HUKUM MENCIUM AL-QUR’AN

Prof. Dr. H. Mohd. Hatta
Ketua Umum MUI Kota Medan

Tanya:

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Pak Ustadz yang saya hormati. Setiap kali saat akan memulai dan sesudah selesai tadarusan di masjid dekat rumah saya, ada seorang kakek mencium al-Qur’an yang dibacanya. Aktivitas kakek tersebut menjadi pertanyaan dalam diri saya. Apakah boleh kita mencium al-Qur’an? Bisakah ustadz menjelaskan hukumnya? Terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb

(Irfan, Medan Amplas)

Jawab

:

Wa’alaikumsalam Wr. Wb

Terima kasih Pak Irfan atas pertanyaannya. Secara umum, para ulama mensunnahkan atau menganjurkan untuk mencium mushaf. Hal ini juga dijelaskan di dalam kitab al-Itqan, kitab ulumul qur’an karangan Imam Suyuthi. Mencium mushaf dianjurkan dengan dalil bahwa Ikrimah bin Abi Jahal mencium mushaf. Selain itu, tujuan mencium mushaf adalah untuk mengagungkan dan memulikian al-Qur’an. Hal ini dianalogikan dengan mencium Hajar Aswad sebagaimana ungkapan Umar bin Khaththab, Kalau bukan karena Rasulullah mencium engkau wahai batu hitam, niscaya tidakan akan aku menciummu.”

Meski demikian, tetap ada yang menilainya sebagai perbuatan bid’ah. Yaitu, Syeikh Albani. Dengan dalil tidak pernah dilakukan Rasulullah. Tapi menurut saya, mencium al-Qur’an tidaklah bid’ah. Karena tujuan kita adalah untuk memuliakannya. Harapannya, kita nanti tidak hanya menciumnya saja, tapi mampu mengamalkan apa yang diinformasikan Al-Qur’an.

Dengan seringnya kita mencium al-Qur’an tentu kita akan sering membacanya. Sebab, kita baru mencium al-Qur’an di saat kita akan atau setelah membacanya. Semoga juga kita akan mencium al-Qur’an di saat kita mendapatkan informasi atau hal-hal yang bisa kita aplikasikan di dalam hidup kita. Sehingga dengan harapan ini kita bisa mengaplikasikan pesan al-Qur’an bahwa al-Qur’an dihadirkan Allah untuk membimbing kita ke jalan yang lurus. Allah SWT berfirman:

قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا

“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik.” (QS. Al-Kahfi: 2)

Semoga kita bisa lebih sering memuliakan al-Qur’an. Meski awalnya dimulai dengan menciumnya, tapi harapannya ke depan kita bisa mengaplikasikan pesan-pesan atau informasi yang disampaikan al-Qur’an dalam kehidupan kita. Wallahua’alam bish shawaab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *