Memahami Mimpi Sebagai Isyarat Ilahiyyah

Buku : Menguak Keajaiban Mimpi

Penulis : Muhammad Luthfi Ghazali

Penerbit : Abshor, Semarang

Tahun Terbit : 2017

Halaman : 178 halaman

Peresensi       : H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc / Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan

Jangan baca buku ini, jika tidak suka thariqoh atau alergi dengan thariqoh. Sebab, penulis buku ini mengklaim, bahwa mimpi baru dapat diklaim sebagai isyarat ilahiyyah ketika sudah mampu menjalani tingkatan-tingkatan mujahadah dan riyadhoh di jalan Allah. Makanya, ditandaskannya dengan tegas, bahwa mempalajari ilmu takwil mimpi tidak bisa dengan membaca buku atau lewat dengan ceramah saja. Sebab, ilmu takwil mimpi adalah bagian dari ilmu laduniyyah rabbaniyyah.

Karena itu, ketika ingin membaca buku ini, sangat disarankan, menyiapkan diri menjadi gelas kosong. Baca saja terlebih dahulu isi bukunya hingga selesai, baru kemudian dikritisi. Apakah yang disampaikan penulis buku ini dapat diterima menurut akal sehat atau tidak? Penulis tidak hanya mengungkapkan apa yang dipahami, dipelajari dan dipraktikkannya saja. Tapi, penulis juga mengkaji apa yang dituliskannya berdasarkan kisah-kisah para nabi Allah yang mengalami mimpi dan diceritakan mimpinya di dalam al-Quran. Artinya, buku ini dapat diklaim sebagai salah satu buku thariqah yang bernuansa ilmiah. Awalnya harus menerima terlebih dahulu, baru secara holistik baru kemudian dikritisi berdasarkan ayat-ayat Allah di dalam Quran sekaligus penafsiran para ulama tentang hal tersebut.

Misalnya saja kisah mimpi dua sahabat Nabi Yusuf as. saat di dalam penjara yang dimaktubkan Allah di dalam al-Quran, “Hai kedua penghuni penjara, “Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum taunnya dengan khamar. Adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung akan memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara kamu berdua menanyakannya (kepadaku).” (QS. Yusuf: 41),  Meski kedua teman nabi Yusuf tersebut pura-pura mimpi alias tidak melihat apa pun dalam mimpinya, tapi Nabi Yusuf dapat menakwilkan mimpi keduanya. Yaitu, yang satu menjadi pelayan raja tiga hari setelah mimpi tersebut diceritakan, dan satunya lagi ada roti di atas kepalanya saat ia sedang disalib, kemudian burung akan memakannya di atas kepalanya. (hal. 102)

Nabi Yusuf as bisa mentakwil mimpi bukan dengan cara belajar atau membaca buku. Tapi, Nabi Yusuf as mendapatkan ilmu tersebut dari Allah SWT berkat mujahadahnya dalam ibadah kepada Allah SWT. Meski mimpi yang diucapkan kedua teman Nabi Yusuf as tersebut hanya pura-pura, tapi karena sudah ditakwilkan akhirnya menjadi kenyataan. Hal ini diamini oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Mimpi yang dialami seseorang masih merupakan ramalan baginya selagi belum diungkapkan tabirnya. Jika tabirnya sudah diungkapkan, maka akan menjadi kenyataan baginya.” (hal: 103)

Apakah semua mimpi harus ditakwilkan kepada ahli takwil mimpi? Ternyata, tidak juga. Jika mimpi tersebut sifatnya sangat sederhana, maka bisa diredaksikan sendiri agar bisa menjadi nyata. Misalnya mimpi mengendarai mobil. Jika mimpi tersebut masuk ke dalam perasaan, seperti kejadian yang sesungguhnya, bukan seperti orang mimpi, itu merupakan tanda-tanda mimpi benar. Makanya mimpi tersebut harus diceritakan kepada orang lain agar menjadi nyata. Sedangkan orang yang mimpi juga harus yakin bahwa ia akan memiliki mobil. (hal. 149-150)

Makanya, dalam meredaksikan mimpi secara sederhana penulis menganjurkan untuk melakukan empat hal. Yaitu, harus mempersepsikan dan menjadikannya sebagai sugesti; perilaku dan karakter pasca mimpi harus sesuai dengan apa yang dimimpikannya; perbanyak zikir dan shadaqoh; dan dalam bekerja harus mempunyai adab.

Buku ini benar-benar sangat layak dibaca oleh orang-orang yang sudah memiliki thariqoh atau sedang mendalami dunia thariqoh. Harapannya, agar saat nanti mempraktikkan zikir tidak salah paham memahami isyarat-isyarat yang muncul. Tidak selamanya juga mimpi-mimpi besar bisa menjadi isyarat ilahiyyah, kecuali setelah mendapatkan penjelasan dari mursyid atau ahli takwil. Karena itu, pelajari thariqoh dan lakukanlah riyadhoh dan mujahadahnya, insya Allah bila bermimpi bisa memahami maksudnya dengan baik. Paling tidak, selalu mendapatkan ilmu laduni dari Allah SWT. Selamat membaca!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *