Menyoal Hakikat Kehidupan

H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan

 

Dikisahkan, Ibrahim bin Adham adalah keturunan orang terpandang. Ayahnya dikenal sebagai orang kaya raya, memiliki banyak pembantu, banyak kenderaan dan harta yang melimpah ruah. Keseharian Ibrahim bin Adham selalu dihabiskannya dengan bersenang-senang dan menghibur diri. Hinga suatu hari saat ia sedang berburu dihutan, terdengarnya firman Allah Swt,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakanmu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami.” (QS. Al-Mukminun: 115)

Bak disambar petir, Ibrahim bin Adham tersentak. Ia terdiam. Ia tersadar seakan-akan ayat itu mengingatkan apa yang telah dilakukannya selama ini, yang lebih banyak main-main dalam menjalani hidup. Padahal hidup adalah pertaruhan. Jika tidak mendapatkan kebahagiaan tak tertandingi, bakal mendapatkan kesengsaraan yang tak terperi. Hasilnya, bakal diketahui setelah dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Sejak tersadar saat itu, Ibrahim bin Adham pun menjalani kehidupannya dengan sebaik-baiknya. Hingga tercatat dalam catatan para saksi sejarah bahwa ia adalah seorang ahli ibadah dan ahli ilmu yang bukan main.

Apa Hakikat Hidup Kita Sebenarnya?

Bagaimana dengan kita ketika membaca dan mendengar ayat tersebut? Apakah diri kita tersentak bagaikan yang dirasakan Ibrahim bin Adham? Ataukah kita merasa ayat tersebut tak pernah kita dengar? Meski tak mampu kita menjawabnya, tapi lisaanul haal menjadi bukti, bahwa kebanyakan kita menganggap hidup ini sebagai hal yang iseng-iseng dan main-main. Aktivitas kita hanya lebih sering disibukkan dengan tidur, makan, mencari makan dan mencari hiburan. Seakan-akan hanya untuk itu kita dihidupkan.

Ayat yang didengar Ibrahim bin Adham juga menjadi peringatan bagi kita yang tidak serius menjalani misa hidup ini dengan sesungguhnya. Huruf Istifham yang terdapat di dalam kata afahasibtum (maka apakah kamu kira) di dalam kajian ilmu tafsir dan ilmu balaghah disebut dengan istifham inkari. Istifham seperti ini memiliki posisi bahwa kata tanya yang terdapat di dalam kata tersebut dimaksudkan sebagai sanggahan.

Sehingga bila dimaknai dengan lebih jelas, sangka kalian bahwa Kami menciptakan kalian hanya untuk iseng, main-main atau kebetulan itu sama sekali tidak benar. Dan kalian sangka, bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami. Sungguh, itu adalah keliru.

Di dalam ayat yang lain, Allah SWT sudah mengingatkan kita bahwa Dia tidak akan membiarkan kita hidup melenggang begitu saja, bebas berbuat, menghabiskankan umur, lalu mati. Dia berfirman,

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36)

Bila kita hidup tak tahu untuk apa diciptakan. Tak akan pernah kita memiliki patokan hidup. Inilah hidup yang sungguh sangat berbahaya. Tahu ada pertanggungjawaban dari Allah, tapi tak tahu apa yang mesti diperbuat. Bisa-bisa yang menjadi guide hidup kita dua hal. Pertama, hawa nafsu. Bila guide kita hawa nafsu, maka yang kita lakukan dan kita jalani dalam kehidupan hanya yang sesuai dengan petunjuk nafsu. Apa yang diingikannya, itulah yang kita lakukan. Ke mana arah nafsu, ke situ pula kita berjalan. Padahal, kita paham bahwa nafsu cenderung berjalan ke arah yang bengkok dan berpotensi ke arah kesesatan.

Kedua, Setan. Ketika kita tidak pernah aktif mencari petunjuk Allah SWT sebagai rambu-rambu jalan, setan bakal menawarkan peta perjalanan. Padahal peta perjalanan setan tak pernah memiliki kompas yang dapat dipertanggungjawabkan. Akhirnya membimbing kita pada kesalahan melanggarkan marka jalan yang diridhai Allah dan menempuh jalan yang sesat. Sehingga kita akhirnya terperi di dalam kesengsaraan, sebab digiring menuju neraka yang memiliki api menyala-nyala. Allah SWT berfirman,

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penguni neraka yang (apinya) menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Misi Hidup Kita adalah Ibadah Kepada-Nya

Sudah jamak kita ketahui, bahwa di dalam al-Quran sudah dijelaskan misi kita diciptakan Allah adalah beribadah kepada-Nya. Misi yang sangat agung tersebut harus menjadi poin utama dalam kehidupan kita. Dalam menjalani misi tersebut, kita juga diberi masa jatuh tempo atau masa tenggat waktu yang sangat terbatas. Kelak, kita akan mempertanggjungjawabkan segala perilaku kita di dunia, adakah kita gunakan kesempatan itu sesuai dengan misi yang diemban? Ataukah sebaliknya; lembar catatan amal kita dipenuhi dengan aktivitas yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang diperintahkan?

Di hari di mana kita dinilai berdasarkan kinerja kita di dunia ini, tak ada satu episode pun dari kehidupan kita yang tersembunyi dari Allah. Malah semuanya tercatat dengan detil dan terperinci, hingga kita pun nantinya terperanjat keheranan, bagaimana ada catatan yang sedetail ini, lalu kita berkata seperti apa yang dijelaskan Allah di dalam al-Quran,

…يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ …

“…Aduhai celakanya kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis)…” (QS. Al-Kahfi: 49)

Sebelum masa itu datang, mari kita bangun motivasi ibadah kepada-Nya, untuk menjadikan hidup kita benar-benar berarti. Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa membantu kita untuk membangkitkan semangat ibadah dan menjalani misi hidup kita sesuai dengan apa yang ditugaskan Allah, rabb al-izzah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *