Prinsip Islam dalam Memilih Pemimpin

Dr. M. Syukri Albani Nasution, MA
Sekretaris Umum MUI Kota Medan

 

Islam mengatur secara konkrit bagaimana menjalani kekuasaan dan amanah sebagai pemimpin. Allah SWT dalam Al Qur’an, banyak menegur manusia untuk berprilaku adil dalam setiap kebijakan dan amanah yang sedang di embannya seperti yang tertuang dalam Q.S An Nisa’ ayat 135 “

…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا

wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah kamu orang-orang yang benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah SWT biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu, jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya”.

Nilai keadilan harus senantiasa menjadi tonggak dasar setiap orang dalam menjalani amanah dan kekuasaan yang sedang diembannya.

Prinsip-prinsip Kekuasaan dalam Alquran

Dalam Alquran ada beberapa prinsip yang ditegaskan terkait dengan amanah dan kekuasaan. Pertama, prinsip kedudukan manusia di bumi (dikutip dari buku Etika Politik Qurani; DR. Muhammad Iqbal, M.Ag)

Pertama, prinsip kedudukan manusia di bumi. Hal ini ditegaskan dalam Alquran Surat Albaqarah ayat 2 “ bahwa manusia di utus ke muka bumi ini untuk menjadi seorangh khalifah” hal ini juga ditegaskan dalam QS Shad ayat 26 “ ya dawuda inna ja alnaka khalifatan fi al-ardh”. Khalifah dalam hal ini adalah pengganti dari yang sudahnya, meskipun ada perbedaan pendapat ulama tentang memahaminya, ada yang mengatakan pengganti nabi untuk menegakkan kebenaran, dan pengganti Tuhan di bumi untuk menegakkan kebenaran.

Manusia ketika hendak menjadi pemimpin di dunia, harus benar benar menyadari apa  kedudukannya dan fungsinya di dunia ini. Hal ini tentunya berkaitan dengan nilai-nilai ketauhidan yang harus menyadari bahwa diatas kepemimpinan diri ada yang lebih memimpin dan menguasai, yaitu Allah SWT. Proses penyadaran diri terhadap fungsi dan kedudukan ini akan menghingkan rasa tinggi hati, curang, merasa kuat dan menghandarkan diri dari segenap kebijakan yang sifatnya diskriminatif terhadap kebutuhan rakyat banyak.

Kedua, prinsip kekuasaan sebagai amanah. Pemimpin yang ideal sesungguhnya mengawali kepemimpinannya dari keinginan masyarakat luas untuk menjadikannya sebagai pemimpin sebab telah mengetahui sejauh mana kapabilitasnya jika orang tersebut menjadi pemimpin. Optimisme untuk menjadi seorang pemimpin harus didasari dari prinsip amanah dan tanggung jawab. Kepemimpinan yang dipikul adalah sebuah tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan secara sempurna dihadapan masyarakat.

Ketiga, prinsip penegakan keadilan. Seorang pemimpin kedepannya harus benar benar yang memiliki I’tikad dan program kerja yang adil dan memberikan keadilan. Tidak diskriminatif dan menjalankan amanat Undang undang yang berlaku. Miskin, kaya. Pejabat dan masyarakat biasa bukan menjadi ukuran dalam bertindak dan memutuskan perkara. Pemimpin yang tidak “ mempelintir “ nilai keadilan munurut kehendak hatinya. Namun keadilan yang memang dimaksud dalam nilai nilai keislaman.

Keempat, Prinsip Amar ma’ruf nahyi munkar. Seorang pemimpin harus konsisten terhadap nilai amar ma’ruf nahyi munkar. Tidak menyeleweng untuk mengkondisionalkan bagaimana tipologi amar ma’ruf menurut kehendak hatinya. Namun tetap mengukur amar ma’ruf dari nilai nilai yang tertuang dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Kelima, prinsip profesionalisme,akuntabilitas dalam pengisian jabatan pemerintahan. Seorang pemimpin harus mampu memilih rekan kerjanya dengan benar benar melihat fungsi dan kepabilitasnya. Tidak nepotisme tanpa keahlian dalam bidang-bidang tertentu. Dan tidak pula otoriter dalam menentukan kebijakan. Seorang pemimpin harus mampu agresif dan efektif dalam menentukan kebijakan yang akan dilakukan. (prinsip ke dua sampai ke lima dikutip dari buku Fiqh Siyasah yang ditulis oleh DR. Muhammad Iqbal, M.Ag)

Setidaknya ada 5 prinsip penting dari banyak prinsip yang harus dikedepankan untuk menjadi seorang pemimpin yang seudang dimanahi sebuah kekuasan. Pemimpin tidak hanya orang yang diberikan jabatan hebat, seorang pemimpin adalah setiap orang yang sedang dimanahkan kepada dirinya sebuah tugas, dan dengan amanah tersebut dia berlaku profesionalisme dengan mengedepankan prinsip kebenaran, keadilan dan objektivitas.

Pondasi-pondasi tersebut harus menjadi benteng bagi semua orang yang nantinya mendapat amanah dari rakyat untuk memperbaiki bangsa ini, baik di legislatif, yudikatif maupun eksekutif. Allah Maha Melihat atas apa yang dikerjakan manusia. Dan Allah akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang sudah dilakukan. Jika semua pemimpin bangsa ini menjadikan kepemimpinan dan kekuasaannmya sebagai amanah, dan menjadikan diri sebagai khadimul ummah, maka tak aka nada penyelewengan yang sengaja dilakukan juga atas nama bangsa ini. Kita berdoa semoga bangsa ini menjadi lebih baik lagi kedepannya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *