Golongan Yang Tidak Mendapat Waris

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb

“Yang terhormat Al Ustadz, Kami Jama’ah dari Masjid Al Hidayah Jl. Bromo Ujung mohon penjelasan tentang Golongan Orang-Orang yang Tidak Mendapat Harta Warisan. Atas penjelasan Ustadz, kami ucapkan terima kasih.”

Wasamu’alaikum,Wr. Wb

Jawaban:

Wa’alaikumsalam Wr. Wb

Terima kasih kepada Jamaah Masjid Al Hidayah Bromo Ujung untuk pertanyaan tentang golongan orang-orang yang terhalang mendapat warisan. Menurut ulama faraidh, orang-orang yang terhalang mendapatkan warisan (Mawani’ Al-Irs) adalah suatu keadaan atau sifat yang menyebabkan seseorang tidak dapat menerima warisan, meski sudah cukup syarat dan ada hubungan pewarisan. Artinya, pada awalnya seseorang sudah berhak mendapat warisan, karena keadaan tertentu berakibat dia tidak mendapat harta warisan.

Ada 11 golongan yang terhalang mendapat warisan yaitu: Pertama, budak atau hamba sahaya. Mereka tidak mendapatkan harta warisan dari tuannya. Sesuai dengan firman Allah SWT di dalam surah An Nahl ayat 75. Kedua, pembunuh. Sebagaimana Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda, Pembunuh tidaklah memperoleh harta waris”. (HR.Bukhari 2/838, Turmudzi 3/288). Sebagai contoh anak yang membunuh orang tuanya atau sebaliknya orang tua yang membunuh anaknya. Ketiga, berlainan agama (Ikhtilafuddin). Sebagaimana dari Usamah bin Zaid ra. berkata sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh orang muslim mewarisi harta orang kafir, dan tidak boleh orang kafir mewarisi harta orang muslim. (HR.Bukhari 6/2484).

Keempat, murtad. Murtad adalah seseorang pindah agama atau keluar dari agama Islam. Disebabkan tindakan murtadnya tersebut, maka seseorang batal dan kehilangan hak warisnya. Berdasarkan hadits Rasulullah SAW riwayat Abu Bardah, menceritakan bahwa saya telah diutus oleh Rasulullah SAW kepada seorang laki-laki yang kawin dengan istri bapaknya. Rasulullah menyuruh supaya dibunuh laki-laki tersebut dan membagi hartanya sebagai harta rampasan karena ia murtad (berpaling dari agama Islam).

Kelima, hilang tanpa berita. Karena seseorang hilang tanpa berita, tak diketahui di mana alamat dan tempat tinggalnya selama 4 tahun atau lebih, maka orang tersebut dianggap mati. Hukum mati dengan sendirinya tidak mewarisi dan menyatakan mati tersebut harus dengan putusan hakim. Keenam, talak raj’I yang telah habis masa iddahnya (Al Muthallaqah  Raj’iah). Ketujuh, talak 3 (Al Muthallaqah Al Bainah). Isteri yang ditalak 3, otomatis putus pernikahan mereka tanpa ada masa iddah. Kedelapan, anak angkat (Al laqit). Kesembilan, Ayah Tiri, Ibu Tiri dan Anak Tiri. Kesepuluh, anak Li’an (Auladul Li’an). Kesebelas, anak Yang Lahir dari Hasil Perzinahan (Auladuz Zina). Alasannya, karena anak yang mendapatkan harta waris ialah anak senasab atau satu darah yang lahir dari pernikahan syar’i. (Al Fiqhul Islami Wa Adillatih 8/256). Wallahua’lambishawab.

Wa’alaikumsalam Wr. Wb

Penulis: Drs. H. Legimin Syukri (Sekretaris Komisi Hukum dan Perundang-Undangan MUI Kota Medan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *