Pengurus MUI Medan Terbitkan Buku Seputar Ibadah Wanita Saat Haid

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan kembali menerima buku dari penulis yang juga pengurus MUI Kota Medan, Rahmat Hidayat Nasution. Buku berjudul “Meski Haid Ibadah Nggak Boleh Berhenti” ini diserahkan kepada Ketua MUI Kota Medan yang diwakili Ketua Komisi Infokom MUI Medan, Ali Murthado, Sabtu (3/11) di aula kantor MUI Kota Medan Jalan Nusantara No.3 Medan.

Dikatakan Ali Murthado, buku yang baru ditertibkan ini sangat bermanfaat khususnya untuk perempuan karena di dalam buku dibahas haid menurut Islam, larangan ibadah saat haid serta amalan-amalan yang boleh dilakukan selama haid. “Kita memberi apresiasi untuk buku ini dan semoga menjadi penyemangat bagi pengurus MUI Medan lainnya untuk menulis buku. Karena berdakwah tidak hanya bisa dilakukan secara lisan tapi juga harus dengan tulisan hingga sasaran dari isi dakwah bisa lebih luas,” ujarnya.

Ditambahkan Ali, banyak para ulama mampu berceramah dengan isi dakwah yang sangat menggugah. Tapi karena hanya disampaikan secara lisan, maka sering pesan yang disampaikan lewat dakwah tersebut mudah terlupakan.

“Beda jika dakwah itu juga disampaikan melalui tulisan, maka akan bisa bertahan dengan waktu yang lama, seperti ajaran Allah yang dituliskan pada ayat-ayat Al Quran. Apalagi banyak  orang yang terkenal karena mereka menulis. Setiap orang pasti punya sesuatu yang ingin dibagi, maka bagilah dengan bercerita atau menuliskan cerita tersebut agar orang bisa membacanya,” katanya.

Sementara Rahmat Hidayat Nasution mengungkapkan, buku Meski Haid Ibadah Nggak Boleh Berhenti merupakan buku kedua yang ditertibkannya membahas tentang wanita. Hal ini karena melihat banyak hal-hal seputar wanita yang jarang dibahas padahal belum banyak difahami oleh wanita itu sendiri.

“Kalau buku tentang haid ini merupakan jawaban dari banyak pertanyaan jamaah saat mengisi pengajian, yang saya jelaskan dari kitab-kitab fiqih. Karena seringkali wanita tidak bisa membedakan kapan dia boleh meninggalkan ibadah shalatnya. Jadi dalam buku ini saya paparkan semuanya,” kata Rahmat.

Buku berisi 144 halaman ini, lanjut Rahmat yang juga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumut, tidak hanya mengupas seputar haid tapi juga persiapan menghadapi haid dan menjaga kesehatan tubuh saat haid serta contoh-contoh kasus yang berhubungan antara wanita dan haid seperti jika wanita selesai haid, waktu shalat yang ada masih cukup untuk mandi (bersuci dari hadas besar) dan melakukan shalat, tapi ia teledor dengan memperlambatnya atau merasa tanggung karena sebentar lagi juga masuk waktu shalat berikutnya,  maka ia harus mengqadha shalat yang ditinggalkannya (menurut mazhab Imam Syafi’i). Jika tidak diqadha, maka berdosa besar disebabkan meninggalkan shalat fardhu.

“Alhamdulillah buku ini bisa dibeli disitus belanja online dan reseller kami dengan harga yang sangat terjangkau sekitar Rp 55 ribu. Buku ini juga merupakan buku kesembilan yang sudah saya tulis dan berharap isi nya dapat memberi ilmu serta pengetahuan bagi pembacanya,” tutur Rahmat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *