Hukum Menyembunyikan Orang Tua Kandung dari Anak Angkat

Pertanyaan:

“Yang terhormat Al Ustadz, Kami Jama’ah dari Komp. Perisai Pribumi Medan Denai mohon penjelasan tentang Hukum Menyembunyikan Orang Tua dari Anak Angkat. Atas penjelasan Ustadz, kami ucapkan terima kasih.”

Jawaban:

Terima kasih kepada Jamaah Komp. Perisai Pribumi Medan Denai untuk pertanyaannya. Kita tidak boleh mengingkari keturunan kita sendiri, begitu pula kita tidak boleh mengakui anak orang lain sebagai anak kita sendiri.

Pada zaman sekarang ini, sedang tren mengadopsi anak disebabkan belum dikaruniai keturunan. Namun caranya tidak sesuai dengan ajaran syariat Islam. Mereka selalu menyembunyikan orang tua dari anak yang diangkat. Hal ini bertentangan dengan sunnah Nabi. Yang mana Nabi Muhammad SAW. pernah memiliki anak angkat yaitu anak angkat dari istri Nabi, Siti Khadijah. Sebelum Siti Khadijah menikah kepada Nabi, Siti Khadijah telah mempunyai anak angkat yang bernama Zaid. Setelah Siti Khadijah menikah kepada Nabi Muhammad SAW. otomatis anak angkat Siti Khadijah menjadi anak angkat Nabi. Sehingga nama belakang anak angkat digantikan dengan nama Nabi Muhammad. Yang seharusnya namanya Zaid bin Haritsah menjadi Zaid bin Muhammad. Kemudian turun ayat Alquran yang melarang meletakkan nama orang tua angkat di belakang nama anak angkatnya. firman Allah dalam surah Al-Ahzab: 40

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Jika anak angkat itu tidak diketahui orang tua kandungya, dalam ajaran agama kita, maka gunakanlah nama belakangnya Abdullah, artinya anak Hamba Allah. Misal, Zaid bin Abdullah. Dan jika kita tidak tau asal usulnya, anggaplah dia saudaramu seagama. Yang demikian itu lebih mendekati keadilan. Sebagaimana firman Allah Surah Al Ahzab ayat 4. Artinya:

مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُ اللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ ۚ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْ أَبْنَاءَكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ ۖ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).”

Maka dari itu haramlah orang tua angkat menyembunyikan nasab anak angkatnya.

Wallahu a’lam bish showab.

Penulis; Drs. H. Legimin Syukri (Sekertarisi Komisi Hukum dan Perungdang-undangan MUI Kota Medan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *