Jangan Jauhi Ulama

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan

Belakangan ini, ulama kerap menjadi perbincangan. Teristimewa lagi, pasca kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Banyak orang yang mencoba mencemooh para ulama dan insitusi tempat berkumpulnya para ulama (Baca; MUI). Seakan-akan tempat berkumpul para ahlulullah dianggap sebagai tempat kumpulnya orang yang mencari harta atau dunia. Anehnya, ini bertentangan dengan anjuran agama yang menyuruh untuk senantiasa mendekati ulama. Anjuran tersebut bersumber dari Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman, “Maka bertanyalah kepada ahlinya (orang-orang yang tahu atau pakar) jika kamu tidak mengetahui (keadaan sesuatu perkara).” (An-Nahl: 43) Rasulullah SAW bersabda, “Kalian harus bergaul dengan para ulama dan dengarkanlah perkataan ahli hikmah, karena Allah SWT. Menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah (ilmu yang bermanfaat), sebagaimana Dia menghidupkan tanah yang gersang dengan air hujan.

Kedua dalil ini menunjukkan keharusan bagi kita untuk selalu dekat dengan ulama. Pertanyaannya, siapa yang dimaksud dengan ulama? Di dalam kitab “Nasha-ihul Ibad” disebutkan, bahwa ulama terdiri atas tiga golongan. Pertama, ulama yang menguasai hukum-hukum Allah SWT. Ulama yang berada pada golongan ini banyak mengeluarkan fatwa yang terkait dengan masalah hukum. Kedua, ulama yang menguasai ilmu tentang Dzat Allah SWT (ilmu makrifat).

Kecenderungannya, ulama yang berada di golongan kedua ini disebut dengan hukama’ (ahli hikmah). Ulama pada golongan ini lebih konsetrasi pada perbaikan akhlak, baik buat dirinya ini sendiri maupun orang lain. Sehingga, hati hukama’ selalu bersinar dan jiwa meraka senantiasa tercurahkan oleh keagungan sifat Allah SWT. Ketiga, ulama yang mampu menguasai perana ulama yang menerbitkan fatwa dan hukama’ yang senantiasa menyinari hatinya dan orang lain. Ulama pada golongan ketiga ini disebut dengan kubara’.

Jika ulama adalah pembuat fatwa dalam masalah agama, apakah pantas lembaganya dianggap melakukan korupsi hingga sumber dananya (keuangannya) perlu diaudit? Jika lembaga ulama yang di dalamnya ada hukama’, yang tutur  katanya santun dan senantiasa memperbaiki akhlak dirinya dan orang lain, dianggap keliru dalam berbicara. Padahal, ucapan yang keluar dari lisan para ulama tersebut selalu memiliki pertimbangan, apakah ini mengandung kemanfaatan yang luar biasa bagi umat atau tidak.

Maka tak pantas bila dilakukan audit atas keuangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga pencabutan hak sertifikat halal yang selama ini menjadi tugas MUI. Bukankah tindakan pencabutkan hak sertifikat tersebut akan menambah keresahan publik ketika yang menetapkan kehalalan makanan dan produk lainnya bukan lagi dilakukan oleh para ulama? Bisa-bisa yang haram diberi label halal. Sebab, penentu kelabelan halal bukan lagi orang yang ahli agama.

Padahal, Rasulullah SAW sudah mengingatkan, ‘Bergaullah dengan kubara’, bertanyalah kepada ulama, dan bersahabatlah dengan hukama’(para tokoh yang bijak). Jika mulai menjauhi dan tidak mau berteman dengan ulama, Rasulullah SAW juga sudah mengingatkan, “Akan datang suatu masa, saat itu umatku lari dari para ulama dan fuqaha’(ahli hukum agama Islam), lalu Allah akan menimpakan kepada mereka cobaan berupa tiga musibah. Pertama, Allah akan mencabut keberkahan rezeki mereka. Kedua, Allah akan mengangkat penguasa zhalim untuk mereka. Ketiga, mereka akan keluar dari kehidupan dunia ( meninggal dalam kondisi tidak beriman).

Sungguh, tidak dapat diperkirakan seperti apa negara ini. Jika pemerintah sudah tak lagi percaya kepada ulama dan mengikuti apa yang diarahkan ulama. Sebab, apa yang dicetuskan ulama dari lisannya atau melalui organisasinya tentunya berdasarkan analisis dan pertimbangan yang cukup panjang. Jadi, bukan sekedar pengeluaran fatwa secara tiba-tiba ataupun membabi buta.

Para ulama dan cendikiawan yang bergabung di Majelis Ulama Indonesia kecil kemungkinan melakukan tindakan korupsi. Sebab, mereka sangat takut jika mati dalam kondisi tidak beriman kepada Allah SWT. Iman kepada Allah yang terpatri di dalam dada senantiasa menjadi harapan setiap pengurus MUI. Kalau boleh diilustrasikan, keinginan para ulama yang tergabung di dalam organisasi Majelis Ulama Indonesia tidak jauh berbeda dengan Hazim bin Walid ra. Meski dalam kesusahan dan kesakitan, tetap yang diinginkan adalah tetap iman di dada.

Di dalam kitab Al-mawaa’idz al-‘ushfuriyyah dimaktubkan cerita yang terjadi di majelis pengajian tafsir al-Qur’an yang diajar oleh Syeikh Ya’kub al-Kisa-‘i . Saat pengajian berlangsung, ada seorang yang bernama Hazim bin Walid jatuh sakit. Setelah dibawa ke dokter dan dilakukan pemeriksaan, dokter memutuskan bahwa Hazim tidaklah sakit. Sehingga sang dokter menyuruh keluarga Hazim untuk bertanya langsung. Sudah dimaklumi bahwa seseorang lebih mengetahui apa yang dirasakannya. Ketika ditanya, Hazim menjawab, “Aku memang tidak mengidap penyakit biasa. Sebab, penyakit yang kurasakan adalah takut kepada Allah SWT, takut kepada hari pengadilan dan pengitungan amal, dan takut kehilangan iman sehingga siap menerima siksaan apa pun. Agama mengajarkan kepadaku, ‘meningggalkan dunia ini dengan membawa iman, maka tempat kembalinya adalah surga.”

Tak heran, bila para ulama tidak pernah takut dengan beragam penyiksaaan. Fitnah yang dilancarkan kepada mereka dianggap sebagai ‘suara jangkrik’. Sebab, Allah SWT akan memelihara mereka. Karena itu, tak pantas bila kita menjauhi  ulama. Tak pantas bila kita mencurigai organisasi para ulama. Sebab apa yang dicetuskan para ulama melalui organisasinya tak luput dari kesepakatan bersama yang dilakukan. Karena itu, jangan pernah jauhi ulama. Dekatilah selalu. Tanyakan hukum tentang halal dan haram jika tidak tahu, agar tidak tersesat saat menempuh perjalanan kehidupan yang dilalui ini. Semoga kita tergolong sebagai orang yang mencintai ulama. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *