembuh persis seperti iklan di televisi.

Abu Bakar menjelaskan ada tiga kunci keberhasilan dan kebaha­giaan. Pertama, kaya tidak dapat dicapai dengan khayalan. Mem­bayangkan keberhasilan yang ingin dicapai adalah sesuatu hal yang boleh. Tapi jika hanya memba­yang­kan atau berkhayal saja tanpa ada action atau tindakan adalah hal yang tidak boleh. Sebab dalam Islam dianjurkan buat kita untuk berusaha. Manusia dinilai berda­sarkan usahanya. Malah manusia dinilai berdosa setelah dia mela­kukan perbuatan atau usaha yang haram.

Karena itu, Abu Bakar mengi­ngatkan kita untuk bertindak atau action. Apa pun yang menjadi cita-cita kita harus dilakukan dengan usaha. Tak bisa hanya dengan ber­khayal saja. Islam sangat me­larang kita panjang angan-angan atau cita-cita terlalu tinggi tanpa ada action­nya. Kaya yang dimaksud bukan sekedar memiliki harta yang ba­nyak. Kaya, dalam ucapan Abu Ba­kar tersebut, adalah simbol keberhasilan. Tak akan pernah tercapai apa yang diinginkan, jika hanya dilakukan dengan berkhayal. Begitulah makna luas dari ucapan pertama Abu Bakar tersebut.

Kedua, keremajaan tidak dapat dicapai dengan disemir. Abu Bakar mengajarkan jangan pernah berpi­kir tentang masa lalu untuk tetap terus meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Kata ‘remaja’ dengan ‘disemir’ adalah konotasi terhadap orang yang gemar mengeluhkan keadaannya saat ini sehingga selalu berkata, “kenapa tidak bisa seperti dulu?”. Dulu, jualannya laris manis, tapi se­karang tidak bisa seperti itu lagi. Setiap kali ketemu dengan orang lain, keluhannya tak lepas dari seputar masalah betapa susahnya saat ini tidak seperti dulu. Ia selalu menceritakan keber­hasilan-ke­berhasilannya di masa lalu. Ini adalah perbuatan sia-sia. Sebab tak akan pernah merubah keadaan. Mau ‘disemir’ seperti apa pun kejadian di masa lalu dengan diceritakan ke orang-orang, tetap saja ‘keremajaan’ atau keber­hasilan yang pernah diraih tak akan kembali lagi.

Ini adalah hal yang umum terjadi di masyarakat. Ketika kita ketemu orang-orang yang lebih tua kerap dia berharap dengan masa lalunya yang bahagia. Ketika kita ketemu dengan orang-orang muda kerap berharap dengan masa lalunya yang bahagia. Di saat dia masih dibiayai oleh orang tuanya atau di saat orang tuanya masih hidup, apa pun yang diinginkannya pasti dikasi. Padahal, saat ini, ‘disemir’ seperti apa pun ceritanya tetap saja tak akan pernah kembali keba­hagiaan tersebut.

Ketiga, sehat tidak dapat dicapai dengan obat-obatan semata. Apa­kah Abu Bakar hanya bicara masalah sehat saja? Jawabannya, tidak. Abu Bakar sedang mengi­ngatkan kita bahwa untuk bisa sehat, kita juga butuh yang mem­berikan kesehatan. Yaitu, Allah. Mau se-paten apa pun obat yang diminum, tetap saja jika Allah belum berikan kesembuhan dan kesehatan tak akan pernah terjadi kesembuhan dan kesehatan.

Makna luas dari ucapan Abu Bakar tersebut adalah, jika Allah belum berkehendak agar kita bisa mencapai kesuksesan dan kebaha­giaan, maka apa yang diinginkan tak akan terjadi. Mau usaha seperti apa pun, jika Allah belum berke­hendak tak akan bisa meraih keberhasilan dan kebaha­giaan. Oleh karena itu, dibutuhkan ilmu tauhid dalam kehidupan ini. Apa yang dilakukan manusia tak begitu besar memberikan pe­ngaruh, jika Allah tidak mengi­zinkannya.

Makanya di dunia ini dibu­tuhkan sekali kedekatan dengan Allah SWT. Tujuannya, agar kita tidak gampang putus asa dan tidak gampang sombong. Dikatakan tidak gampang putus asa sebab mengetahui bahwa yang disuruh oleh Allah adalah berusaha. Untuk tahu kapan berhasil atau tidaknya, hanya Allah SWT yang tahu. Dikatakan tidak gampang som­bong lantaran tahu bahwa keber­hasilan yang diraih bukan sebab usaha yang dilakukan, tapi karena kasih sayang yang diberikan Allah SWT.

Sungguh luar biasa penilaian Abu Bakar tentang meraih keber­hasilan dan kebahagiaan. Kita tak akan bisa selamanya bahagia dan sukses, jika hanya kebanyakan mengkhayal. Kita tidak akan bisa selalu bahagia dan sukses, jika hanya selalu mengingat apa saja yang dirasakan indah di masa lalu. Dan kita tidak bakal bisa berhasil dan bahagia hanya dengan me­ngan­dalkan usaha-usaha yang dila­kukan. Kita butuh Allah SWT untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan.

Karena itu, peganglah ucapan Abu Bakar ini jika tak ingin kecewa. Isilah hari-hari kita dengan terus berusaha, memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebab Allah SWT menyuruh kita untuk mempersiapkan kehidupan kita di masa akan datang. Dia tidak pernah menyuruh kita untuk mengingat masa lalu, sekalipun gemilang. Allah SWT meme­rintahkan kita untuk menjadi pribadi yang optimis. Pribadi yang tak gampang menyerah, apalagi sampai menyalahkan Allah atas kejadian terburuk atau yang tidak disenangi terjadi pada diri kita. Semoga kita selalu bahagia dan sukses.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *