Tanda-Tanda Akhlak Yang Baik

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan

Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak. Artinya, kehadiran Rasulullah SAW untuk memperbaiki akhlak manusia. Sebagai manusia juga harus memahami, bagaimana yang dikatakan memiliki akhlak yang baik? Jika tidak ada barometernya, maka tak akan pernah sampai pada keinginan memiliki akhlak yang baik seperti Rasulullah SAW. Padahal, di dalam al-Quran, Allah SWT menyuruh kita untuk mengikutinya. Malah, sebab mengikuti Rasulullah SAW menjadikan kita sebagai orang yang dicinta-Nya. Allah Swt berfirman, “Katakanlah (Ya Muhammad) jika kamu ingin dicintai Allah, maka ikutilah aku. Niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31)

Adalah Umar bin Khaththab, sahabat Rasulullah SAW yang tegas pernah menyampaikan kepada para sahabatnya bahwa tanda seseorang memiliki akhlak yang baik ada tiga. Apa itu? Pertama, sikap sayang terhadap manusia adalah separuh kecerdasan. Kasih sayang dijadikan Umar sebagai barometer pertama karena sesuai dengan hakikat seorang Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang dikatakan sebagai muslim ketika dia mampu menyelamatkan muslim lainnya dari kejahatan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari) Kasih sayang seseorang akan terlihat, kita dia menggunakan lisannya dengan baik. Digunakan tangannya untuk menyelamatkan dan menolong orang.

Umumnya, perpecahan, permusuhan dan pertikaian terjadi karena lisan. Bahkan fitnah keji juga bersumber dari lisan. Makanya, Rasulullah SAW. sudah meberikan rambu-rambu dengan sabdanya, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, katakanlah yang baik. Jika tidak, lebih bagus diam” . (HR. Bukhari dan Muslim) Makanya, ketika lisan seseorang baik akan menunjukkan betapa budi pekerti atau akhlaknya juga baik. Bahkan, Allah SWT menjelaskan di dalam al-Quran, bahwa perkataan yang baik lebih bagus dari sedekah yang diiringi dengan mengungkit-ungkit apa yang sudah diberikan. (Baca QS. Al-Baqarah [2} 263)

Begitu juga dengan tangannya. Jika seseorang sudah memiliki akhlak yang baik, tangannya hanya akan dipergunakan untuk yang baik. Tangan yang diamanahkan Allah kepadanya hanya difungsikan untuk membantu dan menyelamatkan orang lain. Karenanya, tak salah bila Rasulullah menggolong selemah-lemahnya sedekah adalah ketika seseorang meminggirkan atau membuang segala yang mengganggu perjalanan orang lain, seperti batu. Rasulullah SAW bersabda, “Kamu menyingkirkan batu, duri, dan tulang di tengah jalan itu adalah sedekah bagimu.” (HR. Bukhari)

Sebentar lagi kita akan melakukan pemilihan kepala daerah. Jika kita ingin memilih pemimpin nantinya lihat dari tangan dan lisan yang digunakannya. Jika pemimpin yang dipilih tersebut seorang muslim yang memiliki akhlak yang baik, lisan dan tangannya hanya akan difungsikannya untuk yang baik. Pemimpin tersebut tak akan suka menyindir, mencaci ataupun memburukkan rivalnya dalam pemilihan kepala daerah. Pemimpin yang baik bisa dilihat dari penggunaan kata-kata yang keluar dari lisannya dan dari penggunaan tangan yang diamanahkan Allah kepadanya.

Kedua, pertanyaan yang baik adalah separuh ilmu. Tanda orang yang berakhlak yang baik akan selalu membentuk karakter dirinya untuk senantiasa bertanya terlebih dahulu. Apakah yang dilakukannya ini diridhai Allah atau tidak? Apakah yang dimakannya ini halal atau tidak? Apakah yang ibadah yang dikerjakannya selama ini sudah benar atau masih salah? Ketidaktahuannya akan membuatnya banyak bertanya. Bertanya bukan menunjukkan kelemahannya tapi menunjukkan bahwa ia memiliki akhlak yang baik. Sebab dia tidak ingin menjerumuskan dirinya ke lembah yang salah.

Selain itu, orang yang gemar bertanya tentang apa yang dilakukannya bagian dari mengamalkan hadis Rasulullah SAW, “Tanda bagusnya Islam seseorang ketika dia meninggalkan yang tidak bermanfaat.” Melakukan perbuatan yang salah adalah pekerjaan yang sia-sia. Sebab umur yang digunakan Allah tidak digunakan pada keadaan yang baik. Karena itu, gunakan ketidaktahuan kita untuk membuat kita menjadi orang yang bagus akhlak dengan bertanya kepada orang-orang yang ahli di bidangnya. Bukan Rasulullah SAW sudah mengingatkan kita dengan sabdanya, “Dekatilah para ulama dan dengarkanlah perkataan hukuma karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Allah menghidupkan tanah yang gersang dengan air hujan.”

Jadi, ketika kita memang tidak mengetahui apakah ini benar atau salah, tanyalah kepada orang yang tahu dan memahaminya. Terlebih lagi saat ini, cukup banyak orang yang menshare berita tanpa pernah bertanya terlebih dahulu, apakah berita atau informasi yang disebar tersebut sudah benar atau tidak? Padahal di dalam al-Quran, Allah SWT sudah mengingatkan, “Jika datang orang fasik membawa berita, maka tabayyun (cross check) terlebih dahulu.” (QS. Al-Hujarat: 6)

Begitu mudah kita mendapatkan informasi sebenarnya membuat kita semakin mudah berbuat dosa. Apa sebabnya? Karena tidak mau melakukan tabayyun terlebih dahulu. Sehingga awalnya kita tidak tergolong sebagai pemfitnah, tanpa disadari akhirnya kita tergolong di dalamnya. Karena itu, jika ingin memiliki akhlak yang baik, berhati-hatilah kita dalam menyebarkan informasi.

Ketiga, manajemen yang baik adalah separuh penghidupan. Seseorang yang memiliki akhlak yang baik pasti memiliki target dalam hidupnya. Ia tidak menjadikan hidupnya bagaikan air mengalir. Sebab air, meski memiliki kebaikan, tapi juga bisa membawa keburukan. Sebab air selalu tergantung pada alirannya. Karena itu, kita tidak boleh hidup seperti air mengalir. Ini cenderung pada kehidupan orang yang pasrah.

Islam adalah agama yang menunjuki penganutnya ke jalan yang lurus. Jalan lurus baru akan didapati ketika memiliki manajemen yang baik. Makanya, Allah SWT. mengingatkan kepada orang-orang yang beriman untuk memperhatikan hari esoknya. Dia berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan perhatikan hari esokmu.” (QS. Al-Hasyr 18). Hari esok tidak akan mengalami kebaikan bila tidak di manajemen dengan baik.

Bila kita perhatikan, perintah ibadah dalam Islam memiliki manajemen yang baik. Kapan masuk dan berakhirnya waktu shalat menunjukkan adanya manajemen waktu di dalam Islam. Adanya penentuan awal mulai puasa dan berakhirnya puasa, juga menunjukkan manajemen yang baik. Maka pantas bila Umar bin Khaththab mencetuskan, bahwa manajemen yang baik adalah separuh penghidupan.

Wallahualam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *